
Hanum telah membaik, suasananya sedikit sensitif jika dirinya harus di ungkit masa lalunya, Rico memang mengerti dan sangat perfect bagi Hanum.
"Mas Rico sayang," bisik Hanum.
"Kamu panggil aku mas?"
"Heuumph! gimana, kayaknya lebih mudah tedengar bagus kan?"
"Baiklah, apapun itu."
Senyum Hanum, yang kini sedang membuat adonan kue cookies. Sementara Rico yang memotong sayuran, karena ia ingin membuat sup ikan gurame.
"Mas bisa buat ikan itu, aku jujur belum bisa. Apalagi bersihin sisik ikannya?"
"Tentu, mas dulu selalu buat sama Marie, tapi setelah masa sma kelulusan ia kecelakaan, ga pernah buat lagi. Mas bisa dari adik mas loh sayang."
Mendengar hal itu, Hanum jadi sedikit sedih. Andai saja ia benar mempunyai adik ipar. Mungkin dirinya akan dengan senang hati, terlebih mereka bisa bertukar cerita atau sekedar ke cafe bersama.
"Wajah kamu kenapa sayang, awas itu butternya kebanyakan?" ungkap Rico.
"Ah, iya. Benar mas, aku hanya membayangkan jika aku bisa melihat adik mas. Mungkin bisa bercerita banyak hal, andai juga Adelia tidak benci sama aku."
"Sudahlah! itu sudah takdir sayang, jangan pikirkan hal buruk lagi ok!"
Hanum dan Rico saling bercanda di dapur, suasana pagi ini sangat membuat hari mereka menyenangkan. Setelah menikah, mereka bisa melakukan apapun tanpa ada rasa takut dan berdosa. Sehingga dalam beberapa jam mereka selesai masak, dan makan bersama.
"Aku kipasin dulu nasinya mas, ah rasanya aku ga sabar deh. Sup ikan gurame buatan mas, pasti lezat." ucap Hanum.
"Mas juga ga sabar, katanya buatan cookies tangan istri itu terenak dari penjual kue yang biasa di pajang di toko kue."
"Mas, jangan buat Hanum malu deh. Buatan Hanum ga seenak toko kue. Kalah pastinya, jauh lebih enak di toko kue. Kan mereka buatnya berkualitas."
"Emang kamu pernah beli cookies di toko kue?"
"Enggak juga sih, hehee. Tapi kan toko kue rame, udah pasti enak."
Rico memutar mata, ia mengambil sendok dan mangkuk kecil. Pisau kecil untuk memotong daging ikan, dan kuahnya di tambahkan. Rico meniupnya dalam satu sendok.
"Ayo coba, mas udah tiupin!"
"Gimana rasanya, sayang?"
Hanum perlahan menyicip, ia membulatkan mata dan sangat bahagia. Jika suami perfectnya di depannya ini benar benar bisa memasak.
"Mas, kuahnya segar asem manis. Bumbunya pas, ga bau amis lagi. Mas aku bangga punya suami yang perhatian dan benar pintar masak."
Hanum juga menyuapi Rico, mereka makan dengan nasi dan sayur yang Rico buat juga. Rasanya tak jauh kalah dari bintang lima di hotel, terlebih spesialnya adalah masakannya adalah buatan suaminya.
"Mas, makasih udah masak pagi ini."
"Tentu sayang, selagi aku ada di rumah. Aku akan buatin untuk kamu."
"Mas, tapi kalau aku berhenti bekerja. Aku ngapain di rumah?"
"Kamu bisa ikut mas kerja sayang, mas belum mendapatkan pembantu di rumah ini. Kamu bisa gantiin Adelia, sampai Erwin berhasil merekrut karyawan baru. Bagian gudang masih perlu hrd." jelasnya.
"Kalau rekrut yang udah ada gimana?"
"Maksud kamu?"
"Bagian gudang, seleksi cara kerja mereka yang giat dan sudah lama. Sudah tau celah bagian gudang, bukannya lebih mudah ketimbang merekrut baru dengan sikap yang kita harus kenal dari awal."
Penjelasn Hanum membuat Rico tersenyum, ia mengecup kening Hanum yang masih bau ikan gurame. Karena spontan dan membuat mata mereka menatap dan tertawa.
