BAD WIFE

BAD WIFE
MIMPI ANEH



Ketika cinta membuka mataku dengan sinar indah putih berasap, dari balik cerminan pantulan kaca. Yang mungkin jendela telah terbuka. Menyentuh jiwaku yang lembut ke arah jarinya.


Wanita bernama Hanum itu terlihat tersenyum bahagia, ketika pandangannya membuka sedikit. Terlihat wanita itu senyum dengan pakaian sangat feminim. Jiwa Alfa berontak, kala menatap seisi kamarnya tak ada wanita, dan ia mencarinya.


"Haaah." keringat bercucuran pada punggung, dan kening Alfa, ia terbangun dan lagi lagi bermimpi Hanum.


"Jiwaku menderita karena perpisahan, tetapi kembali terhibur oleh mata penuh cinta, apa aku benar mencintainya? tidak ini pasti rasa bersalahku padanya." gumam Alfa yang menyibak selimut.


Terlebih Alfa lemah kala wanita bernama Irene keluar dari sebuah pintu, terlihat jelas ia memakai piyama handuk dengan tinggi di atas lutut. Alfa menyesal, karna yang ia rasakan itu hanya mimpi, ia sadar irene dan Hanum sangat jauh, tidak bisa dibandingkan dari apapun.


'Mama benar, Hanum memang pantas jadi istriku. Aku harus cari kemana Hanum?'


Kerinduannya pada Hanum, mengajarkan ia untuk memuja Hanum setelah tak bersama. Kepurapuraan dirinya bersama Irene bagai kecambah tanpa rasa. Bagai tumisan tanpa bumbu, irene memang wanita yang sangat cantik dan modis, terlebih dalam ranjang yang memenuhi biologisnya.


Tapi jika dibandingkan dengan Hanum, kecantikan hatinya dan sikapnya mampu mengajarkan ia menjadi pribadi yang lebih berguna. Benar Hanum pernah berkata, ia adalah pria bodoh dan pecundang yang tak bisa mengungkapkan semuanya. Dan berjuang mati matian hanya demi sebuah harta yang berharga dibanding nyawa seseorang.


'Sssiieeet! kenapa mikirin kesana sih?' batin Alfa.


Alfa menggerakan jarinya ke arah wajah. Ia sadar dalam beberapa menit, jika saat ini ia sedang bermimpi Hanum. Bayangan Alfa frustasi kala Alfa mimpi basah bersama Hanum, terlebih melihat Irene di sampingnya berubah wajah Hanum.


"Siaal! kenapa wajah Hanum lagi aku melihat Irene." gumamnya.


Sudah satu bulan Hanum pergi, akte cerai juga ia dapati. Termasuk untuk Hanum, sayangnya karna Hanum terjadi kecelakaan. Ia masih mengejar, dan tanda dirinya telah berpisah ada pada Alfa.


"Aku sudah resmi berpisah darinya, bahkan ia sudah hilang karna kecelakaan. Bagaimana bisa aku memikirkannya."


"Darling! kamu kenapa diam. Tidak mandi, ini sudah hampir siang?"


"Ya! aku akan segera mandi."


Alfa lagi lagi mengerjapkan kedua matanya. Ia benar benar tidak bisa mengontrol, jika di hadapannya adalah Hanum. Menepuk beberapa kali pipinya. Baru wajah Irene nampak jelas.


"Darling, kamu sakit? kok keringetan ga kaya biasanya sih?" Irene menyentuh kening Alfa.


"Tidak usah khawatir, aku pasti akan baik baik saja!" senyum Alfa, ia lalu berlalu membersihkan diri.


Irene yang kesal, merasa aneh saat Alfa menatapnya dengan dalam, seperti melihat hantu di pagi hari. Irene kembali mengambil beberapa jas, menyiapkan untuk Alfa dan tak lupa mengganti bajunya untuk bersiap pemotretan.


Sementara Alfa yang sudah kembali ke meja makan untuk sarapan, Irene mengekor dan membuntuti Alfa.


"Apa wanita itu akan tinggal di sini? dia belum menikah dengan putra kita. Kenapa kamu diam saja Jhon?" teriak Maria pada suaminya. Mood di pagi hari kembali menggila, ketika melihat kekasih Alfa tinggal di kediamannya.


