BAD WIFE

BAD WIFE
IKUT SAKIT



"Mas, udah pulang?"


"Sayang! bagaimana kabar kamu hari ini apa melelahkan?"


"Enggak mas, semua baik baik saja. Mama dan Hanum baik baik saja. Gimana mas di kantor lancar?"


"Melihat kamu bahagai dan baik, mas pasti akan selalu lancar. Mama, apa ada yang sakit? jika ada sesuatu ada yang kurang bilang sama Rico, Rico pasti antar dan belikan."


"Ga ada nak Rico, alhamdulillah kesehatan mama juga semakin membaik. Udah kalian cepat masuk ganti baju, bebersih diri. Nanti mama bilang sama si mbak, buat siapin makan."


"Iy mah. Makasih, Rico dan Hanum masuk dulu. Kalau mama ada perlu sesuatu jangan sungkan bicara, hubungi Rico!"


Hanum dan Rico berada di kamar, Hanum melepas sepatu, dasi, kemeja dan arloji mas Rico. Meski hanya membantu, saat Rico sedang duduk di sofa. Hal itu rutin Hanum lakukan demi sang suami yang lelah mencari nafkah mendapat perlakuan istimewa. Begitu baiknya mas Rico padanya. Maka sudah seharusnya Hanum sebagai istri melakukan hal yang sama.


Hingga menjelang malam, Hanum bersandar pada bahu sang suami. "Mas, aku baca buku Lisa. Hanum merasa bersalah. Apakah kita harus tetap merahasiakan Azri anak kita terus menerus sampai dewasa. Agar Azri tidak pernah tahu kondisi ibunya yang tiada, dan ayahnya yang hilang akal saat ini. Hanum takut melukai hati Azri nanti?"


"Sayang, insyallah Azri akan menjadi anak yang baik. Tidak ada yang tahu kedepannya seperti apa, meski kita menghalangi pada dasarnya takdir sudah digarisi. Kita menyayangi Azri sama seperti anak anak kita. Tidak ada istilah anak angkat, atau anak bibi, keponakan, mulai dari saat ini biasakanlah Azri tetap anak kita." senyum Rico mengelus rambut Hanum.


Hanum kembali membaca buku Lisa, dan Rico ikut memeluk sang istri untuk menguatkan.


Pada hari minggu kedua, Lisa menemui kerjasama dan itu berkaitan bertemu Nestia.


Lisa berusaha mengabaikan perkataan Nestia, yang jelas di sampingnya adalah manager atau wo ambasadornya yang seperti pria gemulai. Atau dia adalah seorang busana tatarias khusus untuk Lisa.


Lisa mencoba menghiraukan, karena setelah mengantar makanan. Ia harus kembali pada suaminya itu, dan pergi ke tempat Sinta berada. Hal itu membuat Nestia kesal, karena Lisa acuh tak memperdulikan perkataannya.


"Heh! mau kemana lo Lisa, apa tempatmu pantas berada di gedung elite ini?"


Lisa pun menoleh dan mendekat pada Nestia.


"Apa maumu Nestia, apa aku selalu mengusik hidupmu?" tanya Lisa dengan menatap tajam.


"Heeeih. Ga perlu natap gue kaya gitu, mau gue colok. Gue cuma ga mau setiap gue pergi dan datang ke acara. Ada model pembuat kehidupan karier orang rusak."


"Permisi gitu ya? Nes! jalan ini bukan punya lo, sadarlah Nes. Masih banyak urusan pekerjaan gue saat ini. Lebih baik di tuntasin dari pada mangkrak! ingat bercermin lebih baik, kita satu project bukan maunya gue!" berlalu Lisa.


Dengan sigap, Nestia mengambil sebotol jus dalam botol besarnya. Lalu berusaha mengejar Lisa dan mengguyur di kepalanya. Tapi siapa sangka jika itu menjadi senjata makan tuan.


Nestia terpental kala bahu seorang pria terburu buru, tepat di belakang Lisa, ia berusaha mengguyur namun tersengkat oleh bahu yang menabrak.


BYUUUUR!!


Sehingga botol jus itu mengenai kepalanya sendiri. Membuat kekesalan dan Lisa menoleh cukup terkejut.


"I'm sory sis!" ucap pria bule itu, lalu pergi setelah meminta maaf.


Lisa yang cukup terkejut, ia ingin sekali tertawa, tapi hatinya berbeda merasa kasihan. Hingga di mana, Lisa tetap pergi dan pamit setelah melihat asisten Nestia menghampiri dan memberikan tissue.