"Mas,"
Setelah lama mereka makan selesai. Hanum memberikan segelas air putih. Memberikan tissue dan perlahan Hanum mengambil cookies dari oven yang baru saja matang kala berbunyi.
Hanum mengambil sapu tangan besar, perlahan. Rico menghampiri dan memeluk Hanum dari belakang, membuat Hanum gugup tak beraturan.
"Mas, tunggu dibangku. Nanti aku siapin ya!"
"Ga mau, mas maunya memeluk aja. Kamu tau kan, mas ga bisa kalau dekat kamu tuh bawaannya rindu terus, pasti buatan cookies ini paling terenak."
"Maka dari itu mas, aku merasa ga bisa kamu masih aja memeluk. Aku ga bisa gerak kalau kaya gini." menoleh wajah Rico.
Cuup! kilat Rico membuat Hanum tersipu lagi. Sehingga Hanum melanjutkan mengambil cookies dengan sendok stainless. Hanum mengambil salah satu dan meniupnya, lalu memberikan pada Rico.
"Mas, gimana rasanya?"
"Gurih, lembut, manisnya pas sayang."
Rico berkali kali mencicipi. Hingga satu loyang habis, membuatnya kekenyangan. Hanum tertawa puas, karena tingkah Rico yang makan itu dengan porsi yang sangat banyak.
Beberapakali Rico ingin nambah, tapi rasa perutnya sangat tidak muat. "Udah mas, aku masukin toples aja ya. Nanti lagi makannya!" ucap Hanum yang menahan tawa.
Ting! bell berbunyi, Hanum yang melepas celemek. Membuat dirinya menoleh ke arah pintu dan meminta Rico menunggu.
"Mas, aku lihat dulu ya?"
"Biar aku aja sayang, kamu selesaikan saja cookiesnya." kecup Rico pada pipi Hanum.
Rico berjalan dengan santai, pria berpakaian ketat warna coklat tipis mencetak itu. Hanya mengenakan celana boxer pendek. Hanum masih memasukan cookies ke dalam toples dengan wajah berwarna. Bagaimana tidak, dari punggung saja Rico sudah terlihat sempurna.
"Mas, aku malah takut punya suami ganteng kaya kamu. Perfect lagi, itu buat aku takut adanya kamu yang berpaling." gumam Hanum.
Sementara Rico yang membuka pintu, ia segera melihat tapi tak ada seorang pun di sekitar. Sehingga beberapa menit ia masih mencari, tapi tak ada tamu yang datang ke rumahnya.
"Mas, siapa yang datang?" tanya Hanum dibalik punggung Rico.
"Mas lihat, tapi gak ada. Baru kali ini ada tamu fiktif sayang."
Hanum dan Rico kembali masuk, lalu sesaat menutup pintu. Rico meraih punggung Hanum dengan memijit punggung bahu Hanum.
"Mas geli, oh ya. Kita bukannya mau ke pemakaman cluter Pondok ya?"
"Ya sayang, kita bersiap. Tapi sebelum itu kamu harus bantu mas."
"Bantu, bantu apa mas. Aku udah siapin semua baju di atas kasur, barang yang mau kita bawa juga aku udah siapin. Mas mau bawa laptop?"
"Bukan itu, tapi ini sayang!" bisik Rico menggesekan sesuatu. Ke arah Hanum yang menatapnya, saling berhadapan.
Hanum merangkul leher Rico yang sedikit membungkuk, belum saja mereka beraksi. Rico sudah melepas kaosnya, dan menaikan daster Hanum perlahan, duduk diatas sofa.
Tiba saja seseorang mengetuk dan membuka pintu utama, sehingga tatapan Hanum dan Rico menoleh.
"Rico saya..."
Gleuk! terdiam seseorang, sehingga ia kembali keluar.
"Maaf, saya akan menunggu di luar!" menutup mata.
Rico yang sudah menggebu, membuat tinju di atas sofa. Ia menoleh dan mengeluarkan gigi bagai ikan piranha ke arah pintu.
"Mas, jangan marah. Kita yang salah, lupa mengunci pintunya bukan?" bisik Hanum menenangkan suaminya.
Tbc.