
Lisa, sedikit terpana kala Hanum dengan mama Maria, juga berada di toko tersebut. Belum lama Lisa juga makan bersama dan ke toko tas itu bersama tante Felicia. Hal ini juga di sambut mata yang hangat dan senyuman, Maria ikut menyapa.
"Loh, kamu Lisa kan. Sama Fawaz juga?"
"Hello, Bibi. Ya, Fawaz dan Lisa terikat project." jelas Fawaz.
'Begitukah?' batin Hanum, ia lalu senyum menampaki dan menyemangati Lisa.
"Selamat atas pekerjaan barunya ya kak! kalian memang serasi. Semoga semuanya lancar."
"Hanum, tapi kaka..,?"
"Kak, Hanum menyemangati kaka." bisiknya.
Ada raut tak percaya bagi Lisa, dan menatap Fawaz yang sedang berbicara dengan tante Maria di ujung sudut. Ia sedang bertanya soal tas mewah untuk dorprize. Mata Lisa tertuju pada tas berwarna abu dengan tulisan berwarna gold pink.
Hingga Hanum memberi saran, pada Maria sang mertua, kala ikut menghampirinya. Hanum bertanya, apakah salah satu doorprize bisa ia pilih salah satu warna yang ia suka.
"Mama, warna gold pink itu terlihat bagus bukan?"
"Ya! mama juga suka, tapi mama sudah punya sayangnya." senyum Maria.
"Benar, tapi bukankah terlalu mewah Han?" lirik Fawaz menatap Hanum.
"Selipkan saja, siapa tau yang beruntung adalah yang terbaik. Lagi pula sesuai nomor kan, biasanya doorprize untuk karyawan tiap level berbeda. Dan salah satu tas ini pasti dia wanita istimewa jika perempuan, begitu pun sebaliknya." jelas Hanum.
Hal itu juga membuat Fawaz memilih, lalu dengan sadar ia segera membelikan dua motif yang sama, untuk ia berikan pada Hanum diam diam.
Hingga beberapa saat lamanya, Hanum dan Fawaz serta mertua juga Lisa ikut makan bersama. Lalu berpisah kala semuanya selesai dengan keperluan hari itu. Bedanya Hanum dan mama mertua Quality time, bukan soal pekerjaan seperti Lisa dan Fawaz.
Keluarga Rehan.
"Lis, kita udah sampai. Kamu mau ikut masuk, atau tunggu di dalam mobil?" tanya Fawaz.
"Lama ya?"
"Enggak juga! setelah ini aku antar kamu sampai depan kantor. Barang barang ini, aku berikan pada Rehan. Dia orang kepercayaan aku dan David juga, jadi biar mereka saja yang membungkus dengan baik."
"Ooh! baiklah, aku ikut." senyum Lisa, yang merasa tak enak.
Lisa mengekor dimana Fawaz jalan lebih dulu. Tak sadar bu Alea adalah wanita yang menolong Lisa, hingga ia masuk bekerja lewat kontes sekarang ini. Sayangnya rumor kedekatan dirinya dengan Rehan belum tercium, meski Lisa telah memblok dan tak pernah berhubungan lagi dengan Rehan.
Fawaz segera tersenyum, kala Rehan keluar dari pintu rumahnya, seolah telah tau jika Fawaz telah sampai. Di iringi Alea sang istri. Meski saat ini tanpa pengawalan manager,
"Hey! Rehan. Udah bawa barangnya nih, cek langsung ya! Bahan lain semuanya beres." jelas Fawaz.
"Terimakasih dokter sukses. Anda luar biasa." puji Rehan. Sementara Alea menatap Lisa dengan senyum sempit.
Mungkin karna Alea lelah akan banyak mengurus segala hal. Baik rumah, keluarga dan mendampingi suaminya dalam sebuah acara kantor. Meski begitu, Alea tak boleh mengeluh, menjadi istri pria hebat sudah harus ia ikhlas. Menjadikan Rehan sebagai manager saat ini, sehingga lebih baik untuk kehidupan kelanjutannya, karna pamor keartisannya meredup.
