BAD WIFE

BAD WIFE
HANUM MELAHIRKAN



Hanum merasakan sangat tidak enak, perutnya terasa mulas dalam jangka sebentar dan makin terasa cepat dalam hitungan beberapa menit ke puluhan detik. Sementara ia masih melihat mas Rico, dan mama sedang mengatur warga yang ikut membantu merapihkan barang barang baru ke dalam rumah baru.


"Sayang, kamu pasti kecapean ya. Mama ga mau papa kamu panik, kamu pasti seperti kemarin ya, aktif. Maafin mama karena kita harus pindah pindah lagi." senyum Hanum, mengelus perutnya.


"Auuwh, makin sakit. Perutku ini kenapa ya, bukankah aku ga makan pedas tadi." gumam.


"Han, kamu kenapa?" tanya mama.


"Ga apa mah, Hanum hanya pegal aja."


Mama Rita melihat kaki Hanum yang semakin bengkak, ia tersentag membuat Rico menoleh ke arahnya.


"Ya ampun, Han! ini sih bengkaknya parah. Mama ambilin sedikit minyak ya. Mama pijitin sebentar!"


"Mah, ga usah mah. Kaki Hanum sedikit kotor!"


"Sayang kenapa?" tanya Rico, dan akhirnya mama Rita menaikan kaki Hanum ke atas sofa, dibawah pangkuan. Hanum yang merasa risih karena kakinya diatas kaki sang mama, ia menurunkan lagi.


"Ga usah panik! biarkan aja kaki kamu kaya gini, wajib di urut sebentar. Dulu waktu mama hamil, kamu masih didalam kandungan mama. Kaki mama juga kaya gini, sama oma."


Sementara Rico mengelus punggung Hanum, perut yang besar membuat Rico kasihan. Dan meminta maaf karena ulahnya, Hanum sedikit kesulitan dalam hal apapun, terlihat tak nyaman.


Perjalanan kali ini dirasakan Hanum begitu sangat lambat. Perasaannya begitu tidak tenang, tapi sang mama mulai merasakan keanehan. Meminta Rico mengemaskan pakaian bayi dan berjaga jaga siaga, kala Hanum sepertinya akan lebih cepat melahirkan.


"Mules lagi ya? dari kapan?"


"Baru aja mah, tapi makin lama makin cepet. Tapi Hanum yakin ini karena kecapean aja."


"Rico, kemas barang bawaan Hanum, juga pakaian bayi. Ke rumah sakit sekarang!"


"Baik mah."


Rico membawa Hanum ke rumah sakit, benar saja mules Hanum semakin kencang. Dan terlihat begitu dahsyat ketika Hanum berteriak semakin tak karuan saat ini.


"Mas, aauuuwh .. huhuuhu .. sakit." lirihnya.


"Sabar sayang, kita segera sampai." panik dan waspada Rico.


"Maafin Hanum ya mama, kalau Hanum banyak salah, Mas maafin Hanum kalau nanti Hanum ga bisa nemenin mas. Tolong selamatin bayi kita!"


"Sayang, kamu ngomong apa sih. Kamu akan baik baik aja!"


"Han, istighfar. Jangan mikir hal buruk saat ini, pikirin bayi kamu yang butuh kamu dan Rico lihat suami kamu!" tambah mama.


"Iy mah, maaf! tapi Hanum benar benar sakit banget. Hanum merasa ga kuat sakitnya." isak tangis Hanum.


Mama Rita melantunkan ayat suci, memohon kesabaran agar Hanum tetap banyak shalawat. Sehingga jeritan Hanum, sampai kencang kala ranjang rumah sakit menepi di jajaran mobil, kala mobilnya terparkir.


"Sus, istri saya mau melahirkan. Tolong ya!"


"Mah, Rico dampingin Hanum ya!"


"Iy nak, banyak istighfar!" ucap mama Rita.


Kini Rico meremas tangan Hanum, dan ini pertamakalinya Rico mendampingi wanita melahirkan. Begitu keringat keras mengalir, kesakitan yang di rasakan Hanum karena ulahnya. Membuat Rico merasa bersalah, dan ia tidak tega melihat Hanum kesakitan. Rico merasa Hanum tidak perlu hamil lagi, baginya cukup Hanum saat ini kesulitan.


'Begitu besar pengorbanan istriku saat ini yang sedang hamil, bertarung nyawa demi malaikat kecil kami hadir. Selamatkan istri dan bayiku ya Rabb.' batin Rico.


"Dok, apa ada obat penghilang rasa sakit?kasian istri saya dok."


"Pak Rico, ini memang kodrat wanita melahirkan. Tetap dampingi istri bapak, agar tidak berhenti mengejan di tengah tengah ya!" ucapan dokter, membuat Rico mengangguk.


"Hanum sayang, mas akan terus disamping kamu. Bertahan terus ya! malaikat kecil kita akan hadir." kecup Rico pada jemari tangan Hanum.


Dokter memberi aba aba, agar proses Hanum melahirkan lancar.


Tarik napas bu!


Betul, seperti itu! ngejan, ayo bu sedikit lagi!


"Aauuuwh, Aaaaaaah! sakiit. Maaaas!" teriak Hanum.


Hingga Rico menahan cengkeraman bahu, dan tangannya yang di gigit. Tapi rasa sakit itu seolah terbayar kala Rico melihat jalan lahir Hanum, begitu lucu ketika seorang bayi menangis.


"Ngejan! ayo bu!"


Aaaaaaaagh!!


Eeeaaaa, eeeeaaa!


"Selamat ya pak, bu! bayinya perempuan!"


"Alhamdulillah, sayang anak kita sudah lahir." senyum tangis menyatu pada wajah Rico.


"Tapi, bu Hanum masih harus banyak tenaga ya! masih ada bayi lagi." ucap dokter.


Rico dan Hanum tak menyangka, jika bayinya kembar.


"Sayang, tarik nafas ya!" ucap Rico mengelus kening Hanum.


Maaaas!! teriak Hanum, mengejan hingga melantunkan istighfar.


Tbc.


Yuks, mampir lagi sambil nunggu Hanum. Novel litersi temen Author.