BAD WIFE

BAD WIFE
PERNIKAHAN GILA



Jeritan batin Hanum, membuat dirinya semakin gila. Ia mulai mengecam dan bersumpah. Jika sosok Alfa akan menyesal telah membuatnya malu setiap dekat, belum lagi masih sering membully nya. Hingga Hanum yang merasakan efek dari beberapa herbal, ia tetap biasa saja. Berusaha Alfa tak mengetahui perjuangannya saat ini.


Dan. Lagi lagi, lamunan Hanum tersentag. Kala seseorang memintanya pergi hari ini juga. Terlihat juga Alfa telah memegang tangannya dengan kilat.


"Kasar sekali sih kau ini? aku kan hanya ingin mengangkat telepon. Ini dari papaku."


Alfa merasa kesal, ia kembali mengambil tisue basah. Lalu meletakkan tangannya ke jendela luar. Mengambil sebotol Aqua hanya untuk menghilangkan jejak, saat spontan memegang tangan gempal Hanum.


'Lihat saja, apa pria ini harus aku terima sebagai suamiku. Jika ia membutuhkan istri karna fisik. Untuk apa juga dia menyetujuinya."


KE ESOKAN HARINYA.


Hanum tak pernah menyangka, jika ia melihat sendiri gaun pernikahan yang sangat indah. Karyawan bernama Mila itu sangat berjasa bagi Hanum, karna gaun berwarna gold sangat pas untuk ukuran tubuhnya. Ia merasa telah diet dalam waktu singkat, sehingga tidak pernah membayangkan jika dirinya memakai kostum L.


"Kelak jika aku kembali, aku akan ke butik itu lagi mencari Mila." senyum Hanum.


SAH!!


Itu adalah lontaran kesaksian janji suci Hanum yang telah menjadi istri dari Alfa Jhonson. Keluarga yang memiliki bisnis produk bermerk hingga keluar negri, Jhonson adalah nama keluarga terkaya kelima. Hanum tak pernah menyangka, kini statusnya harus terlibat menikah dengan pria yang telah merenggutnya. Bisa saja Hanum saat itu menolak, tapi mengingat karna pria itu telah merusaknya. Maka yang Hanum lakukan adalah menerimanya, dan beberapa bulan ia akan bercerai. Itu adalah kesepakatan Hanum bersama Alfa saat itu.


"Mah! Hanum pamit."


"Sayang! jaga diri kamu baik baik ya. Happy honeymoon!"


Senyum mama Rita dan papa Armand. Begitu juga paman Jhoni dan mama mertuanya, yang mereka kira adalah setelah menikah Hanum dan Alfa akan memadu kasih.


BEBERAPA JAM KEMUDIAN.


"Gendut! Dengarkan aku ya! Aku tidak akan mengulangi pernyataan ini lagi kalau kau bertanya! Cukup sekali aku bicara dan kau harus mengerti!"


Hanum pun mengangguk dan mencoba fokus pada perkataan Alfa. Sesuatu yang biasanya sulit dilakukan oleh Hanum. Fokus. Menghafalkan satu kalimat di buku pelajarannya pun dia butuh lebih dari sepuluh kali pengucapan dan kini dia harus mengingat satu kali agar Alfa kembali bicara, sungguh perjuangan untuk Hanum yang punya otak pas pasan.


"Kenapa kau lakukan ini semua Alfa?" isak Hanum.


"Kalau aku menyukai seseorang, aku tidak akan menikahinya. Aku bisa bermain dengan wanita manapun, dimanapun, kapanpun. Tapi aku tidak akan pernah menceraikanmu. Dan peraturan yang sama juga aku berikan kepadamu!"


"Apa? Jadi maksudnya kita tidak akan pernah bercerai gitu?"


"Iya, selama mamaku masih hidup! Kalau mamaku sudah meninggal dan kau ingin tetap bercerai denganku, maka aku akan melepaskanmu!"


Hanum tidak mengerti cara berpikir Alfa. Menikah tapi bersama dengan wanita lain di luar sana. Sedangkan dirinya disuruh bersama dengan pria lain juga? Apa maksudnya ini. Blank otak Hanum memikirkan semua ucapan Alfa itu.


"Alfa ...," Hanum berdecik ingin bertanya, tapi mendapat bentakan dengan wajah jijik.


"Ssssh! Tadi kau bilang kalau kau hanya akan memberikan satu pertanyaan lagi padaku! Tapi sekarang kau sudah mangkir! Aku tidak akan menjawabnya! Dan jangan berisik aku mau tidur!"