Satu jam berlalu Rehan menatap wanita di hadapannya. Ia tersenyum akan masa lalu bersama wanita lembut seperti Lisa.
"Karna kamu wanita berarti, aku tersenyum akan tingkah agresif mu dahulu saat kamu mengabaikan aku. Dan aku tersanjung, kala pak Fawaz datang bersama wanita Al, kamu sadar ga sih?" bisiknya.
"Heuumph! Mas aku hanya..," Alea menelan saliva, ia langsung minum seteguk air karna terasa serat. Rehan mengingat masa lalu membuat wajahnya semakin malu. Di pikiran Alea suaminya itu menatap Lisa, apakah ia menyukai atau sedang berterus terang dialah wanitanya, yang sempat suaminya kagumi.
Ya dulu itu Alea bodoh, yang buta akan mengejar pria yang menurutnya akan terpesona. Dan telah di sakiti, karna dia pria yang bukan sukses mempunyai segalanya, ia masih saja membuat Alea terjatuh dan tak bisa bangkit. Melepas juga tak bisa, atau karna bucin mencintai pria bernama Rehan, meski berkali kali selingkuh tetap menerima.
"Tapi Mas, aku kini yang terpesona padamu. Karna dirimu dan adanya putra kita aku makin menyukaimu, kamu berbeda." bisik Alea lagi.
Sementara Fawaz, ia segera pamit. Tak lama karna ia akan dinas kembali nanti malam. Sehingga Lisa juga ikut pamit pada pak Rehan dan bu Alea.
Beberapa menit kepergian Lisa dan Rehan. Alea istri dari Rehan syok! kala dirinya menatap mobil itu tak seperti biasanya. "Mas, apa dia wanita itu. Aku kecewa sama kamu?!" teriaknya berlalu pergi.
"Bukan begitu sayang! tunggu aku!"
Braagh!!
"Sayang, bangunlah! Aku selalu ada, dan keluarga ku adalah keluargamu juga."ucap Rehan. Ia meminta Alea berdiri dan percaya padanya. Sehingga Alea yang lemas dan hampir jatuh, segera di peluk.
***
KELUARGA JHONSON.
"Jadi benar, perusahaan itu kakakmu bekerja Hanum?" tanya Jhoni.
"Ya pah benar, dan kalau di ijinkan. Bolehkan Hanum bekerja juga?" gugup Hanum.
"Apa, kamu sudah ada suami. Untuk apa bekerja, bukankah kartu black dari mertuamu cukup. Bahkan kamu berbelanja sangat banyak loh. Papa boleh tau, kamu gunakan untuk apa?"
"Belanja, sangat banyak. Boleh Hanum lihat riwayatnya pah?" panik Hanum, lalu menatap Alfa disampingnya.
Karna saat ini mereka memang sedang di ruang televisi bersama. Sambil ngobrol masa depan.
"Bukan maksud papa ga boleh, papa ingin tau kamu belanjakan apa sih?"
Hanum terdiam, ia bahkan tidak tau jika kartu itu ada dimana. Sehingga Hanum menyenggol injak kaki Alfa, agar ia tidak disalahkan.
JREET!
'Auuuuwh.' batin Alfa menoleh ke wajah Hanum.
"Kamu jelasin sama papa, soal kartu black. Belanjaan itu bukan aku. Atau aku katakan semuanya!" ancam Hanum.
"Kalian kok bisik bisik, ada apa sih?" tanya Maria, seolah ia tau gelagat putranyalah yang tak beres.
--- bersambung ---
Next tunggu ya!! Author baru aja mudik, delay karna jaringan tak ada. Insyallah besok crazy up lagi ya. Buat Hanum dukung terus, dan makasih buat semuanya All.