BAD WIFE

BAD WIFE
PERNIKAHAN IMPIAN



Pagi ini Hanum sudah di rias, kebaya anggun berwarna putih membuat Hanum tampil elegan. Terlebih ia duduk di dampingi sang kakak, terlihat paman Frans sedang mewakili menjadi walinya, kala Rico yang di temani Mark untuk melangsungkan ijab kabul.


Sementara Hanum tertunduk lemas, diberbeda ruangan. Dalam satu kali helaan nafas, Rico berhasil melantunkan ikrar janji suci dengan lancar. Hal itu membuat Hanum menangis haru penuh bahagia, ia menatap sang mama dan Lisa disampingnya.


"Han, selamat sayang. Kamu sudah sah jadi istri." ucap mama.


"Mah! Hanum, ..." isak tangis bahagia.


Hanum memeluk sang mama, begitu juga Lisa menenangkan. Terlihat dari layar besar, Rico tersenyum kala ia sudah berhasil merubah statusnya. Kini tanggung jawabnya adalah Hanum dan kebahagiannya, sebagai seorang suami berusaha membahagiakan dan melindunginya.


"Han, kita turun sekarang. Semua udah menunggu!"


"Ya, hapus dong air matanya. Udah jangan cengeng lagi. Nanti make up nya luntur!" tambah Lisa.


Hanum senyum mengangguk, perlahan ia berjalan di dampingi Lisa dan mama. Pikiran Hanum sempat was was, karena Rico memberikan surat permohonan maaf dan selamat dari Alfa. Hanum mencoba tegar, jika hatinya saat ini hanya ingin bahagia bersama Rico. Dan akan memaafkan segala masa lalu dan hal pahit yang pernah ia rasakan.


Rico terkagum, kala sebuah pintu besar terbuka. Semua melihat aksi Hanum yang di dampingi berjalan ke arahnya. Dalam puluhan langkah, Rico dibuat tersenyum ketika menatap Hanum yang sangat pangling.


Hingga tepat saling berhadapan, Hanum di berikan pada tangan Rico dari Lisa. Saat ini Hanum senyum menatap Rico, tak lupa mengecup punggung tangan Rico. Hingga matanya berbinar, melihat Hanum yang saat ini sudah sah menjadi istrinya.


Kecupan mendarat pada kening Hanum, ia juga menyematkan cincin dan bertukar.


"Alhamdulillah, kamu saat ini istriku Hanum." lirihnya.


"Terimakasih, sudah memilih aku. Membuat aku menjadi wanita paling bahagia Rico."


"Heuuumph! tentu, mulai sekarang panggilan manisku apa?"


Hanum malu, ia berusaha memanggil sayang, mas atau pun suamiku begitu malu. Karena saat ini banyak sekali mata yang memandang.


Wali nikah dan penghulu menyadarkan, sehingga tatapan dua pengantin senyum dengan rona pipi merah.


"Eheuuum! pandangnya nanti lagi di kamar pengantin. Sekarang tanda tangan dulu ya!" goda penghulu.


Hanum dan Rico mendapat buku nikah. Memperlihatkan buku nikah dan kedua cincin. Saat ini mereka sangat dekat, tak lupa semua mengabadikan. Dari beberapa tamu yang datang, resepsi berjalan dengan lancar hingga pukul enam sore.


Alfa yang memperhatikan seharian, ia cukup menyesal telah membuat hidup Hanum sengsara. Rasa di tinggal menikah, rasanya sangat sakit. Itu karena dirinya yang selalu saja membuat Hanum sulit. Mengingat dirinya yang sering memperlakukan Hanum tidak layak.


"Aku turut bahagia kamu bahagia Hanum. Semoga pernikahanmu berkah dan langgeng." gumam Alfa, ia memakai kembali topi dan masker lalu pergi, meninggalkan gedung.


KAMAR PENGANTIN.


"Sayang, aku bantu buka resletingnya ya?"


"Terimakasih suamiku, a-aku..." gugup Hanum.


Jarak mereka sangat dekat, Hanum merasakan tangan Rico yang melingkar dan menaik turun resleting dibagian punggungnya. Seolah sedang bermain dan jahil.


“Pelan pelan Rico." terkejut Hanum, karena tangan Rico sudah memegang bagian lain.


“Hanum, kamu taukan. Hanya kamu yang aku cintai?”


Perempuan itu, mengangguk lembut. Rico kembali mengecup bahu Hanum setelah melepas gaun dengan setengah.


“Aku akan memilikimu, sekarang juga.” bisik Rico sedikit mengigit telinga Hanum dengan lembut.


