
"Aku berhenti di sini aja, kamu ga ikut aku kedalam kan?"
"Emang kenapa, ok! baiklah. Aku juga mau online soal laporan di perusahaan. Jadi aku akan berada jauh dengan kamu duduk Han."
"Terserah! ada baiknya kamu ngantor, aku malas berdebat." lirih Hanum.
Hanum yang malas naik urat saat bicara dengan Alfa. Ia turun dan lebih dulu ke meja yang telah di pesan oleh Nazim. Alfa sedikit mengingat siapa itu Nazim, bahkan alasan ia yang online soal perusahaan hanya alibi. Semua itu Alfa lakukan hanya ingin mematai Fawaz yang datang secara mengejutkan.
Hanum ingat saat melepas seat belt. Sehingga ia menutup mata sedikit, guna melepas nafas tak beraturan. Alfa memang membuat ia semakin gila, meski hati Hanum ragu. Dalam dirinya ia tanamkan karna belas kasihan, atau semacam memberi kesempatan sampai bukti jika Alfa benar benar berubah.
CAFE STAR!
"Udah lama Han? Maaf sedikit telat mbak nih."
"Ga apa kok mbak, Hanum juga baru beberapa menit sampe."
"Tunggu! kamu di anter Algozo? dia kok disana sambil natap meja ini? kalian ..," tanya Nazim.
"Itu dia mbak! semenjak dari rumah sakit Alfa ikutin terus. Hanum ga yakin, kalau Alfa benar benar serius. Dia bilang udah putus sama artis movie itu."
"Mbak sih ga bisa minta kamu harus gini Han, tapi pasti ada maksud tertentu. Lebih baik ketemuan dulu sama wanita itu diam diam, rekam sekalian, tanpa dia tau. Eh ya! soal Fawaz gimana Han?"
"Hanum bingung mau bicara apa mbak. Hati Hanum seolah ga bisa kembali sama Fawaz. Pasti bakal banyak rintangan, belum lagi ada satu hal yang Hanum yakin. Fawaz pasti bakal dapetin wanita terbaik selain Hanum. Fawaz itu hanya sedikit introvert kak! dia cuma kenal Hanum, jadi wajar kalau dia masih bilang maunya komitmen sama Hanum."
"Kenapa kamu bicara kaya gitu, kamu jatuh cinta sama Algozo?"
"Alfa mbak. Namanya kok di ganti, ga enak aja didenger." senyum Hanum.
"Tuh kan! keliatan kalau kamu itu care sama dia. Buat mbak sih dia tetep Algozo. Bedanya dia mengambil madu banyak wanita. Bikin nyawa kamu jantungan juga kan? Mending pikir dua kali deh."
Hanum tak berani mengatakan, jika ia mundur dari Fawaz karna dirinya tidak pantas. Bagi Hanum, seorang dokter seperti Fawaz harus memiliki wanita yang masih lajang.
Yang hanum pikirkan adalah, jika Fawaz berdampingan dengannya, yang notabane sudah pernah menikah. Apakah ibunya akan setuju, terlebih dua kekuatan yang Hanum rasakan dengan mata yang ia lihat. Lisa menyukai Fawaz, dan kode lampu hijau itu terbuka untuk Lisa dari ibundanya.
"Kamu mikirin apa? ada yang mau kamu bicarain sama mbak?"
"Soal. Hanum sih ga yakin, tapi kalau Hanum pikir ini itu karma mbak. Apa mungkin seorang pria akan setia jika ia menikahi Hanum yang tidak gadis lagi?"
"Han, pria baik dia ga akan ungkit status wanita yang ia nikahi. Dia pasti nerima kamu apa adanya, soal Alfa. Mbak akan bantu, pasti ada maksud terselubung dia baik sama kamu. Ingat kode awal, dia mau nikah punya anak demi nama dia ga di coret dari daftar keluarga kan? itu berarti cuma kamu yang kuat hadapin putra Jhonson kaya apa." jelas Nazim yang ga suka lihat Hanum lembut, dengan pria yang udah keterlaluan.
