BAD WIFE

BAD WIFE
HANUM YANG SEKARANG



Saat ini Hanum dan Rico sudah sampai di desa Arga. Ia segera turun dan menurunkan barang barangnya. Terlihat seorang warga yang menyambut kedatangan Rico saat ini.


"Pak Afandi, apa ini den Rico yang dibicarakan waktu kemarin?" tanya pak Abdul.


"Ya, benar. Ini pak Rico, dan ini istrinya bu Hanum."


"Wah, selamat datang pak Rico dan bu Hanum. Semoga betah ya!"


"Terimakasih pak Abdul, apa bapak orang yang di maksud papa saya?" tanya Rico dengan memberikan sebuah album foto.


Hingga beberapa saat, pak Abdul langsung memeluk Rico dan berkata dengan puitis dari hati. Ia tidak menyangka jika Rico yang di maksud adalah masih satu keluarga jauh darinya.


"Ya ampun, pak Abdul mah masih mamang atuh den."


Mereka semua masuk kedalam rumah yang terbilang minimalis. Hanya ada satu kamar tapi tidak begitu luas, sehingga Hanum dan Rico masuk. Hal yang Hanum sadari adalah menatap suaminya.


"Mas, ga apa apa kan?"


"Ga apa sayang, yang penting masih bisa mandi bersama dan berdua bersama kamu." bisik Rico.


"Maas," menatap malu, apalagi beberapa orang senyum berbisik.


"Ini udah bapak suruh orang bersihkan, tinggal istirahat aja. Nanti bapak kasih tau warung di dekat sini."


"Terimakasih loh pak. Ini sudah lebih dari cukup, untuk kami berdua."


Hingga Afandi dan Bilah sang istri. Ia pamit, mereka pergi meninggalkan Rico saat ini berdua dengan Hanum di rumah baru.


"Ric, masih ada tugas lain. Ga apa gue tinggal ya bro!"


"Ini udah lebih banyak bantu gue, makasih ya."


"Sama sama, ada apa apa kalian kasih tau aja ya. Pos anak buah ga jauh dari sini!" titah Afandi pada Rico. Hingga mobil dan pengawal polisi pergi tak terlihat.


Beberapa jam telah sampai di desa Arga. Hanum ikut menimbrung pada warga. Termasuk Rico yang menyapa pak Abdul orang berpengaruh di bidang pertanian setempat.


"Bapak kegiatan di kebun apa?"


"Padi, banyak Den! mau ikut?"


"Boleh, tenang saja saya ga capek. Udaranya segar, sekaligus siapa tau saya bisa ikut bantuan dan belajar."


"Ah, saya jadi malu. Sekelas den Rico mau ikut bertani? hayo atuh lah. Bapak jadi enak ini." terkeukeuh tawa.


Rico menatap senyum pada Hanum, setelah meminta ijin. Hanum juga bicara akan menyusul. Karena rumahnya benar tak jauh dan terlihat dari jarak kebun dan petani yang sedang mengolah dengan alat yang terbilang membutuhkan banyak tenaga.


"Mas, ganti baju dulu ya! pakai baju hitam atau coklat. Jangan putih seperti itu!"


"Baik sayang, mas akan ganti. Apapun mas akan turuti. Bahkan ke gunung sindur akan mas seberangi dan lewati demi kamu."


"Mas, udah ih. Gombal terus, kasian pak Abdul udah nunggu di luar. Nanti aku nyusul ya!"


Beberapa puluh menit kemudian, Hanum ikut menyusuri perkebunan, dan ibu ibu di sana mengenalkan diri. Rico yang di ajak bertani langsung, Hanum segera mengambil rantang dan menyiapkan makanan serta minum. Jaga jaga sewaktu mas Rico terasa lapar di sana.


"Mas, Hanum pulang sebentar ya?" teriak halus, melambai tangan. Rico pun membalas senyuman terlebar bahagianya, melambai tangan tanda, Ya.


Tapi beberapa saat Hanum kembali, dirinya terkejut ketika wanita datang menarik Hanum dan meminta waktunya sebentar.


"Adelia..." terkejut Hanum.


"Mbak Hanum, Adelia mau bicara peringatan buat mbak!"


