BAD WIFE

BAD WIFE
HAL MISTIS



"Papa..." teriak balita.


"Papa, dah! dah!" teriak balita dengan senyuman tawa.


Fawaz melihat seorang wanita, dari balik punggung dengan balutan putih, ia bicara akan pergi senyum menggandeng seorang balita yang melambai tangan padanya.


"Jangan pergi, nak! sayang jangan pergi!" menetes air mata Fawaz tanpa sadar.


Nestia yang mengaduk kopi, membangunkan Fawaz di pagi hari.


"Honey, ayo bangun! kenapa kamu mimpi buruk lagi?"


Fawaz terbangun, ia duduk dan menatap Nestia. Kepalanya sedikit pusing, kenapa wanita asing bersamanya. Fawaz mengambil air putih dan ingin meraih kacamatanya, tapi Nestia tahan dan meminta Fawaz minum kopi agar ia rileks.


"Honey, kamu minum kopinya dulu. Biar seger."


Tanpa penolakan, Fawaz minum dan beberapa saat ia kembali tenang tanpa satu kata pun. "Aku mandi dulu ya! aku harus periksa jadwal pasien hari ini. Kerjaanku banyak, aku pulang malam."


"Iy, Honey. Bye."


Tidak perduli kamu pulang malam, yang jelas aku ingin kamu pulang ke rumah ini. Tidak peduli aku menyakiti hati wanita lain, tapi dengan sisa hidupku. Aku ingin bahagia dan tidak peduli dengan istrimu yang sedang hamil. Aku pastikan kamu lupa dan terus melupakan nama istrimu Fawaz. Kamu milikku, bukan milik dia.


Nestia senyum getir, ia merasakan kehangatan kala hidup tinggal bersama Fawaz dalam apartemennya. Bahagia, ia tidak pernah merasakan seperti ratu dan disayang oleh pria seperti Fawaz.


Sementara Fawaz yang mengucur air shower, ia berfikir aneh, ia memang fokus dalam pekerjaan dan beberapa usaha yang di handle oleh orangnya. Tapi entah kenapa ia sangat mencintai wanitanya yang berbeda saat ini, bahkan saat ia pulang ke rumah ia dari kecil, semenjak mama sudah kembali ke swedia. Ia sangat asing pada wanita bernama Lisa, setiap ia melihatnya dan perutnya yang buncit memanggilnya mas. Membuat Fawaz ingin marah dan kesal.


"Kenapa aku ini, kenapa hatiku seperti kosong dan nyeri sakit ke ulu hati. Ada apa denganku, apakah aku tanda sakit jantung. Heh! bisa saja dokter jantung dan bedah saraf, akan sakit seperti pasiennya bukan?" lirih Fawaz. Ia kembali berbunga ketika seseorang masuk.


Nestia membuka kamar mandi, ia yang telah bulat melepas piyamanya dan memeluk Fawaz dari belakang. Rayuan Nestia segera mungkin membuat geli di kuping Fawaz, ia membalikan Nestia tepat dihadapannya. Tanpa banyak kata, mereka diam dan memadu kasih dengan gelora yang tidak tertahan.


"Aah, honey jangan lakukan itu. Itu terlalu keras, kenapa milikmu seperti pi sa ng ambon yang sedang mekar."


"Kenapa, kamu menolak?" bisik Fawaz dalam alam sadarnya yang tidak melihat jelas.


"Apapun, pastikan aku milikmu. Dan kamu hanya milikku, honey. Kamu adalah milikku selamanya!" bisik Nestia meniup di kuping Fawaz.


Bisikan itu membuat Fawas melakukan olahraga ritual di pagi hari, ia lupa dengan apa yang ia lakukan saat ini. Baginya sosok wanita di depannya itu pasangan yang ia cintai. Hingga ia mengangkat Nestia, kedua kakinya telah bertungku pada pinggang Fawas. Kecupan hangat sudah mengalir ke jenjang leher Nestia dan turun semakin ke bawah pada kedua bulatan. Masih dalam mode pacuan yang membuat suara itu terngiang bagai surga dunianya seorang pria.


Gemuruh tubuh Fawaz yang bau obat rumah sakit tergantikan dengan aroma sabun, dan wewangian kopi yang selalu Nestia bubuhkan ke dalam aromatheraphy. Fawaz menyukainya, dan Fawaz merasa ingin lebih dan membuat lemah wanita di depannya itu merasakan kepuasan.


"Hari ini aku mau temui teman, aku ijin ya?"


"Kemana?"


"Buat vlog, tenang aja. Aku ga akan mempublikasikan kamu sampai kamu benar benar bercerai. Aku juga ga mau matahin karier kamu Honey."


"Good, aku berangkat kerja dulu ya. Aku bawa bekal sama kopinya." kecup Fawaz pada kening Nestia.


Nestia yang masih berdiri di atap balkon, menatap suaminya berlalu. Ia melambai tangan dan menghubungi seseorang.


