BAD WIFE

BAD WIFE
LISA MASIH MARAH



Rumah yang sedikit privasi, membuat Hanum menatap sekeliling dedaunan dan pohon lebat ketika melewati area perkomplekan. Hal itu membuat tatapan luar biasa bahagianya.


"Mah, semoga kita betah tinggal disini ya?"


"Iy Han, eh. Gimana soal Lisa, udah bisa dihubungi?"


"Belum mah, masih sama. Centang satu dari tadi, kenapa ya kalau kak Lisa udah ngambek lama banget. Masih seperti bocah tk, ambekan."


"Ssst! jangan gitu, kamu kan tau Lisa emang sedikit manja. Tapi kamu tau kan, Lisa mandiri dan masih kekanak kanakan. Mungkin karena Fawaz lembur terus, jadwal kerja mereka juga sibuk dan bertemunya sering berlawanan."


Hanum yang mendapat penjelasan sang mama, ia melirik dan menelan saliva kala Rico masih menyetir tapi menatapnya. Ia bergantian dengan Erwin di sebelahnya. Sementara perut Hanum, sedikit mules dan panas dingin. Tapi ia berusaha menahan tidak panikan.


***


Masih Cerita Lisa.


Lisa yang memilih hidup jauh dari kedua orang tua karena kegiatan selebgramnya, dia pun harus pandai merawat dan melindungi dirinya sendiri.


Lisa memproteksi dirinya dari lawan jenis ataupun siapa saja yang mencoba untuk bertindak kurang baik padanya.


Sikap Fawaz, yang menunjukkan tanggung jawabnya membuat Lisa berpikir jika dia harus segera pergi sebelum akhirnya hal buruk terjadi padanya, dia selalu mewaspadai pada setiap orang yang baru dia jumpai, karena itu semua amanat dari mama Rita dan papa Armand.


“Heran … kok ada ya orang yang nyusulin cuma gara gara pengin tanggung jawab karena luka kecil gini, aku yakin itu orang bukan orang baik, untung aja aku bisa buru buru kabur, kalau enggak mungkin nanti aku bakalan di hipnotis atau mungkin yang lebih tragis lagi aku dianiaya,” gumam Lisa ketika tiba di tempat kost nya.


“Auuwwwh ….” Lisa baru merasakan jika sikutnya benar benar sakit ketika dia tidak sengaja menyenggol pintu.


“Dasar pria tua sialan … katanya ini udah di obatin … ke senggol kok langsung ngilu sih,” gerutu Lisa yang secara tidak sadar jika sakit yang muncul itu ditimbulkan karena benturan sikutnya ke pintu, bukan karena Fawaz.


Bersamaan dengan itu, Lisa mendapati ponselnya berdering. Dengan perasaan senang hati, Lisa langsung menjawab panggilan yang masuk dari sang papa kesayangannya.


“Hallo, Pah,” ucap Lisa dengan penuh semangat.


“Apa kabar sulung papa yang paling cantik?” sahut Armand di seberang telepon.


“Baik dong,” sahut Lisa berbohong. Dia menutupi apa yang terjadi, karena Papanya pasti tidak akan pernah mengijinkan dia lagi menggunakan sepeda motor jika tahu dia ditabrak orang.


“Syukurlah! papa cuma mau ngasih kabar jika minggu depan ada acara penting dan Mama. Kamu bisa, kan pulang untuk ikut merayakan acara ini, Hanum juga menunggu kamu?!" lanjut Armand.


“Mau dijemput Papa atau aku pulang sendiri nih?” sahut Lisa.


“Kayaknya gak bakalan bisa jemput. Gak apa apa, kan kalau pulang sendiri? Papa mau pesankan tiket pesawat untukmu sekarang. Tau kan, papa mabok kendaraan udara?"


Hari yang dinantikan oleh Lisa akhirnya tiba. Hari ini dia berencana pulang untuk bisa menghadiri acara penting, entah mengapa ia terkejut akan kabar dari Hanum tentang perjodohan salah satu dari mereka. Yakni antara Hanum dan Lisa, sudah kepalang di pesawat, Lisa mau tidak mau melanjutkan pulang ke rumah.


“Kamu!”


Keduanya mengucapkan kata yang sama ketika Lisa kembali bertemu dengan Fawaz setelah hampir lima hari berselang dari kejadian yang tidak mengenakan di jalan raya waktu itu.


“Abang beneran duduk di sini? Lihat lagi nomornya mungkin salah lihat,” ucap Lisa yang merasa tidak mungkin bisa kebetulan duduk berdampingan seperti ini.


Fawaz terlihat mencocokkan kembali nomor kursinya dan kemudian memperlihatkannya pada Lisa. “Sudah benar.” Fawaz tersenyum lalu duduk di samping Lisa.


Lisa hanya mendelik seraya memalingkan wajahnya ke jendela. Berbeda dengan Lisa, Fawaz justru fokus pada sikut Lisa yang ternyata masih terlihat ada goresan bekas luka akibat terjatuh ke aspal tempo hari.


“Lukanya masih belum kering, ya,” ucap Fawaz yang secara spontan membuat Lisa langsung menutupi sikutnya.


“Sialan … aku pikir gak akan ketemu dia lagi, tahu bakalan ketemu tadi aku pakai kemeja lengan panjang biar ke tutup,” gerutu Lisa pelan.


“Kenapa? Apa ada masalah?” lanjut Fawaz.


"Ga ada, masih ingat kan. Janji buat ga tampilin muka lo depan gue!"


"Ketus amat, ga ada yang buat janji. Kan mbak waktu itu yang bilang, saya belum jawab Ya atau tidak, kan?"


Lisa juga merasa kesal, kenapa bisa kebetulan bertemu pria seperti ini lagi. Ia berharap tidak pernah bertemu lagi setelah ini, tanpa di duga waktu dalam jangka beberapa bulan. Konflik perjodohannya menemukan sosok Fawaz. Pria yang membuat ia benci karena datang di saat sakit hati, ditambah karena tragedi kecelakaan.


Hingga dimana, Lisa mengamati Fawaz yang akrab pada Lisa dan jatuh hati. Perjuangannya mendekati tak membuahkan hasil, tapi sekian waktu Fawaz melirik Lisa dan memahami jika sebenarnya ia sudah terpukau akan Lisa. Hanya saja saat itu ia fokus pada sahabat baiknya Hanum, yakni adik dari Lisa yang cara berkatanya lembut dan halus.


Tok!! Tok.


Fawaz mengetuk pintu kamar, yang ia dapat adalah Lisa sedang konser dengan penutup hitam ditelinga. Fawaz yang telah berganti pakaian, dan menggantung jas medisnya. Ia segera mendekat ke arah Lisa.


"Yank, aku bawain buah."


"Aku lagi sibuk, ga nafsu juga makan."


"Yank, lepasin dulu headsetnya! ingat aku suami kamu, sampai kapan kamu marah. Semua udah aku jelasin. Tapi kenapa kamu ga percaya sih?" Fawaz memegang pipi Lisa.


"Apa kamu udah berikan bukti sama aku, apa kamu kira setiap istri mudah percaya aja. Ingat, aku bukan Hanum!" celah Lisa yang meninggalkan kamar, seorang diri Fawaz yang masih tertegun sikap keras kepala Lisa.


...Tbc...


Mampir sambil menunggu Hanum, jangan bosen ke judul novel temen litersi Author ya!