BAD WIFE

BAD WIFE
PELAKOR TAKUT



"Bisa jelasin semuanya? efek yang lo lakuin. Saat ini bukan cuma nama baik sebagai dokter? keluarga kita, udah cukup lo lihat Alfa yang nyakitin wanita baik. Dia jadi gila beneran, apa seorang dokter bisa tega menceraikan istri yang sedang hamil?! aset kerjasama perusahaan kita fatal."


"Lo ga perlu ikut campur soal gue dan Lisa!" celutug Fawaz.


"Ok gue ga ikut campur. Tapi lo harus balikin perusahaan ini, jadi pemilik gue seutuhnya. Dan lo ga bisa dapatin hak royalti disini! pikirlah secara sehat Fawaz. Apa untungnya lo bermaim wanita, mau kena penyakit sama kaya pasein yang selalu datang berobat di rumah sakit lo?" ketus Rico.


"Gue ga tahu, yang jelas gue bingung yang udah terjadi. Kapan gue bisa menikahi Nestia, udah terlanjur jelek. Gue harus tetap cerain Lisa, dan lanjut dengan Nestia. Setelah keadaan aman, gue bakal ceraikan Nestia."


"Apa..? lo pria pecundang, gila otak lo itu taru dimana. Hati lo itu terbuat dari apa? mama Felicia. Nyokap lo hancur, ini sama aja lo nyakitin hati nyokap lo. Karena lo lahir dari jalan seorang wanita. Lo ga hormatin dia Fawaz. Kalau mau gila, mending lo keluar dari kartu keluarga kita. Kita tidak kenal! cepat tanda tangani aset perusahaan hak cipta! gue ga mau berlanjut dan kerjasama model orang bermasalah kaya lo!" ancam Rico, membuat Fawaz termenung.


***


Villa Feli.


"Kak, ini susunya. Mama bilang kakak perlu banyak istirahat! jangan keluar kamar, kalau ada apa apa. Hubungi Hanum ya, telepon Hanum. Kita dekat, aku dibawah lantai dan saat ini lagi temani mama sama tante Felicia.


"Iy, sory ya Hanum. Kakak repotin kamu soal masalah ini. Terlebih kakak ga turun kebawah buat susu."


"Kak, kita itu saudara. Lagi pula, mbok lagi pulang kampung. Bi inah dan pak Soe besok datang, tante Felicia yang minta ia datang, terus temani kakak kemanapun, dan keperluan kakak dibantu mereka.


"Iy, makasih ya Hanum. Salam buat ponakan lucu kakak." senyum Lisa, dan Hanum pamit keluar.


"Apa apaan ini?" terkejut Lisa menatap ponsel. Yang kini ia berada di kediamannya.


Tak lama, Sinta menghubungi Lisa di saat time yang tepat. Atau ia telah lebih dulu melihat sosmed dan berita sebelum ia membacanya.


TREDEEET .. TREDEEETH.


"Lisa, lo dimana sekarang?" pesan sinta.


"Di rumah Sin. Kenapa emang, gue gak ngerti emang ada apa?"


Tak lama, Sinta menghubungi Lisa. Lisa pun mengangkatnya. Hingga di mana, Sinta menceramahi Lisa saat itu.


"Lisa. Kok bisa sih, tapi gue yakin itu berita palsu. Gue kenal loh lah, coba ceritain?"


"Gue sekarang kerumah lo ya Sin. Gue makasih banget, lo selalu percaya sama gue!"


"Oke gue tunggu cepatan ya!"


Sambungan telepon pun berakhir. Kini Lisa mencari sumber berita palsu itu, ia mengklik blog spot sumber berita dari mana video itu menyebar. Meski benar adanya tentang baju, tapi membuat caption tentang dirinya. Membuat Lisa ingin marah, tentu saja harus melampiaskan kemana arahnya.


Lisa menatap video yang menunjukan potongan gambar tidak full. Hanya potongan video Lisa yang mendorong Nestia, dan mencengkram bahu Nestia karena kesal, saat di mall karena kemeja. Tapi seolah, tuduhannya adalah Lisa yang dicari oleh penggemar dan banyak yang mencaci Lisa.


"Kenapa kalian begitu kejam. Nestia, ini pasti perbuatanmu. Aku harus menemuinya!"


Lisa yang telah rapih berganti pakaian. Ia masih memakai piyama, dengan cepat ia memesan taksi dan pergi ke alamat Nestia.


Meski sudah terlalu malam, Lisa melupakan ponselnya yang tertinggal di dalam taksi setelah sampai di kediaman Nestia, setelah Lisa beberapa saat sampai. Hanya hitungan puluhan menit Lisa menatap mansion Nestia untuk kedua kalinya ia menapaki kembali.


"Pertamakali aku terkejut saat kamu telah menikah Mas. Dan kedua kalinya, aku merasa terhina karena kamu tak mencari sumber siapa yang salah di antara aku istri sahmu. Dan dia istri sirimu!" lirih Lisa.


TOK .. TOK.


TING NONG.


Ketukan pintu pagar kayu. Dan bel tersebut ia pencet berulang kali. Namun tak ada yang keluar, hingga selama lima belas menit. Seorang asisten yang pernah membuka pintu pertama kalinya. Membuat ia terkejut dan mengingat ngingat.


"Nona cari siapa ya?"


"Ada Nestia nya bi?" tanya Lisa.


"Owh. Nyonya Nestia sama Tuan ya. Belum pulang."


"Bisa saya masuk menunggu di teras bi?" pinta Lisa.