"Kamu bisa sampai disini, padahal kami mencari kamu dari beberapa waktu. Kenapa baru muncul sekarang? kamu sama siapa kesini?"


"Ga usah lebay, langsung aja Adelia mau bilang sama mbak. Sebelum mbak menyesal."


Hanum menghela nafas, lalu ia melirik tatapan balik yang tajam pada wajah Adelia.


"Apa mau kamu, masih kurang cukup buat keluarga Mark hancur. Terpecah belah, bahkan papa Mark yakni papa mu sendiri harus berpisah dari Rico, bagus Erwin setia dan tidak jadi menikahi kamu."


"Yang sopan ya mbak Hanum, dia bukan papa kandung Adelia. Jadi ga usah sok peduli!" ketusnya.


"What, mbak Hanum kira anak angkat yang ditolong tidak tau terimakasih hanya ada di sinetron. Benar ya, benar benar nyata mbah Hanum saksikan dengan mata kepala mbak sendiri." jelas Hanum meremas tangan yang sedikit gatal.


"Ga usah banyak omong ya mbak, aku cuma mau kasih tau buat mbak Hanum. Pesan untuk mbak Hanum, kesalahan terbesar cowo itu adalah berjuang dari nol, mbak Hanum yakin setelah mas Rico kembali di puncaknya, mas Rico masih stay sama mbak Hanum?"


"Adelia, kamu lupa perbedaan mas Rico membesarkan market Marco mirip seperti keluarga Mark yang merawat seorang anak yang tidak tau diri sepertimu, hanya karena cemburu. Jadi pasti mereka akan ikhlas kehilangan sekalipun itu kamu yang sudah di buang?" timpal Hanum.


Mendengar hal itu Adelia sangat sakit, ia kembali membuat Hanum down. Semua agar terdengar Alfa, karena gimanapun gerak geriknya terekam dalam mata telinga Alfa. Ingin sekali ia mencopot benda hitam, tapi jika ia lepas maka sengatan strum membuat dirinya dilema.


Tak sampai di situ, Adelia terus membuat Hanum berpikir ulang untuk mempengaruhi pikiran Hanum saat ini.


"Mbak Hanum lupa mas Rico adalah pengusaha market terbesar, lalu masih mau liat mas Rico bergabung bareng petani, panas panasan. Makan satu piring berdua, itu rantang. Pasti cuma nasi putih sama garem kan?"


"Adelia, sejauh kami pergi kenapa kamu masih bisa menemui kami. Apa kehidupan kamu adalah menguntit, kamu ga punya kerjaan lain?"


"Ga usah mengalihkan mbak, ingat semua pria bakal lupa segalanya kalau udah diatas, karena itu udah penyakit pria kan?"


Mendengar hal itu Hanum menertawakan sikap Adelia, ia membentur bahu Adelia dan berkata sebelum meninggalkan.


"Ingat, setiap wanita punya Value. Dan mbak Hanum merasa itu salah satu posisi mbak Hanum. Sehingga ketika pria itu sadar, ia akan menyesal dan berkali kali membuat seseorang jatuh untuk bisa kembali. Jadi kamu pulang dan beri tau bos kamu. Hanum Saraswati akan membuat hidup bos kamu berada dalam jeruji besi hingga lumutan, menjemput azal. Jika kalian masih saja membuntuti kehidupan kami! maka Hanum, tidak akan segan lagi!" senyum Hanum pergi.


Sementara Adelia merasa tertampar, ia terdiam tak lagi bisa mengejar Hanum. Karena jujur ia hanya berani muncul di depan Hanum, tapi tidak berani muncul di hadapan Rico.


Hingga saat itu juga, Alfa melepas earphone yang tersambung ketika Adelia dan Hanum saling berbicara. Hal itu membuat mental Alfa kesal sedunia, tak pernah ia bayangkan jika Hanum kini jauh delapan puluh derajat dari Hanum yang ia kenal dulu.


'Watak Rico, sikap Rico sudah tertular di jiwa Hanum. Aku harus cari cara! "Dan kau Adelia, cepat kembali ke mobil!" teriak Alfa memekik daun telinga Adelia saat itu, yang langsung pergi dan meregangkan benda hitam yang tertutup rambutnya.


Hayoo udah gimana nih soal Hanum?


Tbc.