BAD WIFE

BAD WIFE
SENJATA MAKAN TUAN



"Han, ada apa sih. Kok kamu di panggil bu Linda?"


"Aku juga ga tau Vit, jagain Dewi ya. Dia lagi sedih." bisik Hanum.


"Dew, aku ke ruang hrd dulu ya. Nanti jam pulang aku ikut sama kamu. Kita ke rumah sakit!"


Han! Dewi memeluk Hanum, terus terang ia punya teman baik Vita. Tapi kondisi keuangan benar benar kere, jauh dari kata mampu. Sehingga mengenal sosok Hanum sangat beruntung.


"Udah! ga enak di liat orang, kita kan temen." bisik Hanum menenangkan.


"Thanks Han."


Padahal Hanum punya tabungan pas, hanya sedikit jauh dari kata cukup tiga juta. Tapi berhubung ia akan mendapatkan gaji hari ini. Ia akan meminta cicilan setengah dulu pada Rico.


"Kenapa lama, kamu ingat salah kamu apa?" gertak Linda.


"Maaf bu! tapi saya juga ga tau, salah saya apa ya?"


"Karna kamu lihat apa yang terjadi tadi, jadi tunggu saja kamu akan di pecat."


Hanum hanya menelan saliva, ia cukup tenang karna dirinya tak benar benar punya salah. Hanum segera pamit, karna ia merasa dirinya tidak seperti wanita yang lemes. Bahkan hanya melihat adegan kekerasan bu Linda pada Dewi, membuat jiwa kerjaannya terancam.


"Maaf ya bu! masalah ibu, silahkan urus sendiri! saya rasa, saya tidak akan di pecat. Karna saya tau, bos indomarco cukup bijak dan tidak akan memecat sembarang tanpa bukti. Hati hati, bisa jadi nanti bu Linda yang di pecat!" lirih Hanum lalu ia pamit.


Hanum kembali bekerja, meski mungkin tatapan bu Linda sangat sinis padanya. Sehingga Hanum tak ingin membuang waktu, ia bekerja seperti biasa. Mengecek stok di gudang, juga mengganti barcode harga yang setiap hari berubah.


Ruang Kerja.


"Ada apa ribut ribut Erwin?" tanya Rico, yang masih menandatangani berkas.


"Di lantai gudang, hrd menghubungi katanya dia. Di-a itu, eeem. Katanya Hanum bertikai dengan bu Linda. Dia bilang Hanum tidak sopan, kerjanya juga tidak bagus." jelas Erwin.


"Heeumph! Linda, rekomendasi dari Adelia?" lirih Rico, dianggukan Erwin.


"Kamu cari buktinya yang jelas, cctv kamu lihat. Soal apa, kita tidak bisa percaya pada divisi baru." cercah Rico meregangkan kedua tangannya.


Erwin segera menghubungi seseorang, benar saja dalam waktu dua puluh menit. Dia melihat jelas cctv baru. Sehingga ia kirimkan pada Rico. Lalu meminta center untuk memanggil Linda keruangan pak Rico segera.


"Bu Linda, di panggil pak bos di lantai tujuh!" ucap selly bagian center.


"Wah, benarkah?" senyum Linda, ia sedikit merapihkan poninya.


Sementara Hanum, ia hanya melirik. Ia tau jika ruangan lantai tujuh adalah menemui pak Rico. Tapi soal apa, Hanum juga sedikit khawatir. Apa bu Linda mengadu soal dirinya.


"Han, bu Linda nemuin pak Rico. Jangan jangan ngaduin soal kamu tadi, liat aku?" cetus Dewi.


"Kamu ga usah khawatir ya. Pak Rico cukup bijak, mending kita lanjut kerja lagi ya!" senyum Hanum.


Hingga mereka telah bersiap pulang, pukul tujuh malam, Hanum segera membuka loker. Tapi ia melihat bu Linda menangis, dan menebas punggungnya yang sedang mengunci loker. Pergi begitu saja.


"Auuw. Bu .." Hanum memanggil, tapi Linda pergi tanpa menoleh Hanum.


Hanum melihat pesan, Rico meminta ia menunggu di loby bawah. Hal itu membuat Hanum ragu, karna ia takut karyawan tau kedekatannya di salah artikan.


"Duh, aku balas menolak saja ya?" lirihnya, tapi pesan kedua kembali dari Rico. Jika Hanum tidak boleh menolaknya.


Alhasil dalam beberapa puluh menit, Hanum segera bergegas ke loby parkir. Tepat di samping mobil Rico. Ia hanya melihat Erwin yang lebih dulu tiba. Sehingga Hanum menghampiri dan Erwin segera bicara sebelum Hanum bertanya.