"Akh! Sial, semua ini gara gara Lisa." ketus Nestia.


"Loh, bukannya bos tadi yang ngejar Lisa pake heels lagi?" tanya Marini yang lola.


Lisa tetaplah profesional dalam satu group periklanan. Ia tidak memperdulikan Nestia yang telah jelas menarik perhatian suaminya, menjadi miliknya. Hati Lisa sudah beku karena sakit hati pada seseorang akan membuatnya sakit jika diingat dan dilihat.


Lisa pergi menemui Fawaz, sudah beberapa pekan dirinya rindu. Sekaligus ingin menceritakan tentang Nestia yang semena mena padanya.


Lisa mencari Fawaz di ruangan kerjanya, ia menatap kamar tak ada tanda Fawaz di rumah. Dan ternyata, ia sedang berada di ruang televisi dengan santai di temani secangkir teh.


"Mas. Aku rindu sekali."


"Ya, kamu sudah pulang Yank. Hari ini ada jadwal syuting lagi?" tanya Fawaz. Hingga mereka pun berbincang bincang berdua saja tapi tatapan Fawaz berbeda.


Beberapa jam kemudian, Lisa menceritakan tentang kehamilannya. Ia bercerita, sementara Fawaz mendengarkan seolah tak suka, kala Fawaz menerima pesan dari seseorang.


"Aku pergi dulu ya! ada pasien darurat!" kecup Fawaz. Hal itu membuat Lisa diabaikan lagi. Dan ia tahu itu bukan pesan dari pasien, tapi dari Nestia.


'Ya Tuhan, ampuni aku. Semoga aku terus bersabar.' batin Lisa.


Uhuuuk...suara batuk Lisa semakin terdengar parah, wajahnya sedikit pucat. Lisa pun khawatir. Ia memanggil sahabatnya, Sinta untuk menemaninya pergi ke dokter. Kehamilannya yang ingin ia beritahu pada Fawaz. Tapi sosok Fawaz sangat menghindar terus menerus darinya.


Seketika Lisa mencari obat, dan menghubungi dokter untuk datang kerumah, kala Sinta berada jauh dan sedikit terlambat.


"Lisa, kayaknya kamu perlu banyak beristirahat. Tak boleh lelah dan banyak pikiran. Ini resep yang harus di tebus minggu lalu, dan sekarang kamu kembali sakit!" ucap Dokter.


Esoknya Lisa berlari ke apotik, ia sengaja tak meminta siapapun mengikutinya. Entah dari kapan, perutnya terasa sakit dan ia butuh pil pink untuk meredakannya.


Saat keluar, Lisa terkejut akan tatapan seorang pria menghadangnya. Ia menatap seorang pria yang pernah ia cintai dan mengkhianatinya tepat di hadapannya.


"Rain. Sedang apa kamu disini?" tanya Lisa.


"Bisakah aku berbicara padamu Lisa?" pinta Rain.


"Aku tak bisa, permintaanmu tak masuk di akal. Jangan lagi libatkan aku, ini belum satu minggu. Kamu sudah menemuiku?" tatapan Lisa merasa benci.


Lisa mencoba menghubungi Fawaz untuk mengalihkan. Ia berusaha untuk terus terang, setiap apa yang ia temui dan ia lakukan. Agar mas Fawaz tak salah paham.


Namun beberapa saat, Lisa sulit menghubungi, terlebih mas Fawaz pun susah di hubungi. Menghubungi Hanum juga sama halnya, sulit sangat di sayangkan. Kala ia tak bisa meminta pertolongan.


"Lisa. Lima belas menit, aku butuh kita bicara!" ujar Rain memohon pada Lisa.


Hanum menutup buku Lisa, ia memeluk suaminya saat itu, dengan rasa bersalah.


"Mas, aku merasa bersalah. Jadi saat itu kak Lisa sempat menghubungiku. Mas janji sama Hanum, cari orang bernama Rain. Dia itu kekasih lama kak Lisa. Hanum takut, dia juga terlibat. Karena dibuku ini kak Lisa dan dia sempat bertemu beberapa kali, Rain dia terus mengejar kak Lisa dan memaksa."


"Iy sayang! sabar ya!" kecup Rico, kala dekapan itu semakin intim.


Dan Rico kembali menarik daster Hanum hingga ke atas. Membuat Hanum merebahkan diri, menatap kening Rico yang telah berada di dalam balutan dasternya.


Hayoo ngapain ya Rico sama Hanum 😅.


Tbc.