
Pagi hari seperti biasa, Hanum memakaikan dasi, merapihkan kemeja dan menatap postur tubuh indah sang suami.
"Suami tampanku." lirih Hanum.
"Istri cantik terbaikku!" Rico membalas, tubuhnya masih melingkar handuk dengan rambut yang sedikit basah.
Rico mengecup kening istrinya, ia mendaratkan dengan sempurna. Tapi Hanum membalas dengan kecupan mesra pada bidak jenjang leher kokohnya.
"Sayang, kamu nakal. Seperti inikah, caramu menggoda suamimu yang hampir terlambat?"
Hanum terkekeuh tawa dengan renyah, ia melangkah ke arah cermin. Menyemprotkan parfum ke leher indahnya. Membuka lebar kancing kemeja. Menepuk telapak tangannya yang wangi ke area pelupuk indah wajahnya.
Sementara Rico tak percaya kegokilan sang istri, rupanya dalam fase hormon hamil muda, membuat nakal menggodanya dengan sayang. Rico hanya menggigit bibir dan meremas jari. Mengambil ponsel dan mengirimkan pesan suara.
"Tunda meeting satu jam!" ungkap Rico.
Ketika meeting akan di mulai. Entah kenapa, dirinya masih saja memikirkan Hanum tadi pagi, seolah dirinya bekerja hari ini. Membuat Rico tak nyaman dan ingin cepat sampai pulang ke rumah.
Hanum tersenyum tak percaya, baginya selagi ia merasakan sehat, ia ingin sempurna membuat Rico bahagia, tanpa terlihat ia sedang hamil yang lemah. Tak menunggu lama, Hanum maju menghampiri dan menarik dasi yang telah rapih. Tangan kokoh itu melingkar kebidak depan Rico. Mereka saling memandang saling menatap dibalik cermin besar.
Siiiet!! kenapa pikiranku ada di rumah? gumam Rico yang dari tadi masih saja membayangkan Hanum. Ia berusaha memejamkan mata berusaha fokus saat ini.
Hingga dimana Hanum terkejut saat berada di ruang bawah, ia menatap Rico sudah sampai rumah.
"Mas, masih siang. Kamu udah pulang?"
"Karena kamu, dan mas rindu. Mas ingin kita berdua sebentar. Makan siang bareng sayang?!"
"Mas, menginginkannya sayang?"
"Ya, sayang aku hanya ingin membuat sarapan terbaik, agar harimu dan semangatmu on!" meski batinnya. Rico akan sadar jika ia perlahan tak bisa melakukannya, meski ia yakin jika ia bodoh, meski ia sadar jika kelak ia akan tak melihat kelak kesempurnaannya.
"Pak! Pak Rico, bagaimana. Tanda tangan sekarang atau tidak?" tanya Erwin, menyadarkan Rico.
"Kamu, kita sedang meeting?" bingung Rico, ia tersadar jika dirinya saat ini sedang membayangkan Hanum di pagi hari bersamanya.
Rico pun dengan santai, ia berdiri tegap dan memutuskan meeting yang sedang berjalan. Baginya saat ini ialah, membereskan kerjanya dan cepat pulang menemui Hanum.
.......
"Pak, Pak Rico, kenapa melamun?" tanya Erwin. Ia yang kembali mengambil ahli meeting, kala Rico sedang tidak konsen.
"Astaga, ternyata aku Halu?" Rico memijit keningnya, agar ia tersadar.
"Pak, ada apa?" tanya Erwin.
Tapi Rico hanya diam terpaku. Berusaha konsen, jika di sampingnya adalah Erwin dan staff yang sedang bekerja untuknya saat ini.
Rico tersenyum. Andai ia tak mempunyai rapat penting. Sudah pasti ia akan meminta istrinya membuatkan sarapan spesial. Alhasil hanya kecupan manis di ranum mereka berdua yang saling bertautan.
Hingga dimana Rico menatap seseorang, ia datang bersama satu wanita di sampingnya, yang mungkin jadi sekertarisnya.
"Dia..?" lirih Rico.
Ada tak percaya kala saat ini, Rico berurusan langsung dengan pria pemilik Aj market.
"Erwin, apa dia pemiliknya?"cetus Rico dan segera mengeksekusinya, tanpa ampun.
Tbc.
Mohon maaf typo, efek kebut lebaran jadi ga sempat cek lagi. Udah Author benerin ya.