Alfa protes. Dirinya memang kelelahan, semua proses resepsi yang mereka lalui hari ini menguras seluruh energi Alfa dan dia memang tidak ingin diganggu lagi. Alfa sudah ingin memejamkan matanya.


"Tapi Alfa .."


Supir mereka sudah memencet tombol telepon karena Alfa dan Hanum diberikan sekat sehingga tidak bisa menatap langsung supirnya.


"Alfa, Kau mau bilang apa?"


Supir, "kita sudah sampai di bandara, Tuan. Dan Anda bisa langsung naik ke pesawat Anda!"


Gemas sangat Alfa sehingga dia melirik kembali pada Hanum.


"Lihatlah! gara gara kamu, aku kehilangan waktu untuk tidur. Kau ini menyusahkan saja sih!"


Alfa akhirnya keluar dari mobilnya dan tanpa memperdulikan Hanum, Alfa sudah berjalan lebih dulu masuk ke dalam pesawat.


"Haduh, begitu saja dia marah! Dan meninggalkanku lagi. Tapi biarkanlah. Aku juga males juga jika deket deket dirinya, harus bergandengan tangan, harus merangkul lengannya seperti tadi, hiih!"


Hanum pun memaki sendiri di belakang dan dengan susah payah, Hanum yang jarang sekali memakai hak tinggi terpaksa harus berjalan perlahan lahan menaiki tangga pesawat.


"Aduh jangan jatuh, jangan jatuh. Aku takut ketinggian. Aku nggak berani liat ke bawah pokoknya jangan jatuh!"


Itu yang terus dikatakan Hanum sambil menaiki anak tangga perlahan dan Alfa sudah ada di atas pesawat lebih dulu dari Hanum.


"Kenapa kau lambat sekali?" tanya Alfa yang seperti sedang bicara dengan pramugari.


"Tangganya ketinggian jadi aku jalannya pelan pelan!" ucap Hanum sekenanya tapi ada sesuatu yang mengganjalnya yang membuat Hanum melirik pada Alfa. Yang ia kira, Alfa sedang protes padanya. Namun ia syok melihat apa yang Alfa lakukan terang terangan, sebelum masuk ke awak pesawat.


"Itu karna bobot dirimu, Hey gendut! kau selalu saja membuat sulit. Tidak sikap, tidak fisikmu membuat aku ingin muntah saja. Pergi kau masuk cari bangkumu!"


'Apa yang Alfa lakukan? Dan kenapa sih pramugari itu diam aja sih? Ih, mereka tuh! Dia lakukan di depan aku loh! Aku kan sudah jadi istrinya. Tapi aku sudah punya perjanjian dengannya dan tidak boleh melarangnya. Zzzzz lagian aku juga ga ada niat mau melarangnya, cuma kok menjijikkan banget sih. Kenapa melakukannya didepanku?!' batin Hanum.


Saat itu Hanum diam dan justru matanya tak mau beralih, masih tetap memperhatikan Alfa yang tanpa ada rasa bersalah sedikitpun menggerakkan tangannya ke bawah rok pramugari, merogoh di dalam sana dan wanita yang sedang dipegang pegang itu juga justru tidak melakukan apa pun seakan akan membiarkan Alfa menyentuh bagian inti dari tubuhnya dan tersenyum seakan apa yang dilakukan Alfa bukanlah sebuah kesalahan. Kesal sangat Hanum melihatnya, merasa jijik.


"Kenapa kau malah diam saja di situ sih?" bentak Alfa.


Alfa yang sudah sadar kalau Hanum masih belum beranjak dari tempatnya, ia langsung melirik pada Hanum dan tanpa perasaan bersalah bertanya begitu.


"Ccccccih!"


Dengan tangannya yang masih mengelus bagian dalam sana, membuat sang pramugari bersuara begitu, Hanum segera berahli ke kursi lain atau sekedar toilet.


Eeeemhh!!


"Ti-tidak!" Hanum menggelengkan kepalanya, malah jadi Hanum yang merasa canggung dan merasa bersalah.


"Kenapa kau kalau mau melakukan seperti itu tidak di tempat yang tertutup sih, itu membuat aku sakit selain kau memaki fisikku kau juga melukai batin ku?" ucap Hanum yang sudah ingin berjalan masuk ke kabin dengan wajah memerah


Tapi! DUG! "Ssssh! Sial banget, siaaaaal! Kenapa juga aku mesti kepentok dinding kabin kayak gini? Kenapa aku nggak ngelihat dulu sih di belakangku ada apa?" ungkap Hanum.


To Be Continue!!