Hanum tersenyum, ia akan menyerahkan tubuhnya kepada lelaki yang kini telah jadi suami. Di mata Rico, hanya Hanum perempuan tercantik. Hanum, bagaikan obat terlarang yang membuatnya kecanduan.


"Kita bersihkan dulu sama sama, mau mandi bersama?" bisik Rico.


"Jika itu adalah kemauan suamiku, aku juga akan ikut. Karena aku tau, perkataan suami adalah yang terbaik, dosa jika aku larang."


Hanum dan Rico berada dalam bathub, mereka menggosok punggung. Hanum yang awalnya ragu dan malu malu, Rico membuka matanya. Bicara untuk tidak malu karena dirinya sudah berhak.


"Jangan di tutup, kita sudah sah Hanum."


Rico menarik tangan Hanum, ia saling berendam dan membalikan tubuh dengan santai. Hanum yang saat ini masih gemetar, ia mencoba rileks dan mengatur terus nafasnya.


"Han, kamu begitu lucu. Apa seperti ini kamu baru?"


"Aku hanya pernah disentuh pria bernama Alfa hanya karena kesalahan. Dan momen manis ini aku pertama kali dan itu hanya bersama kamu." balas Hanum.


"Baiklah! aku tidak akan memakanmu di sini. Airnya begitu dingin, kita lanjutkan di tempat lain saja. Gimana?" Hanum hanya mengigit bawah bibirnya ketika Rico mulai beraksi.


Bahkan saat tubuhnya di tutupi sehelai handuk kering, Rico berjalan memapahnya ke arah kasur yang bertabur dengan bunga merah. Mereka saling memandang dan Rico membuat tanda merah pada jenjang leher Hanum.


Rico yang masih berada dalam selimut, terus menekan senjatanya sementara kedua tangannya kini telah menyatu dengan Hanum seolah tidak ingin terpisahkan.


“Rico cepat,” ucap Hanum mode takut.


"Tidak, aku akan membuat kamu tidak gugup, bersabarlah!" bisik Rico.


Rico membuat pemanasan yang Hanum tak pernah rasakan. Seluruhnya perempuan itu merasa ada yang berbeda saat bercinta kali ini. Tapi saat Hanum merasakan getaran hebat, tiba saja suara ketukan membuat buyar Rico.


Took! Took!


"Rico ada orang yang datang?"


"Huuft! tidak beres, aku bayar mahal tapi mereka ganggu kita di jam seperti ini."


Tliith! Tliith! dering ponsel Rico kali, ini.


"Rico, siapa tau itu penting." lirih Hanum.


"Baiklah, malam ini aku harus bersabar," gumamnya.


Rico melihat pukul jam delapan malam, sementara Hanum yang menutupinya dengan selimut. Ia melihat tubuh polos Rico yang menerima panggilan dan duduk dengan santai.


"Astaga, apa pria seperti itu jika sudah sah. Apa itu cela Rico, yang tanpa malu duduk bergaya tanpa busana, saat mengangkat telepon."


Wajah guratan Rico mengerut, ia seperti khawatir dan terpukul. Lalu menutup panggilan dan melemparnya.


"Han, ayo pakai bajumu. Kita ke rumah sakit!" ucap Rico.


"Rumah sakit?" bingung Hanum.


"Papa jatuh, entah bagaimana aku juga tidak tau. Tapi Erwin sedang di sana."


"Rico, aku akan menyiapkan pakaianmu." sontag Hanum yang melangkah tanpa busana menggeser lemari pakaian, membuat dirinya malu karena lupa.


Rico yang tidak tahan melihat Hanum, ia segera meraih Hanum dan memberikan tanda lagi.


"Malam ini kita harus tunda, maafkan aku Hanum."


Ah! lega rasanya bagi Hanum saat bisikan Rico. Ia pikir Rico akan terus melanjutkan aksi tadi.


"Kita jenguk papa, itu jauh lebih penting saat ini. Aku mencintaimu Rico." senyum Hanum menatap wajah suaminya.


Pelukan manja, membuat Rico hanya bisa memberi tanda merah pada seluruh bagian depan Hanum. Sehingga Hanum merasa kesal karena sedikit nanggung.


"Rico, kamu apa apaan sih?"


"Hanya ingin membuat kamu merasakan tegang juga, setelah dari rumah sakit kita lanjutkan." jahil Rico, ia mengenakan pakaian.


Hanum hanya terdiam dan menelan saliva. Tertegun aksi Rico yang membuat dirinya semakin tak karuan.


Tbc.