"Bray! kopi dan serbuknya kirimin lagi. Buat stok, jangan sampe kehabisan. Persediaan di rumah udah menipis!"


"Nes, jangan berlebihan. Efeknya bakal jerat kamu lebih jauh, kasihan istrinya Nes?"


"Lo jadi adik diem aja! atau gue ga kasih uang bulanan dan lo rawat situ bokap yang lagi lumpuh kehabisan pengobatan."


Tlith! Nestia menutup panggilan, lalu melempar ponselnya ke sofa. Ia bersiap siap untuk bertemu teman reuninya.


***


LISA BERTEMU DIA.


"Bi inah sama pak Soe pulang duluan aja ya! Lisa harus ketemu temen."


"Non, jangan jauh jauh. Bi inah sama pak Soe antar deh, ga apa apa kami nunggu di mobil."


Bi inah dan supir pak Soe menurut, ia meninggalkan Lisa meski berat hati. Tapi saat itu Sinta sudah mengajak Lisa ke dalam mobilnya.


"Lis, ada reunian vloger. Mereka katanya mau buat acara gede gedean. Ada banyak vloger baru juga yang lagi naik daun. Selepas kamu itu loh Lis, sebelum tutup akun. Ada vloger baru cantik muda."


"Bukan tutup akun, tapi di hacker. Kemungkinan aku juga bakal online lagi. Moga aja temennya mbak Nazim cepet kabarin."


"Sabar ya! aku yakin, kamu tetap sukses Lis. Sabar, mulai sekarang jangan pikirin suami kamu dulu. Pikirin kesehatan kamu, sama bayi kamu ok!"


"Siap bos." senyum Lisa.


Restoran Chinese Food.


"Sin, bener ini tempatnya?"


"Iy, yuks turun. Nanti kita ketemu temen kita si cablak! secara dia kan selalu buat konten dengan kartu tarot. Suka bener juga sih, dia tuh suka tau baca pikiran orang. Kali aja dengan reunian ini kamu bisa fresh lagi. Pokoknya aku bantu kamu, pelan pelan kamu harus fresh pikiran jernih terbuka, karena bukan kamu aja yang bisa nyakitin diri sendiri Lisa, tapi batin bayi kamu ikutan."


"Uh, so sweet. Dari dulu kamu care sama tau. Makasih ya Sinta." mode memeluk.


"Ish, kemana aja kamu Lis."


Lisa dan Sinta turun, terlihat beberapa melambai tangan dan menyapa terbuka. Lisa yang dikenal followers tertinggi jadi bahan perbincangan sudah tidak aktif lagi. Sehingga mata Maya, menjawab pertanyaan sombong Nestia.


"Siapa sih wanita gendut itu?"


"Nes, itu mah cantik, modis meski lagi hamil juga. Itu mah senior kita Nes, semenjak jarang aktif kamu harus bersyukur kita kecipretan pendukung."


"Owh."


Berli si wanita cablak yang katanya selalu buat konten kartu tarot. Ia segera mengajak Lisa dan Sinta makan, dan bertukar cerita. Hingga tidak terasa mereka selesai makan. Lisa menatap satu baris meja yang bundar, ia berhadapan dengan wanita yang tak asing Lisa lihat.


"Lis, kenapa?"


"Itu cewe siapa sih, kok liatin aku kaya gitu Sinta. Emang aku punya salah apa ya?" bisik Lisa, membuat Berli mendengar dan menatap pikiran Lisa dan wanita baru bernama Nestia.


Heh! anak baru, sini kamu! teriak Berli, membuat Nesti mau tidak mau menurut.


"Kenapa, udah mau balik nih gue." mengipas ngipas dengan kipas electrik.


"Ambil satu kartu, cepetan!"


Nestia ambil, lalu ia memutar bangku, terus melanjutkan ke arah Lisa. "Lis, kamu paling senior. Ambil satu!" lembut Berli.


"Eh, gue lagi ga mau main kaya ginian. Ramalan lo tuh merinding, sumpah deh! terakhir gue putus cinta, kejadian."


"Lis, .." lembut Berli, seolah Sinta tau alasannya, ada sesuatu yang tersembunyi.


Berli menatap dua kartu milik Lisa dan Nestia. Ia memejamkan mata dan berteriak keras.


"Gila, kurang ajar. Ga bisa di biarin, Lis perut gue sakit. Next kita ketemuan, nanti gue kasih kabar ke Sinta." bisik Berli.


"Berli, kemana? Eeh aneh tuh anak." gerutu Sinta. Alhasil Lisa melanjutkan makan.


Eh kenapa tuh si Berli!! teriak seluruh orang berbisik bisik. Tapi Nesti senyum, ia yakin tidak ada yang bisa mengusiknya apalagi Berli. Maka auranya akan membuat Berli sakit menyakitkan.


Nestia pergi, melewati Lisa yang masih menatap aneh. Sementara Lisa tak memperdulikan, ia malah menerima kabar baik dari mbak Nazim.


Tbc.


Yuks mampir keren, sambil tunggu kelanjutannya, mampir sini!