BAD WIFE

BAD WIFE
RAY KEBINGUNGAN



"Rico cepatlah! aku tahu ini hari libur, apakah kau tidak kasian. Ingin bertemu saja, kau harus meminta istrimu memotong banyak lemon. Apalagi kau gigit tanpa rasa kasihan pada kami yang ngilu menatapnya?"


"Memang kenapa ini Lemon Ray! jangan lebay." ujar Rico dengan enteng, ia mengunyah potongan lemon tanpa wajah ekspresi.


"Ahaha! lihat Erwin, kau jadi asistennya tidak tahu. Kenapa bosmu begini aneh hah? potongan lemon dia kunyah seperti mengunyah permen karet saja." bisiknya.


"Saya juga ga mengerti pak Ray." balas Erwin yang sama bingungnya.


Hanum membawakan cake, lalu ia tahu jika kedua pria di depan suaminya ini sangat kebingungan akan tingkah mas Rico. Hanum hanya semar mesem, meletakan cake dan kembali pamit.


"Mas, Hanum ke mama dulu ya! sekalian Hanum mau lihat si kembar."


"Iy sayang, jangan lama lama. Kalau bisa kamu dan si kembar kemari. Temani mas, tetap di samping mas!"


Gleuuk!! terdiam Ray! nasib para jomblo menatap Rico yang manis, terlalu lebay membuat Ray dan Erwin saling menatap. Sadar akan Hanum yang melihat ekspresi dua pria didepan suaminya. Hanum ingin terkeukeuh tawa, tapi ia tahan. Sehingga saat Hanum pamit, dan telah berjalan jauh. Hanum tertawa tanpa bersuara.


"Han, kok ketawa sih. Ada apa?" tanya mama Rita yang menggendong baby Azri.


"Gak apa mah! akhir akhir ini tolong maklumi perlakuan mas Rico, ya mah! terlihat seperti bocah. Mirip si kembar manja aja lewat."


"Loh kenapa? apa ada masalah di kantor. Atau ada yang lucu dikantor Rico. Baik baik loh Hanum." mama Rita sambil menimang.


"Enggak kok mah! jadi mas Rico itu ngidam, kata dokter ini gejala kehamilan simpatik. Dan karena itu, kebiasaan mas Rico membuat semua klien bingung karena nguyah potongan lemon, bahkan Erwin sendiri kebingungan karena ini bukan mas Rico banget." tambah gelak tawa Hanum. Hampir membuat baby Ghina menangis, karena tawanya.


Mama Rita juga ikut tertawa, pasalnya ia nomor satu yang ia beri kabar sedang hamil. Dan itu membuat mama Rita ikut tertawa, tapi sedikit kasihan dan memaklumi karena belum banyak yang tahu jika Hanum sedang hamil kembali.


"Ya ampun, kasian menantu mama. Dia pasti kerepotan, bagi Rico biasa aja makan lemon tanpa mimik wajah berbeda. Tapi bagi yang lain, lihat pasti aneh." jelas mama Rita kembali tertawa.


Hanum menyapa dua bayinya, pasalnya kedua pengasuh nya sedang mempersiapkan baju bayi, untuk memandikan Ghina serta Ghani. Hanum yang melihat ranjang besar, melihat si kembar sedang riang tertawa melihat benda berputar diatas renda kasur bayi.


"Sayang, anak bunda. Kamu seneng ya lihat bintang bintang warna warni. Kamu mau susu sayang?" ucap Hanum menyapa Ghani yang mengemot jempol jari, Hanum meraih jari jemari Ghani yang seolah merespon.


"Lucu ya Han! Ghani itu mirip kamu, kalau Ghina mirip ketiplek Rico banget."


"Iy mah! Ah, rasanya mereka cepat sekali besar. Hanum yakin kalau nanti Hanum kembali lahiran. Ghina, Ghani dan Azri serta bayi yang di kandung Hanum ini, besar nanti. Pasti mirip anak kembar semua jika sudah besar."


