
"Kamu kok cemberut sih Hanum?"
"Gak apa mbak, aku lagi ga kepikiran buat mikirin sesuatu. Setelah dari klinik, aku pamit duluan ya mbak."
"Yah gitu ya? Ya udah, kamu hati hati ya Hanum. Padahal kita janjian setelah perawatan Aku mau kamu ajak ke butik. Tapi next ya, ..!"
"Ya mbak, makasih loh. Udah buatin reservasi vip kaya gini. Apalagi bakal jadi member tetap kayaknya." celoteh Hanum sebelum pamit.
Dalam perjalanan, Hanum mengingat semalam. Irene datang dengan sebuah bunga belum lagi masuk kedalam rumah, lalu menyuapi Alfa coklat dan sebuah cake kedalam mulut di depannya. Hanum merasa kesal, tapi ia juga tau akan moto perkataan Alfa yang tak boleh mencampuri urusannya masing masing.
'Astaga! kenapa aku jadi kesal sih, kenapa juga aku memperhatikannya semalaman. Sampai sampai saat ini aku ke klinik, karna lingkaran mata hitam.'
Hanum segera masuk setelah sampai di rumah. Memberikan beberapa lembar uang untuk supir taksi. Terlihat ia masuk, sudah ada Alfa yang menyambut dengan senyuman.
"Kau sudah pulang, bawa apa saja. Kau beli salmon tidak?"
Tanpa menjawab, Hanum masuk tak merespon Alfa yang bicara padanya. Hingga jalan tertatih ia segera meraih tangan Hanum. Membuat kaget dan satu kantong plastik hitam dengan berlabel pasar kaget terjatuh.
"Kau ini, bisa tidak jangan agresif?" kesal Hanum tak suka tangannya di sentuh, apalagi tangan Alfa habis memegang tangan Irene.
"Aku yang harusnya marah, aku tanya malah cemberut dan mengabaikan. Kau tau tidak artinya istri yang mengabaikan suami saat bertanya? Ada hukumnya loh. Dosa loh, kau mau tidak ada pahala mengalir di tiap langkahmu Hanum?" cetus Alfa menatap Hanum.
Ckkk! udah berasa ustad aja si Alfa saat ini. Trus apa fungsinya semalam kedatangan tamu wanita, malam malam. Berduaan manja saling suap menyuap di depan istri.
Tanpa dengan rasa hormat. Hanum mengambil kantong plastik yang terjatuh. Tanpa satu kata pun menjawab kata kata Alfa yang sudah semakin keluar busa saat ceramah bagai manusia tanpa cela.
DUG!
"Aduh.."
"Maaf! harusnya aku yang ambil, jadi jidat kita ga bentrok. Cepat kau siapkan nampan! aku bantu kamu memasak!" protes Alfa.
Hanum menghela nafas. Pyuuuh! lagi lagi ia menebarkan poninya oleh angin buatan dalam mulut Hanum yang terlihat lelah untuk bicara. Kesal tapi ia tak berani untuk marah pada sikap Alfa atas semalam kedatangan Irene. Dan kini setelah aksi protes Alfa, lagi lagi hati Hanum semakin galau memuncak.
'Ada apa sih dengan diriku, sering turun naik bagai roller coaster. Aku sedang tidak berada dalam wahana, tapi kenapa aku tak suka dan hanya bisa ..' batin Hanum terputus saat manusia aneh meneriakinya.
"Hey! Hanum, kau ingin melamun saja berdiri di sana. Kau tidak jadi masak?"
"Kau sajalah! aku sudah belanjakan apa yang kau titip tadi, salmon dan toge kan. Aku ada urusan,"
Hah! mudahnya Hanum bicara, membuat Alfa menjatuhkan pisau. Lalu ia menarik tangan Hanum untuk menghentikan langkahnya.
"Tunggu di sini! aku ambil kunci mobil dulu!"
"Untuk apa?"
"Makan diluar, kau tak mau masak kan. Aku juga bosan dirumah."
"Kau sajalah! aku capek,"
Hanum! Ssrreet!
Aksi tarik menarik itu membuat pikiran Hanum kacau, tangan kokoh yang menghalanginya itu menyentuh pintu kamar. Sehingga tubuh Alfa sangat berada dekat, mata mereka dan bibir saja hampir bertautan hingga satu centi.
Gleuuuk!"Kau mau apa?" lirih Hanum pelan.
"Aku bilang, kita makan diluar. Atau aku akan makan seorang wanita yang susah diajak bicara, sama seperti di kamar 501 tanpa ampun!"
"Kau lihat apa! ayo pergi!" mendorong.
"Oke! pelan pelan dong, kaya ga sabaran ga tahan aja." bisik Alfa di telinga Hanum. Hingga sorot mata Hanum kembali tajam.