Hanum mengangguk, mereka memesan makan hingga beberapa puluh menit. Hingga Hanum baru sadar, sebuah pesan sepuluh menit lalu jika Alfa pergi meninggalkannya. Ia pamit karna ada meeting mendesak.
"Kok ngelamun? baca pesan apa sih Han,?"
"Alfa bilang meeting. Dia nyuruh aku pulang naik taksi dan hati hati, mbak."
"Terus, kenapa kamu kaya muram gitu? kamu kepikiran dia sama wanita lain. Fix kamu jatuh cinta Hanum."
"Haah! ga mungkinlah. Lupain soal itu mbak, oh ya. Gimana soal data tes darah putri?"
***
Beberapa jam kemudian.
Lisa saat ini datang kembali ke rumah sakit al zeera. Mengantar sang mama check up. Lisa juga janjian sama Hanum, jika ia akan bertemu dekat rumah sakit, karna kebetulan Hanum sedang tak jauh di area rumah sakit.
"Mama! Lisa tebus obat dulu ya! mama ga apa tunggu disini sendirian. Lisa gak lama kok."
"Ga apa Lis, mama kan juga masih infus sebentar. Sekalian jemput Hanum ya, mama kangen sayang!"
"Iya mah! Lisa coba hubungi Hanum." senyum dan pamit.
Ada rasa gemuruh, ketika Lisa menunggu antrian di apotek. Setelah menunggu selama dua puluh menit, Lisa cukup kesal karna Hanum tidak merespon panggilannya.
"Dasar anak bungsu, bikit ruwet terus bisanya. Ga tau, kalau mama kangen. Udah jam segini dia masih belum datang juga?" Lisa menatap jam di lingkar tangannya.
Satu tangan Lisa masih memegang ponsel, satunya lagi menenteng kantong plastik bening. Namun saat menoleh keruang anggrek. Lisa terkejut ketika ia melihat Hanum.
"Hanum, kok dia diruangan itu? pantas jam karet ni anak."
Lisa yang ingin menghampiri. Ia cukup dikejutkan kala Dokter Fawaz keluar dari pintu pasein. Lisa menatap lantai ini adalah, dimana bukan ruang dinasnya bertugas. Lisa memperhatikan dibalik tangga, sekitar satu meter terhalang dinding dan tangga. Meski begitu saat Hanum bicara dengan Fawaz percakapannya masih terdengar karna ruangan yang membuat berdengung.
"Fawaz. Aku minta maaf baru bisa nemuin kamu, aku udah coba berkali kali kerumah kamu tapi kamu ga ada. Sibuk ya?"
"Han, aku cukup sibuk! aku memang ga mau bertemu kamu dan fokus pada pasein ku. Sebaiknya kita ga bertemu sampai kamu bulat memutuskan status kamu!"
"Fawaz, kamu sebagai dokter. Kenapa begitu sama aku. Aku ga pernah liat kamu kaya gini?"
"Hanum! aku ga perduli tanggapan siapapun, yang pasti kita yang jalani setelah kamu bercerai dengan Alfa! aku menghindar dari kamu, karna aku ga mau dengar kalau kamu berubah pikiran apalagi beri kesempatan sama pria itu!"
"Fawaz..." lirih Hanum syok, saat ia berterus terang.
"Satu lagi! aku bakal nerima pertemuan kita. Kalau status kamu jelas. Apa susahnya bicara sebenarnya sih Han! beribu orang jodohin aku, itu ga akan merubah hati dan kecintaan aku sama kamu. Paham!"
Fawaz pamit, sehingga Hanum terdiam pasi. Ia tak menyangka pertemuannya dengan Fawaz akan sekejam ini. Sesak bagi Hanum untuk merenung dan memutuskan.
Sementara ada hati dan tangisan seorang wanita yang berbalik badan. Ia berusaha acuh dan tak mendengar apa apa. Bagi Lisa ia sudah cukup mendapat penolakan dari pria yang ia kagumi, tapi berakhir kandas.
"Loh! ka Lisa."
Teriak Hanum yang berlari mengejar Lisa, dari belakang Lisa saat berjalan.
To Be Continue!!
Semoga cepat reveiwnya ya! Nt lagi gangguan All. Jadi up nya sedikit lama. Makasih atas dukungannya untuk Hanum.