Asisten itu pun mempersilahkan. Ia meminta Lisa duduk, hingga kembalinya asisten ke dalam. Karena saat itu cuaca amat dingin, membuat dirinya memegang bahu karena kedinginan.


"Gak apa bi. Saya di sini saja!" senyum Lisa.


Sinta berulang kali menghubungi Lisa. Tapi kali ini, Sinta khawatir karena Lisa tak juga sampai. Sehingga ia mengambil kunci mobil dan berlalu mengunjungi kediaman Lisa. Sudah seharusnya ia sampai, tapi entah mengapa ia belum juga datang. Lisa keluar rumah, diam diam lewat pintu belakang.


Lisa yang masih menunggu di teras. Ia lalu menatap sepi dalam suasana amat dingin. Lalu menatap sebuah mobil mewah datang, hingga Lisa berdiri dan menunggunya.


Taap .. Taaap.


Suara langkah menapaki hingga mereka terkejut.


"Waah. Berani beraninya seorang pembuat onar. Perusak rumah tangga hadir. Honey apa kamu tidak ingin bertindak?" manja Nestia.


Fawaz yang menelan saliva. Ia mengeraskan rahangnya, lalu membuat Lisa yang berdiri menariknya untuk keluar dari kediamannya.


"Keluar kamu Lisa! untuk apa kamu kemari, cari gara gara?"


"Mas. Aku datang kesini, menunggumu. Karena aku ga seperti yang kalian pikir. Video itu, kenapa caption dengan sebutan pelakor tidak tau diri. Kamu tau kejadian sebenarnya kan, soal kemeja dimall?" tanya Lisa.


"Apapun penjelasanmu. Keluarlah Lisa, kamu tidak berhak mencari pembelaan. Soal yang mengunggah video itu bukan hak kami!"


"Mas. Aku tidak pernah menjadi orang ketiga. Apalagi berulah mempermalukan Nestia yang notabane Seleb baru. Aku seolah pelaku, dan Nestia disini korban. Apa kamu ga bisa membersihkan, aku mohon mas. Pekerjaanku jadi taruhannya. Aku tidak boleh kehilangan itu!"


Lisa memohon pada Fawaz. Hingga Nestia tersenyum puas, ia mencuri mengabadikan sosok Lisa yang memohon dengan duduk memegang kaki panjang Fawaz. Meski Fawaz tak mengetahui dan terlihat, hingga kala itu ia akan menyuruh seseorang menyebarkan video kedua agar Lisa hancur.


"Ini baru permulaan Lisa. Dengan begini, kamu akan menyerah dan tamat kariermu!"


"Lisa. Pergilah! Bibi cepat bawa orang ini keluar!"


"Mas .. Mas Fawaz, tunggu mas!"


Lisa terpaksa harus keluar begitu saja. Ia kini berada di luar pagar. Hatinya begitu remuk ketika Fawaz benar benar tak mempercayainya. Ia bingung harus bagaimana, dengan video viral. Sudah pasti ia akan kesulitan mencari nafkah.


"Aku kemari datang baik baik mas, aku menerima kamu dengan madumu. Tapi kenapa kalian begitu tega, membuat aku semakin kacau. Nak, sabarkan hati bunda! sikap ayahmu sangat membuat bunda sedih. Apa yang harus bunda lakukan, kamu hadir dalam keadaan tidak baik. Semoga kamu selalu bahagia, tidak mengalami hal sedih seperti bunda kelak." Lisa mengelus perutnya.


***


KEDIAMAN NESTIA.


Fawaz kala itu bertanya pada Nestia. Apa semua ini dia yang melakukannya. Nestia menatap segala kolom komentar dan berita terkini tentang Lisa.


"Nestia. Apa kamu sengaja melakukan ini?"


"Heuump. Yap, Honey. Agar Lisa aku beri perhitungan!" tegasnya.


"Nestia. Cukup untuk memperpanjangnya. Jika mama tau, dan menonton berita di rumah sakit ia bekerja, maka akan fatal. Aku sudah menuruti kemauan kamu, jangan lagi biarkan aku di copot dari nama keluarga."


"Apa kamu masih cinta padanya? atau kamu takuti mama kamu akan membuang kamu, lagi pula aku bisa menghidupi kamu honey. Kamu bisa buat klinik baru, dan hidup baru. Aku akan berjuang, asalkan hidup bersamamu." puji Nestia.


"Nestia. Jangan marah, aku tau. Rating pencarian mu kali ini pasti akan naik lagi. Tapi aku tidak ingin jika sewaktu waktu video itu benar benar terjadi. Aku lihat rekaman itu, kamu yang memulainya!"


"Honey. Kamu mengkhawatirkan aku atau Lisa? Apa kamu benar menghapus rekaman itu. Atau .. ?"


"Sudahlah Nestia. Kamu tidak perlu memperpanjang, tugasku adalah saat ini melihat Mama tenang. Dan membuat mama percaya, kamu yang pantas menjadi istriku, karena aku telah berbuat salah pada Lisa!"


"Jadi kamu ingin kembali pada Lisa, tapi kamu malu karena telah melakukannya denganku?"


Nestia menatap punggung Fawaz. Kali ini, ia menatap dengan sinis. Ia takut jika Fawaz benar benar kembali pada Lisa dan kembali lagi padanya. Sehingga ia kehilangan sesuatu yang ia inginkan.


Nestia pun mengambil ponselnya. Lalu berkata dengan tegas dan penuh amarah mengetik pesan.


'Gue gak mau tau. Lo harus kasih cairan infus, celakai Lisa. Gue ga mau, Fawaz kembali dengannya!' pesan Nestia, pada seseorang.


Tbc.