"Pak Rico akan hadir, tidak dengan mobil. Permisi bu!" senyum Erwin membuat Hanum kebingungan.


"Ok! baiklah terimakasih."


Tak menunggu lama, sepeda motor ninja membuat Hanum terbelalak. Helm hitam dan jaket kulit yang dikenakan pria itu. Rico membuka helm, lalu memberikan jaket pada Hanum dan helm.


"Ayo, ngapain bengong?"


"Pakai dulu! nanti kamu tau." senyum Rico.


Mata hanum sedikit lunglai, tubuhnya gemetar. Jaket yang ia pakaikan, dan benar saja dalam balik punggung. Hanum tersenyum tidak tau artinya, apa yang ditertawakan. Mungkin Hanum hanya sedikit malu, atau terlalu melayang ketika hal manis kejutan Rico membuatnya gembira. Terlebih kesan tampilan Rico sangat sempurna.


"Udah siap? kamu senyum Hanum?" menoleh Rico menatap wajah Hanum.


"Heuum! enggak, aku tadi sedikit ada yang lucu. Jadi dari kerjaan, soal dewi."


"Dewi kena musibah, lucu?"


"Oh. Bukan itu maksud saya, soal Vita. Ia soal Dewi aku lupa, aku ada janji dengannya. Bodoh Hanum kamu," merutug kekesalan sendiri.


Rico menarik tangan Hanum yang turun dari motor. Ia kembali memakaikan helm, dan mencubit pipi Hanum.


"Hanum, soal Dewi sudah diurus Erwin. Soal kamu, ikut denganku!"


"Hah! jadi kamu udah tau semuanya?"


"Tentu, memecat Linda sekalipun. Siapapun yang macam macam dengan kamu. Daftar hitam lapangan kerja untuknya. Maka dia menggali kuburannya sendiri."


"Ric, tapi itu terlalu jahat namanya."


"Jika kamu mau jadi pacarku, akan aku pertimbangkan. Dan semua aturan, hanya kamu yang berhak memerintah."


"Tapi, aku .."


"Ikut aku! jangan jawab sekarang Han! keburu dingin, ayo naik lagi!"


Senyum Hanum, dalam beberapa saat. Hanum serasa bagai permaisuri. Kakinya benar benar dicek, jika kaitan kakinya salah. Benar benar sedekat ini, membuat Hanum sulit bernafas. Terlebih kedua tangannya di gerakan untuk memegang dan melingkar ke pinggang Rico.


'Ya ampun, sepertinya aku hanya kagum. Bukan jatuh cinta.' batin Hanum, jiwanya seolah malu dan berdebar menjadi satu.


\*\*\*


"Jadi dia ga ada di sini?" tanya Alfa, di gerbang rumah Hanum.


"Ya emang ga ada, lagian ngapain lagi sih. Hanum udah ga punya hutang, kenapa nyesel setelah ditinggalin Hanum, sadar kamu Alfa. Papamu itu gila harta, dan kamu itu tidak pantas untuk adikku!" ketus Lisa, ia menutup pintu pagar.


Lisa masuk kedalam rumah, sementara sang mama membuka pintu kamar. Ia menanyakan apa ada tamu. Tapi Lisa jawabnya tidak ada yang bertamu.


"Mama, makan malam dulu ya! Lisa bawa buah kesukaan mama."


"Hubungi Hanum. Lisa, mama khawatir!"


"Ya mah, ini Lisa mau hubungi dia. Tapi .." terdiam Lisa.


Ada apa nak? panik mama Rita.


"Heehhuuum. Hanum baik baik aja, dia udah kirim pesan. Katanya mau jenguk ke rumah sakit temennya."


"Oh! ya udah, tapi kok wajah kamu senyum senyum sih Lisa. Kamu ga boongin mama kan?"


"Haaah,..Eeuuum." menyipitkan mata.


Lisa bingung ingin menjawab, terus terang kali ini, ia mendapat info dari seseorang. Jika Hanum sedang bersama pria baik.


'Sebenarnya aku ga masalah kalau Hanum kembali menikah, tapi apa Rico itu benar benar baik dengan Hanum. Huuft! alamat dilangkahi lagi aku ini.' batin Lisa.


"Han, kok bengong?" tanya mama.


~ Bersambung ~


Makasih udah suport dan dukung Hanum, poin serta vote tiap senin selalu ramai. Tunggu surprise dadakan dari Author ya.