Dalam perjalanan pun, Hanum lagi lagi dibuat bingung dengan sikap Alfa padanya. Kadang manis, kadang pahit seperti Berenuk buah mirip semangka tak bisa dimakan, tapi terlihat yang buahnya busuk dan sangat tak sedap jika dibayangkan. Kali ini aksi Alfa membuat ia kesal, namun sering berujung manis dan jantungnya semakin tidak karuan.
Hanum bingung, dengan apa yang ada pada dirinya saat ini. Tidak biasanya ia seperti ini, hal ini pernah ia rasakan saat dulu di tinggal Fawaz. 'Aach! gila, tidak boleh. Sikapku ini tidak boleh disamakan seperti Fawaz. Alfa hanya pria yang menyesatkan hidupnya saat ini.'
"Berhenti disini? kau ingin apa Alfa?"
Alfa turun dari mobil, sementara Hanum mengikutinya. Hingga matanya memutar dan melihat Alfa membuka senyuman, dibalik dua wanita berseragam hitam dan rok pendek diatas lutut. Matanya masih mencari keberadaan Alfa, hingga dimana ia menyaksikan Alfa memilih kalung indah permata yang berkilau.
"Ini pasti cocok! wanita Tuan pasti menyukainya?" senyum penjaga toko.
"Ya! pasti, ini untuk wanita kesayangan."
Alfa memberikan black card, lalu pelayan menyatakan harganya. "Tiga ratus juta ya Tuan! saya segera menyiapkannya!"
"Tentu, silahkan."
Hanum terperangah, mata dan bibirnya seolah gemetar. Apa Alfa membelikan kalung untuknya, tapi untuk apa? itu adalah memori indah Hanum saat melihat punggung Alfa yang seolah akan memberikan kejutan.
Satu langkah, hingga empat langkah hampir menepi menghampiri bahu Alfa. Seorang wanita segera memeluk erat pinggang Alfa dengan manja.
"Hay darling! sudah lama menungguku?" senyum Irene.
"Kau sudah sampai, kemarilah. Aku membelikanmu sesuatu." bisik Alfa hampir meraup telinga Irene.
Hanum mundur tiga langkah, lalu segera memegang dadanya. Benar saja, Alfa pandai bersikap manis dan menyiksa batinnya. Tentu saja dia mengajakku untuk menyaksikan momen manis dirinya bersama Irene. Terlihat dua bodyguard Irene sang artis berjaga, sikap Alfa kali ini benar benar keterlaluan membuatnya sesak.
Hanum berbalik arah, ia keluar dari toko jewerly yang mungkin kaum hawa sudah pasti menyukainya. Hingga menembus para orang berkerumun karna menyaksikan seleb movie ada di toko itu, tentu saja mungkin akan ada banyak wartawan meliputnya.
Kini Hanum telah pulang dengan taksi, menuju rumah. Namun sebuah pesan membuatnya sakit. Lisa mengirimkan sebuah pesan yang kabarnya, serangan jantung papa Armand terganggu. Tangisan, hati dan pikirannya semakin melebar keberbagai arah. Belum lagi Alfa yang membuat ia kesal, kini sang papa serangan jantung tiba tiba membuat Hanum bingung.
"Pak, kita ke rumah sakit medical al zeera ya! sedikit cepat ya pak!" panik Hanum menutupi wajahnya yang sembab merah.
Supir taksi pun mengangguk, hingga Hanum tau jika kini ia melewati gang mirip jalan tikus yang pas untuk satu kendaraan roda empat. Lalu Hanum segera memberikan beberapa lembar uang kembali.
"Nona kembaliannya?" teriak supir, tapi Hanum lebih cepat berlari. Ia segera menghubungi Lisa dan benar saja ia segera sampai di ruangan igd dalam beberapa menit.
"Hanum .." teriak Lisa.
"Kak. Papa kenapa, sudah lama tidak pernah kambuh ada apa dengan papa?"
"Kau lihat saja, berita Alfa dengan wanita yang kemarin kata kamu klien Alfa kan?! Wanita itu bicara sudah menjalin tiga tahun, dan akan segera menikah. Lalu .. " Lisa terdiam kesal menatap tajam pada wajah adiknya.
"Papa melihat beritanya ya? Astaga! harusnya aku mencegahnya. Semua salah aku kak, maafin Hanum. Maafin Hanum .." isak Hanum duduk dan tak lama, Lisa menenangkan.
Terlihat kedua mertua Hanum dan sang Mama tiba menghampirinya juga.
"Hanum sayang, .." lirih seorang wanita paruh baya memanggil Hanum.
To Be Continue!!