
Pagi ini baby Ghina telah sembuh dari demam, tapi berbeda dengan mas Rico. Saat ini tubuhnya menggigil hebat, mas Rico nampak kelelahan. Hal itu juga membuat Hanum, menghubungi dokter untuk datang ke rumah.
"Han, udah selesai telepon dokternya?" tanya mama Rita.
"Udah mah! mama ga usah panik ya, Hanum ga apa apa kok. Hanum hanya minta mama, dan anak anak sehat terus aja udah seneng. Mas Rico kayaknya kecapean. Pagi ini ada meeting, Hanum terpaksa meminta Erwin buat pertemuan ulang."
"Tapi kamu juga lagi hamil muda, tetep jaga kesehatan Hanum."
"Iy mah, Hanum justru ga merasakan seperti ibu hamil pada umumnya, justru Hanum kasihan melihat mas Rico saat ini sering rasain seperti ibu hamil. Hanum ga tega lihatnya, kadang meriang. Demam, muntah muntah."
"Sabar ya Hanum, mama akan hubungi temen mama. Katanya ada ramuan khusus, yang bikin suami ngidam imunnya kebal, kalau Rico seperti ini kasian. Klien kecewa, yang ada market terbengkalai kalau ga ada Rico."
"Iy mah, andai Hanum mengerti soal rapat. Hanum ga ngerti, jadi ga bisa dampingi atau wakili mas Rico."
"Jangan merasa bersalah, tugas itu bukan kamu. Berdoa, sabar rawat suami kamu dengan baik."
"Iy mama cantik." puji Hanum pada sang mama.
Tak lama Hanum yang melihat asisten menghampiri, ia membawa kabar jika dokter sudah datang. Hanum juga meminta sang dokter segera naik ke lantai atas, melalui lift. Karena saat ini Hanum tidak bisa lelah, maka rumah kediaman barunya ada lift yang menuju lantai kamar privasi, dan kamar anak anak mereka berdampingan.
"Gimana dok, suami saya sakit apa?"
"Bu Hanum, pak Rico hanya kelelahan. Usahakan jangan stres berat! dimaklumi segala beban tumpukan pekerjaan, tapi terlalu di forsir ga baik. Saya akan memberikan resep obat dan vitamin untuk pa Rico. Semoga cepat sembuh! dan satu lagi, hindari buah asam. Lambung pak Rico sedang tidak baik." ujar dokter.
"Ah! iya. Makasih dok, saya akan usahakan merawat dan menjaga pola makan suami saya. Terimakasih ya dok."
Hanum telah memberikan obat pada mas Rico, setelah dokter pulang. Hanum tak lupa menyelimuti mas Rico, dengan selimut tipis. Terlihat desiran suara nafas berat mas Rico, yang membuat Hanum panik.
"Mas, cepet sembuh ya! Hanum ga mau mas kenapa kenapa. Hanum juga udah buatin jahe arang, mas jaga kesehatan. Hanum, dan anak anak butuh mas. Mas cepat sembuh ya!" lirih Hanum, dengan panik. Ia berusaha tenang meski hatinya berbalik.
"Sayang! mas ga apa apa, mas hanya butuh pelukan dan istirahat. Mas pasti akan sembuh kok." lirih Rico, dengan suara berat, jelas menahan sakit.
Tak lama Leo datang, ia mengetuk pintu kamar dan membuat kedua mata Hanum senyum merona.
"Bunda, paman papa. Leo boleh masuk?"
"Tentu sayang. Kemarilah! paman papa sedang tidak sehat, jika kamu berada di samping. Pasti akan cepat sembuh."
"Benarkah? baiklah, Leo akan duduk disamping. Sambil bercerita, dan mengusap kening paman papa." senyum bocah kecil itu, membuat Hanum ikut senyum senang.
Kehadiran buah hati, membuat Hanum suasana hidup di dalam rumahnya sangat ramai, tenang dan bahagia pastinya.
Tapi mas Rico tak pernah lelah. Mas Rico selalu punya cara untuk menenangkanku, tak lelah memberikan yang terbaik di saat ia baru melahirkan, apalagi kini kembali hamil dan mas Rico selalu siaga.
Sampai akhirnya ketika Hanum pulih, ketika Hanum mulai mencoba berfikir jernih untuk meluangkan waktu menjadi istri dan ibu yang terbaik, malah giliran mas Rico yang jatuh sakit.
Hanum jadi tak punya waktu untuk mencari tahu, cara memulihkan hati anak kecil bernama Leo yang tak pernah ia hampiri, apalagi bercengkerama dengan anak manis seperti ini. Apalagi mendengar keluh-kesahnya saat berkomentar. Hanum tak pernah memiliki waktu luang untuk itu.
"Bunda, bunda Hanum akan terus jadi bunda Leo kan?"
"Tentu sayang, Leo juga janji sama bunda Hanum. Jaga adik adik Leo nanti, karena tanggung jawab Leo. Nanti seperti paman papa, yang siaga menjaga adik adiknya kelak."
"Ok! itu pasti, terutama Leo akan selalu jaga baby Ghina yang cantik. Karena dia satu satunya adik wanita Leo."
"Heemph, benarkah? gimana kalau diperut bunda juga nanti adiknya perempuan?" tanya Hanum.
"Tidak apa sih, tapi Leo yakin adik di perut bunda. Adalah laki laki seperti Leo, Azri dan Ghani." senyum Leo, sambil mengelus perut Hanum.
Rico yang melihat aksi celoteh keponakannya yang telah ia rawat dan asuh sebagai anak sendiri. Ia begitu kagum, karena Leo sangat pintar dan penurut.
"Paman papa bangga, karena Leo berjanji dengan tulus. Sini peluk paman papa! habis ini, kamu ke kamar. Jangan lupa kerjakan pr ya!"
"Ok paman papa, Leo akan jadi anak baiknya bunda Hanum, dan paman papa Rico." celetug Leo dengan penuh semangat dan tawa lesung yang riang.
Tak begitu lama, Hanum mendapat ketukan dari asisten rumah. Hal itu membuat Hanum tertegun, penasaran siapa tamu yang datang.
Took! Took!
"Bu Hanum, ada tamu di luar." ujar bi inah.
"Tamu, siapa bi. Baiklah, suruh tunggu saja. Saya akan ke bawah sebentar lagi!"
"Mas, Hanum kebawah dulu ya! mas Rico sama Leo. Leo kamu jaga paman papa ya!"
"Baik bunda Hanum." senyum Leo, yang masih mengelus rambut Rico yang sedang terbaring dengan selimut.
Hanum yang telah turun dari lift, ia segera menuju ruangan tamu. Hingga saat itu, Hanum terkejut siapa yang datang.
Tbc.