BAD WIFE

BAD WIFE
KENA SP



"Kamu saya berikan Sp!"


"Pak, tapi saya ga sengaja. Kaki saya juga sakit, dan saya benar benar tidak tau bapak ada di belakang saya, lagi pula kenapa bapak lewat di lorong gudang bagian dus, kenapa kaki langkah bapak menuju arah khusus karyawan. Bos seperti bapak bukannya ga pernah ke tempat itu?" gerutu Hanum tanpa rem, saat mencari pembelaan.


Eheeeum! "Kamu itu bawel ya, sekiranya kepolosan kamu tapi banyak sisi protesnya. Suka suka saya mau kasih kamu sp atau aku pecat sekalipun!" pergi Rico, dengan sorot mata tajam.


Surat peringatan atau SP biasanya diberikan perusahaan kepada karyawan yang dinilai melakukan pelanggaran. Hal ini dilakukan sebagai peringatan agar kesalahan yang sama tidak terulang kembali di kemudian hari. Tapi kasus Hanum, apa boleh diberikan sp?!


Tapi dari cetusnya, Rico sangat bersalah. Jika bukan karna di depan banyak karyawan. Tidak mungkin ia melayangkan makian pada wanita yang berbeda seperti Hanum.


Hanum sebal, ia kembali melipat bandrol harga. Lalu melihat pak Erwin yang ia anggap baik. Hanum segera berlari kecil dengan mode kaki kesakitan.


"Pak Erwin Tunggu! apa salah saya, kenapa baru bekerja empat hari saya sudah kena sp. Hanya saya menjatuhkan dus, yang jelas bukan karna saya sendiri yang salah. Salah kan lantai yang licin tidak di beri papan kuning." mode memohon, agar dirinya tidak di pecat.


"Hanum, gimana ya saya mau bicara jujur atau kebohongan. Katakan saja, saya akan membantumu untuk bicara pada bos muda yang sedang sensi, kolesterol nya sedang naik. Gampang emosi, saya akan bicara pada pak Mark. Kamu tidak akan di pecat!"


"Wah, baik sekali pak Erwin. Baiklah, terimakasih ya pak." senyum Hanum.


"Sama sama, kembalilah bekerja. Jika karyawan lain menyenggol, bilang saja itu karna salahmu!"


Cetusan Erwin, ia kembali pergi. Tapi Hanum masih menelaah penuh kebingungan. Kenapa harus bicara yang bukan salahnya. Benar benar atasan yang membuat ia bingung.


Benar saja, karyawati bernama Dewi yang paling supel mendekati. Ia bertanya sesuai yang Erwin katakan, kala mereka semua meminta penjelasan.


"Serius kamu kena sp Hanum?"


"Iya, begitulah." jelas Hanum.


"Bener kan, kalau bos kita bukan suka sama salah satu karyawati baru. Kena sp berarti dia ga disukai." jelas Vita pada Dewi. Hanum segera pamit, ia kembali bekerja.


Sementara di ruangan Rico.


"Bagaimana karyawan terkendali?"


"Baik, Hanum juga mengakui pada yang lain. Dia kenap sp, tapi apa sp nya pak Rico?" tanya Erwin penasaran.


"Naik jabatan dia, jadikan dia asisten pribadiku! mencatat segala tugas meeting, membuatkan kopi. Menemaniku meeting dan mengurus vendor yang ingin bekerja sama!"


Uhuuuk! Uhuuuuk! "Pak Rico, bukankah itu tugas Adelia?" tanya Erwin.


"Adelia sudah seharusnya fokus dengan Lion. Lagi pula papa membuat toko baru, dia full time fokus ke tempat yang baru. Agar waktunya tidak ceroboh melupakan anaknya!" cetus Rico.


Rico segera memutar kursi kerjanya, menaikan bolpen ke arah bibir mulut sambil membayangkan wanita bernama Hanum. Rico seperti lucu, kala ia melontarkan kata kata pedas pada Hanum, tapi tidak lupa memberikan perhatiannya.


"Mbak Hanum, ada delivery food lagi." ucap Dewi.


"Makanan box lagi, dari siapa ya mbak? Dari sejak hari kedua aku kerja, ga pernah pesen makanan mahal beginian. Banyak lagi?" bingung Hanum.


"Penggemar mbak Hanum kali, awas mbak. Biasa kalau ada jampe jampe harus berbagi tuh makannya. Jangan sendirian!" ucap Vita.


"Dasar kamu aja yang muris itu namanya!" cecar Dewi yang memberikan satu kantong plastik bening pada Hanum.


