BAD WIFE

BAD WIFE
JANGAN TINGGALKAN



"Fawaz, aku. Ini obat untuk temanku!"


Hanum berusaha meraihnya. Lalu Fawaz duduk di sebelah Hanum sambil berkata dengan halus.


"Sampai kapan kamu bersembunyi menutupi? dia akan tumbuh besar di perutmu. Selamat Hanum, kamu akan menjadi seorang ibu."


"Tapi aku ga menginginkannya! aku harap kamu tidak memberitau orang lain. Siapapun termasuk keluargaku juga mertuaku!"


"Lalu Alfa?" lirih Fawaz.


"Aku juga tak mau dia mengetahuinya. Aku mohon Fawaz!" sendu Hanum bak merengek bagai anak kecil meminta permen.


Fawaz awalnya kecewa saat tau Hanum hamil? sudah pasti akan sulit bagi Hanum berpisah. Tapi permintaan Fawaz, membuatnya curiga pada Hanum.


"Jika kau butuh sesuatu katakanlah! hubungi aku kapanpun. Aku tinggal sebentar, karna harus mengecek pasein lain!" pinta Fawaz, sambil memberikan sapu tangan pada Hanum.


Fawaz pun membelai rambut Hanum seperti dulu, meraih sapu tangan diberikan pada Hanum, ia juga tempelkan ke bawah pelupuk matanya yang basah.


"Aku harap jaga dia! jika tidak aku akan memberitaukannya tentangmu saat ini sedang hamil. Membenci pria itu, bukan berarti ikut membencinya Hanum!" Hal itu tersentag membuat Hanum terdiam. Lontaran Fawaz menyadarkan dirinya.


Hanum kembali keruangan ICU saat ini, ia melihat papa mertuanya gelisah. Hanum juga menatap Alfa yang menoleh dan menghampirinya. Alfa senyum membuat mata Hanum mungkin salah melihat karna kehaluannya Alfa tak seperti itu.


Alfa memegang tangan Hanum, lalu erat duduk disamping Hanum. Hal itu membuat Hanum menelan saliva, andai saja ia semanis ini dan halus. Juga tak lagi berhubungan dengan Irene. Mungkin Hanum pasti mengabarkan kehamilannya. Tapi ia tau saat ini pria disampingnya, hanya mementingkan kepentingannya saja.


"Cek nya udah? kamu bisa menunggu! masalahnya kondisi nyokap enggak bisa nunggu Hanum!"


"Maksudmu, apa Alfa?" masih mode mengecilkan suara. Agar Jhoni tak mendengar jelas.


"Ya! Makanya kita harus yakinin dia."


"Yakinin, kita baik baik saja dan akui kamu sedang hamil?!" tegang Hanum menatap Alfa.


"Di antara kita berdua, aku yang lebih tahu kondisi kesehatannya! So can you stop being ignorant Hanum?" cetus Alfa.


"Dan kamu lupa mamaku seperti apa?" tajam Hanum pada Alfa.


Hanum juga takut keputusannya menolak berpisah, membuat mamanya kenapa kenapa. Juga kesehatan mama mertuanya akan berakhir.


"Aku bilang kita bahas nanti aja Alfa!"


Hingga akhirnya, Hanum kembali menunggu. Di samping papa mertuanya yang menutup wajah. Ia melihat seorang pria yang sangat kaya dan menurut Hanum dia pria terbaik. Terlihat kala sang istri bertarung dengan nyawa, ia melihat guratan wajah ketakutan dan gemetar dari tangannya.


'Jika papa mertuaku sangat takut! ia mencintai dan menyayangi sang istri. Lalu kenapa Alfa bejad seperti tadi, apa dia bukan anak Jhonson. Anak baik baik akan terlahir dari keluarga baik baik bukan?' batin Hanum.


"Papa pulang dulu saja! biar Hanum yang jaga sama Alfa!"


"Tidak nak! kamu lebih baik pulang bersama Alfa. Setelah Maria siuman, papa Akan hubungi kamu dan Alfa untuk bergantian. Bisa Nak?!"


Hanum mengiyakan, setelah Alfa mengulurkan tangan dan bersikap lembut di depan Jhoni Jhonson. Tapi saat mereka didalam mobil, seolah sudah banyak hilang kata kata. Yang ada hanya kesunyian dalam balutan perasaan peluh.


Hingga dimana Alfa menurunkan Hanum sampai gerbang. Pak Sapta selaku satpam ia membuka gerbang. Tapi aneh kala Alfa tidak ikut masuk.


"Masuklah Hanum, aku ada urusan!"


