BAD WIFE

BAD WIFE
ADA YANG ANEH



"Alfa, stop jangan ngebut!"


"Kita harus segera sampai Hanum, aku tidak tau apa yang kamu inginkan. Tapi bisakah kamu bersabar untuk tidak memberitau pada mamaku hubungan kita akan berakhir!"


"Apa? aku memberitau. Tunggu apa aku, ga salah dengar. Bahkan nomor papa mertuaku saja aku ga hafal. Belum lagi aku ga pernah menghubungi telepon rumahmu Alfa. Aku memang sempat berbincang, tapi tidak menceritakan masalah kita. Sejak saat pemakaman!"


"Sudahlah Hanum! setelah sampai kau akan tau apa yang terjadi. Aku hanya ingin kau menyangkalnya saja, itu sudah lebih cukup!"


Apaa?! Hanum terdiam, ia mencoba memutar pikirannya. Apakah Alfa sedang oleng, atau ia sedang tak baik baik saja dengan Irene. Belum lama Irene dan Alfa suaminya terlihat manja membuat ia sejak malam kemarin ingin muntah. Terlebih Alfa selalu menyalahkannya.


"Kau kenapa, jangan berpura pura manis terhadapku. Apalagi di depan keluarga nanti!"


"Kita lihat nanti, aku tidak akan berjanji." lirih Alfa, seolah Hanum kehilangan habis kata kata dengan perdebatan.


Ccchh!! Hanum segera membuka seat belt, sebelum tangan Alfa meraih dan berlaku manis. Ia turun dan melihat cctv yang terpampang. Alfa meraih pinggangnya dan memapahnya tanpa pemberitahuan.


"Singkirkan tanganmu! aku bisa berjalan sendiri." cetus Hanum menjaga jarak.


Semua orang menginginkan Alfa. Dengan tubuh atletis, wajah tampan dan harta kekayaan melimpah, perempuan manapun sudi bertekuk lutut di bawah kakinya. Namun, tidak dengan Hanum. Hanum tidak mungkin menginginkan Alfa, sebab lelaki itu adalah anak pria yang sangat ia benci.


Hanum menghargai jasa keluarga Jhonson atas kehidupan keluarganya yang baik, mendiang sang papa memberikan keterangan, untuk membalas budi dan mau menerima lamaran salah satu putrinya dengan memperlakukan Alfa sebagai orang yang dia hormati. Tapi jika sikap seperti Alfa, apa harus di hormati.


Setidaknya itulah yang menjadi prinsipnya. Sampai Hanum melihat sendiri sebotol vodka berbagai minuman jenis yang terjejer di kediaman mertuanya. Meski dalam lemari yang terpampang rapih. Hanum baru kali ini melihatnya, atau memang ia saja yang tak sadar saat melewati ruangan teras dan terlihat di meja keluarga telah berkumpul dua belah keluarga. Yakni Lisa dan mamanya, serta kedua mertuanya yang tersenyum menyambutnya.


"Hanum, kalian sudah datang. Kemarilah sayang!" mertua Hanum sangat lembut memanggilnya.


"Duduklah Hanum, kita makan bersama. Ada yang kita harus bicarakan setelah ini." jelas Lisa berbisik.


"Soal apa kak?"


"Soal kepindahan tempat tinggalmu dengan Alfa sepertinya." bisik Lisa.


"Eheeeum! adik kakak ini selalu saja berbisik. Mari kita makan sayang." senyum Jhoni.


Hanum dan Lisa pun kembali senyum saling menatap. Lisa merasakan kehidupan Hanum akan kaku, jika tinggal bersama kedua mertuanya. Itu yang ia rasakan saat ini.


Makan malam berjalan dengan lancar, Alfa begitu menyebalkan. Apa yang ia bicarakan tadi di mobil menuduhnya tidak pantas. Tapi hingga beberapa jam, tidak ada pembahasan soal dirinya yang mengacau dan mengadu ocehan untuk berakhir. Sehingga Hanum menyesal membuang waktu untuk marah pada Alfa saat itu. Pria yang menjadi suaminya itu berkelit dan benar menyebalkan, juga penuh siasat.


Hanum permisi, ia segera berlalu pamit ke toilet. Semenjak dinyatakan hamil. Hanum selalu merasakan buang air kecil terus menerus. Tentu saja itu membuat ia tak nyaman, belum lagi ia tak memberitau kabarnya karna ingin berpisah.


Sesaat Hanum ingin kembali, keluar dari toilet. Ia menyusuri kembali ruangan skat indah dengan bingkai keluarga. Hingga terlihat Alfa tersenyum menghampirinya.


"Kamu mau apa, jangan dekat dekat!" mendorong tubuh Alfa yang menghampirinya.


"This is wrong, Alfa!" Hanum berusaha sekuat tenaga menghentikan tangan Alfa yang meraih punggungnya. Hanum menahan mulut Alfa yang bermuara di ceruk lehernya.


"Kau mabuk? Uueeek! hentikan Alfa. Kita berada dimana. Lihat baik baik!"


"Aku tidak perduli Hanum, aku mencintaimu."


"What..?"


Terlalu banyak minum Alfa membuat mereka berakhir bergumul mencari kenikmatan, menanggalkan semua profesionalisme di antara mereka berdua, dengan tangan yang meraih punggung Hanum.


Ini tentu saja salah. Hanum menyadarkan dirinya bahwa dia adalah istri ktpnya.


"Singkirkan tanganmu, ayo aku antar kamu ke kamarmu Alfa!"


Namun ketika hidung bangir Alfa yang dia puja tengah menyusuri tulang ceruk leher, dengan bibir sesekali mengecup ringan. Hanum tiba tiba menepis sentuhan itu.


"Hentikan Alfa!" meraih dan terlihat security tak jauh datang dari lain arah.


"Pak sapta! bantu saya bawa Alfa ke kamar atas ya!"


"Baik nona Hanum."


Hanum menghela nafas, ia memutar pikiran jika tadi adalah hal salah. Lalu kembali ke meja makan dan terlihat mama Maria tersenyum pada Hanum.


"Sayang! apa Alfa berbuat aneh. Kenapa tidak ikut istirahat saja?"


"A-aku. Owh! Alfa sedang tidak sehat. Tadi Hanum meminta bantuan pada pak Sapta membantu Hanum. Alfa minum sepertinya?"


"Haaah! anak itu memang selalu minum diam diam. Jika kita berkumpul makan, dia pasti mengambil di rak lemari depan. Menuangkan di gelas bagai minum air sirup." jelas Jhoni sedikit tawa.


Hanum mengangguk, hingga dimana seseorang datang dan berbicara membuat mata Hanum membulat.


"Malam Om! Tante, maaf aku datang terlambat." lirih suara pria yang hafal Hanum dengar. Lalu menolehnya dan saling menatap.


'Percayalah! kita pasti akan bertemu Hanum.'


To Be Continue!!


Next crazy Up tiga bab kembali esok ya All.


Jika suka, berikan dukungannya, terimakasih.