"Duh jadi repot repot! ayo deh, aku mau banget lah!" tawa Vita yang mengambil kantong plastik Hanum.


Dewi menggeleng kepala karna tingkah temannya itu, sehingga mereka bertiga makan siang bersama. Alhasil Rico yang melihat rekaman cctv di kantin, ia kesal memanggil Erwin.


"Erwin, kenapa kotak makanan itu di makan rame rame. Saya kan suruh kamu untuk Hanum yang makan, bisa tambah kurus dia."


"Saya sudah memberikan sesuai tidak ada nama, dan tidak di curigai bos."


"Erwin, kamu tau? Perusahaan kita ga boleh punya karyawan terlalu kurus, image nya akan jelek karna di anggap menjajah mereka. Moto perusahaan kita adalah mensejahterakan mereka semua!"


"Pak Rico, jika ingin mensejahterakan mereka. Kenapa tidak satu truk pesan makan. Untuk semua karyawati?" cetus Erwin yang pusing karna Rico terlihat suka tapi tak mengakuinya.


Tuing!! burung anime, memutar isi kepala Rico yang dilihatnya.


Rico menelan saliva. Perkataan Erwin menggali hatinya terbongkar, Rico segera kembali berwibawa. Lalu meminta Erwin keluar dan tidak lagi mengirim makanan untuk Hanum di pekerjaan.


'Tidak boleh ketauan, kontrakan Hanum. Ya akan aku kirimkan saja,' batin Rico senyum sendiri.


BERBEDA HAL DENGAN IRENE.


Irene sendiri tidak tahu siapa laki laki itu. Ia hanya bisa terisak menelan kesakitan, kepahitan dalam kelingkungan. Sore tadi ia bersiap pulang ke rumahnya, namun taksi yang membawanya justru menyekapnya dan membawanya ke sebuah apartemen.


Saat ia terbangun, kaki dan tangannya diikat. Seorang laki laki bertopeng langsung mendekatinya, melucuti pakaiannya dengan kasar dan langsung melakukan kebejatan itu padanya.


“Kau sudah merusak nama baik keluarga Jhonson, sialan! Aku sudah mati matian membesarkan dan menjaganya!”


Suara dalam laki laki itu berhasil membuat Irene ngeri, ditambah sesudah apa yang terjadi. Dari ucapan laki laki itu ia menyimpulkan bahwa dia adalah bagian dari keluarga Jhonson. Di mana yang salah satunya sudah menabrak Maoren hingga meninggal dunia.


Belum satu minggu setelah Maoren saat itu meninggal, kini Irene dihadapkan badai baru.


“Aku tidak merusak nama baik keluarga Jhonson, aku jujur mencintai Alfa. Aku hanya menuntut apa yang seharusnya dituntut. Maoren meninggal, apa yang kamu inginkan aku turuti? tapi jangan pisahkan aku dengan Alfa!"


Laki laki tinggi tegap, berbadan kekar itu membalik badan lalu membuka topengnya. Kini Irene jelas melihat wajahnya.


Peeter, anak angkat pertama keluarga ternama, pria yang menabrak Maoren atas suruhan Jhoni.


Peeter tersenyum miring. Kedua tangannya itu dengan enteng ia angkat di pinggang lalu menatap Irene yang masih terikat dan terkulai di atas ranjang king size. Tatapannya itu benar benar merendahkan Irene, meski ia akui wanita yang dihancurkannya itu sangatlah cantik.


Irene merasa tidak memiliki harga diri lagi, jujur saja ia selalu begumul dengan pria yang ia cintai. Tapi kali ini bombaster besar harus merenggut dirinya dengan kegilaan dan mungkin akan menyebabkan lecet yang amat dalam.


“Aku akan melaporkanmu pada Alfa!” gumam Irene yang sebenarnya sudah tidak bertenaga.


Tapi mulutnya terbekap oleh sesuatu noda putih pekat dan kental yang meluber ke arah wajah dan mulutnya dengan rasa jijik, mulut Irene di bekap agar tertelan.


"Jika kau tidak mau tanda tangani, maka aku harus mengurungmu disini! jadi mangsaku sampai aku puas, tenang saja aku akan memberimu makan dan tak terlihat lagi di layar tv!" ungkap Peeter dengan tawa pecah, sambil merapihkan ikat pinggang.


~ Bersambung ~


Adegan nganu untuk malam! semoga terhibur, karna bulan puasa tidak akan ada ya. Author mau tobat nulis eheeum nya, Hahahaaa.