'Ya, Hanum mengerti apa saja yang mungkin Alfa lakukan, seolah batin anak dan ayah biologisnya berkata pada hatinya.'


Hanum langsung menghubungi Lisa, untuk membawakan pakaian dengan ojek online ke alamat rumah mertuanya di kelapa gading.


APARTEMEN IRENE.


"Miss you Darling! akhirnya kamu datang juga." senyum Irene.


"Sayang ga suka ini?" tanya Alfa menelusupkan pucuk hidungnya di leher Irene.


Irene menolak hal itu. Dia masih mempertahankan kewarasannya. Namun, semua akal sehatnya hilang tak berjejak kala Alfa langsung membawa tangannya ke pusat Irene. Tubuh atletis tempaan gym-nya mendesak Irene agar rebah di atas ranjang Alfa.


Irene harusnya merasa sesak. Namun, tubuhnya dan Alfa serupa kunci, baru bertemu Irene cukup puas Alfa lebih menginginkannya dari pada wanita gendut yang jadi istri sah nya itu.


Begitu pas.


Begitu saja, malam panas itu terjadi.


Malam yang akan mereka berdua tak ia sesali. Malam panas yang mereka lakukan atas dasar alkohol berlebih, dan rasa mumet di otak Alfa dan cinta Irene yang dalam.


Paginya, Irene terbangun dengan kepala berat. Perempuan berambut coklat itu merunduk, terkesiap melihat lengan kekar berbulu membelit perutnya dengan posesif.


They do it. Mereka membuat situasi semakin memburuk dengan bermuara kenikmatan.


Irene ikut mabuk ketika mereka melakukannya, tetapi dia masih ingat apa saja yang terjadi semalaman. Kecupan hangat, dekapan posesif, mulut manis Alfa yang senantiasa memberinya banyak pujian, kepuasan sampai ... teriakan mereka berdua memecah di kamar Irene.


"Sudah bangun?" Suara serak tiba bertanya.


Irene terkesiap mendengar bisikan halus di ceruk lehernya. Seketika, dia merasa indah dengan dirinya sendiri. Dia menarik kasar belitan tangan Alfa dari tubuhnya lantas beringsut mundur ke pinggir ranjang dengan selimut dia jadikan kemben.


Alfa menipiskan bibirnya, terlihat tidak suka dengan cara Irene yang menghindar seolah dirinya adalah najis yang perlu Irene hindari. Hanya karna Irene belum berhias. Irene tak suka jika tak berhias didepannya.


Padahal Irene sedang jijik dengan dirinya sendiri. Dia tidak tahu kenapa tubuhnya begitu murah, mengobral kenikmatan dengan begitu mudahnya, hanya karna cintanya pada Alfa Jhonson.


"Darling! sampai kapan? kamu buat aku kepastian bisa?" tanya Irene.


"Mamaku sedang di rumah sakit, ia lihat aku menampar Hanum. Jadi mengertilah untuk saat ini!"


"Nikah siri. Yap! setidaknya ketika aku hamil, aku tidak malu saat mengungkapkan pada teman selebku Alfa!"


"Ren, tapi itu ga mungkin. Aku ingin nikahin kamu secara resmi nanti!"


"Bekerja samalah! Jangan Nanti!" kata Irene menarik selimutnya. Dia berusaha tak melihat tubuh polos Alfa di depan sana ketika selimutnya dia pakai sendiri.


Irene meringis kesakitan ketika kakinya menjejak lantai. Berapa kali mereka melakukannya? Kenapa sesakit ini? Apa ini karena Irene sudah lama tak melakukannya? akhir akhir ini setiap melakukan, rasa sakit di bagian perut membuat Irene lemah tapi tak ingin menampaki di depan Alfa.


"Mantan simpanan, pasti punya banyak klien. Apa kamu selalu sedingin ini setelah bercinta dengan banyak pria?" cetus Alfa.


"What ..?" Irene memalingkan wajah demi menahan amarah. Dia memang mantan simpanan. Tetapi ucapan Alfa tentang banyak klien membuatnya sakit hati.


Dia menjadi perempuan simpanan karena dipaksa kakaknya yang brengsek, dan tentu saja bukan keinginannya secara sadar. Kenapa Alfa selalu mengingatkannya?


"Enggak, only with you." Dibanding mengklarifikasi ucapan Alfa yang keliru. Irene malah menjadikan ejekan Alfa sebagai modal menjatuhkan lelaki itu sendiri.


"Berhentilah memintaku cepat menikahimu Ren! aku harus kembali ke rumah sakit." lirih Alfa menyibak selimut.


"Menjemput wanita gendut itu lagi?" sebal Irene dan mata mereka saling menautkan.


To Be Continue!!