BAD WIFE

BAD WIFE
KETAHUAN



"Tunggu, kenapa tadi Rico meeting bisa lebih cepat. Terus kenapa meeting dialihkan di ruangan lain, diwakilkan oleh Erwin lagi?" cetus Hanum yang masih mode mendengarkan Rico bicara.


Begini semuanya! setelah semua di kroscek. Masih dalam pembahasan kemarin, rapat hari ini kita tunda menjadi esok pagi. Untuk saat ini saya akan alihkan kalian dengan Erwin di ruang sebelah tentang progres baru.


"Haah! bisa begitu ya, baiklah."


"Baiklah, mau buat apalagi."


Rico masih jelas, mendengar semua orang berbisik dan mau tidak mau menurut pindah, kala beberapa meeting mendadak tak suka jika meeting kali ini pindah ruangan tanpa sebab. Tapi Rico yang tak ingin dirinya semakin kalut, dan tak bisa menahan untuk menerkam Hanum. Harus ia tahan sampai waktunya tiba.


Rico juga tak menyangka jika Hanum akan berada di ruangan meetingnya. Rupanya trik memancing Alfa dan mengetahui Hanum dibaliknya terlihat jelas. Sudah ia pikirkan matang matang, jika rapat penting kali ini tak ia bahas diruangannya. Tapi sekejap ada Hanum, ia bisa menanyakan dan menghukum Hanum yang lagi lagi tak melibatkannya.


Beberapa puluh menit saat sepi, Rico segera melepas sandaran kursinya kecelah tembok. Lalu senyum tawa menatap Hanum.


"Sejak kapan sayangku berubah menjadi kucing liar?"


"Kamu, Rico kamu keterlaluan. Aku hampir mati karna pengap kakimu." cetus Hanum yang keluar dari kolong meja.


"Trus kamu mau kemana? Eeth. Eeth." terkejut Rico.


Karna saat Hanum mencoba berdiri, lutut dan kakinya keram bercampur kesemutan, ia bersandar hampir setengah duduk di atas meja Rico. Dengan sigap Rico memajukan kursi rodanya hingga mepet ketatapan Hanum.


"Kamu mau apa?" menolak Hanum.


"Menurutmu siapa yang tadi menoel macanku yang sedang tidur?" tawa Rico dalam, dan melepas dasinya full.


"Kamu, aku tadi ga sengaja. Rico, tadi itu karna ruang sempit. Percayalah siku tanganku menoel tak sengaja, aku minta maaf!" jelas Hanum.


"Benarkah begitu, tapi apa aku harus percaya?"


"Benar ga ada lagi, Rico kamu mau apa, kamu sangat mepet dan dekat saat ini."


"Menurutmu Han? aku akan bawa kamu ketempat yang hanya kita berdua saja!"


Rico segera membopong tubuh Hanum, Hanum meminta lepas setelah ia masuk dalam lift. Tapi tangannya tak bisa terlepas dari Rico. Hanum yang benar benar malu, melihat tatapan beberapa karyawan di loby parkiran. Membuat telapak tangannya menutupi setengah wajahnya kala masih digandeng Rico.


"Tidak perlu di tutupi, semua nanti akan tau siapa kamu Han?"


"Maksud kamu apa Ric?"


"Kamu itu jelas akan berubah nama panggilan, menjadi nyonya Rico. Kenapa kamu ga mau hubungan kita diketahui banyak orang?"


Hanum terdiam, ada kata sulit kala perlakuan Rico yang benar serius padanya. Hanum semakin bersalah, belum lama ia telah menukar flashdisk data perusahaan Rico untuk ia berikan pada Alfa. Hanum melepas eratan tangan Rico, saat Rico membuka pintu depan sebelah kiri.


"Kenapa, kamu ga mau masuk? Masuklah sebentar. Kita curi waktu ini meski sebentar Han!"


Meski Hanum menolak, tapi Rico menarik lembut Hanum. Ia segera mengapitkan kedua tangannya dan berhasil membawa Hanum masuk kedalam mobilnya. Rico segera masuk dan mengunci pintu mobil, lalu menjalankan kendaraannya dan membawa Hanum pergi.


"Kita mau kemana?" tanya Hanum.


"Terserah kamu, aku hanya ingin jalan sebentar. Masih ada meeting dua puluh menit lagi, tapi bersama kamu aku merasa tenang Han. Kamu wanita yang aku percaya setelah mama tak ada."


Lagi lagi kejujuran Rico membuat Hanum tersipu, Hanum menyesal telah membuat Rico mungkin akan hancur. Hanum merasa bersalah pada Rico saat ini, sehingga air mata menetes begitu saja membuat Rico menoleh ke arah Hanum.


"Han, aku ada pertemuan bersama papa di cafe star. Kamu mau ikut atau dimobil?"


Cafe star? kenapa kebetulan sekali. "Aku di mobil aja, kebetulan aku mau ke wartel. Aku mau hubungi Nazim sahabat aku."


"Mau pake ponsel aku Hanum, kamu yakin keluar sendirian?" tapi Hanum menolak dan bersikukuh ingin sendiri.


Setelah Rico pergi, Hanum segera pergi dan berjalan ke arah belakang cafe. Ia naik ke arah rooftop dengan tangga manual. Dan sampai puncaknya, Hanum jelas melihat Alfa sudah berdiri diatas dengan bertolak pinggang.


Hanum takut Alfa salah sangka, ia segera menepuk punggung Alfa.


"Alfa, aku datang bawa ini. Tapi ka- mu jangan salah paham. Aku bersama Rico, Rico tidak tau." jelas Hanum.


Alfa menoleh dan menampar wajah Hanum saat itu, Plaaaak! "Apa kau pikir otakku bodoh sepertimu Hanum?" teriak marah Alfa.


Hanum yang terjatuh, ia menahan rasa sakit di pipi. Dengan terkejut Alfa mengeluarkan sebilah cutter. Hanum mundur dan memohon agar Alfa percaya padanya, tapi saat itu Alfa benar benar tak mempercayai. Sehingga saat Hanum mundur, flashdisk terpental dari sakunya.


Alfa yang senyum ingin mengambil, Hanum segera menendang Flashdisk itu agar tak sampai diambil tangan Alfa. Pikiran Hanum berubah seratus derajat karna Alfa yang semakin gila, ia tetap saja menyalahkan dan benar melukai dirinya.


"Apa maksudmu, Hanum?" menoleh Alfa, melebarkan cutter tajam dan mendekati Hanum.


"Aku menyesal menurutimu, kamu tidak lebih seperti pria pecundang Alfa. Bahkan kamu gila, kamu tidak waras. Lebih baik kita terluka dan berakhir. Semua tidak lebih, agar ketentraman keluargaku kembali damai tanpa kembali masuk keluarga Jhonson." cetus Hanum.


"Kamu berani Hanum, baiklah. Kita lihat, mulutmu itu tajam. Tapi cutter ini, akan lebih tajam jika aku merobek kulit wajahmu agar kamu menjadi wanita seram dan tak lagi ada yang mau mendekatimu."


Hanum segera berbalik ingin berlari, tapi kakinya jatuh, karna Alfa melempar kayu besar ke arah kaki Hanum. Alfa segera mengejar Hanum dan saat Alfa ingin menancapkan ke pundak Hanum.


"Berhenti!" teriak suara serak membuat Hanum menoleh.


Goresan darah berceceran, membuat Hanum berteriak histeris. Haaah!!


"Tidaaak...!" teriak Hanum.


~ **Bersambung** ~