"Siap bos ratu. Hanum pahami, dan siap laksanakan." senyum Hanum pada sang mama, ia juga sedikit bergelendot pada tangan mama yang sedang menimang Azri.


"Eehm, mulai deh. Rico manja sama kamu, ini kamu manja sama mama. Jangan bilang ini kemauan bayi ya?" goda mama Rita, yang sudah paham Hanum putrinya itu.


Hanum juga menatap bayinya, bayi perempuan bernama Ghina yang kini mulai beranjak tiga bulan lebih itu, membuat senyuman khas mirip Rico. Benar jika anak perempuan akan mirip papanya. Dan wajah Anak laki laki akan lebih banyak ibunya. Hal itu yang ia rasakan, tapi saat melihat Azri. Hanum terkesiap ketika bayi itu menangis karena haus.


Mama Rita bicara, jika Azri mirip sekali Lisa. Mama seperti sedang menggendong dan kembali di momen Lisa bayi. Mata yang bulat dan besar, membuat tatapan bayi itu lebih mirip Lisa dan sedikit sekali perpaduan Fawaz.


"Iy mah, Azri seolah pelipur duka wajah kak Lisa hadir sebagai obat rindu kita." lirih Hanum.


Ooooeeek!


"Sini sayang, oma lap ya. Azri pup ya, sini biar oma rawat kamu. Bantuin bunda Hanum yang kerepotan. Semoga kamu jadi anak soleh ya! akur sama kakak Ghina dan Ghani."


Hanum yang menghangatkan asi, ia langsung terkesiap menatap sang mama membicarakan panggilan untuknya. Kini Hanum dan Rico harus lapang, ketika Azri akan menjadi anaknya. Hanya saja setelah dewasa ia akan kebingungan, ketika lahirnya berbeda dengan sang kakak selama jarak tiga bulan. Dan itu mungkin akan membuat luka kesedihan bagi Azri jika ia mengetahui Hanum bukan ibunya. Melainkan Hanum seharusnya adalah sang bibi bagi Azri.


"Azri, kelak apapun kamu mengetahui yang sebenarnya. Bibi Hanum akan selalu menjadi ibumu. Paman Rico akan selalu menjadi ayahmu." mengelus pipi. Sementara Hanum masih menggendong baby Ghina.


Hanum kembali ke ruangan tamu. Setelah tiga bayi itu terlelap tidur kembali. Mama Rita juga sedang istirahat tak jauh, hari hari mama Rita adalah menatap tiga cucunya yang sedang diasuh ketiga pengasuh. Ada bibi juga yang lama tinggal bersama sang mama yang merawat segala kebutuhan sang mama.


Tanpa sengaja Hanum mendengar ocehan Erwin dan Ray.


"Sudahlah! kau acc saja. Lagi pula ini pertemuan pertama, apa tidak aneh seorang Rico datang masih saja meminta Erwin yang handle. Lalu kau mengemut sepotong Lemon seperti ini, Rico kau ini aneh sekali, sebenarnya apa yang terjadi sih pada seorang Rico pemilik market Marco?" teriak Ray.


"Tidak ada yang aneh. Hanya sedang ingin saja, dan ini membuat aku tidak mual. Kau ingin kerjasama berjalan lancarkan. Siapkan esok meeting ada bangku untuk istriku, dan ranjang bayi satu! satu meja dengan wadah potongan lemon. Erwin cepat perintah dikantor!"


"Baik bos." ucap Erwin dengan wajah pucat, ia tidak bisa menolak jika itu permintaan Rico.


Sementara Hanum, ia mengigit bawah bibirnya. Seolah bingung, jika Hanum bicara Rico sedang terkena Sindrom couvade. Tapi apa tidak akan ditertawakan nantinya jika semua tahu?! benak Hanum.


"Mas Rico, jika aku tolak aku tidak ikut meetingnya. Apa moodnya akan kacau nanti?" lirih Hanum, yang memikirkan wibawa mas Rico tidak jatuh.


Tbc