"Sayang! biarkanlah Alfa dengan urusannya. Kita sarapan lalu check up ya!" lembut Jhoni.


Alfa yang menuruni anak tangga, ia tau jika mama dan papanya pasti ribut karna Irene. Dengan begitu ia langsung pamit pada kedua orangtuanya.


"Mah! aku pergi dulu, maaf tidak sempat sarapan bersama. Alfa terlambat. Pah, Alfa pamit!"


Heuumh! Maria sebagai ibu hanya diam, tak menjawab apalagi menatap putranya. Yang kala itu wanita yang ia benci ada di samping putranya.


**Berbeda Hal**.


Hanum, kini telah mengemas bekal untuk siang nanti. Ia lagi lagi harus memutar cara, bagaimana dirinya harus bisa bertahan hidup. Muncul dan menghubungi Lisa, itu sangat mustahil. Karna Hanum terlalu menyayanginya, sehingga ia lebih baik berusaha sendiri.


"Apa aku bekerja part time ya? kerjaan ku hanya enam jam, jika masuk pagi pasti aku lebih cepat sampai di rumah. Setidaknya sisa uangku bisa untuk transportasi." lirihnya.


Dengan sensitivitasnya yang luar biasa, Rico menatap Hanum yang keluar dari pintu, ia pernah merajut sebuah kisah cinta. Namun melihat Hanum, ia jadi ingat tentang sepasang kekasih yang indah dan menggelora.


Rico kembali melaju mobil, ia berjalan perlahan mengendari mobilnya seperti siput. Seolah ia sedang membuntuti atau mengawal Hanum yang kini pergi bekerja, dengan naik angkot.


"Kenapa tidak langsung menjemputnya saja, kenapa harus berhenti dibelakang angkot pak?" tanya Erwin.


"Kau ini, ayo cepat pergi. Lagi pula terserah saya memerintahkan kamu!" ketus Rico.


Rico segera mendapat email, Adelia berbicara jika pagi ini pukul sepuluh. Kerjasama Jhonson akan datang ke indomarco terkait prodak yang akan ia suplai. Terlebih di beberapa cabang yang Rico rintis, temurun dari sang papa. Membuat Rico lebih banyak waktunya di luar.


Rico segera meminta Erwin berjalan cepat, lagi pula ia melihat angkot Hanum berhenti di samping kantornya. Bedanya jika Rico harus berada di lantai tertinggi, sementara Hanum berada dalam swalayan bekerja di bagian gudang.


"Erwin, bisakah wanita itu di pindahkan ke bagian dalam hrd?"


"Uhuuuk! Uhuuuk." Erwin terbatuk, seolah neraka melebur jadi surga. Tak pernah putra Mark sangat baik pada orang lain dengan berlebihan.


"Apa anda sedang menyukainya?" menoleh Erwin dengan senyuman.


"Kau sebagai asisten papa jangan lancang, tugasmu akan berhenti sampai disini jika kau berani bicara aku menyukainya!"


Bruugh! pintu mobil di tutup dengan keras, Rico segera naik keatas lantai lebih dulu. Sementara Erwin dengan senyum miring mengayunkan tangan, memutar untuk memarkir mobil.


"Maryco, kamu memang dari dulu selalu jaim." cetus Erwin pada nama Rico.


Perusahaan Marco memang didirikan oleh tuan Mark. Atas nama kedua anaknya, yakni Mary dan Rico. Serta gabungan dari tuan Mark lah indomarco terdiri hingga besar. Sayangnya Mary meninggal sejak lulus sma. Adelia yakni sepupu Rico, ia menjadi adik Rico karna di angkat oleh tuan Mark. Kecelakaan yang mengakibatkan istri tuan Mark dan kedua orangtua Adelia. Sementara Mary mempunyai kasus yang sulit dijelaskan, meninggal dalam keadaan mabuk berat, rasanya mustahil.


Hanum lagi lagi kembali menunduk sopan, tak berani menatap Rico yang sedang berjalan ke arah ruangannya. Hanum berhenti masih memegang dus. Sehingga pak Rico sendiri melewati batas tubuhnya.


Semua karyawan merasa tersanjung, karna setiap pagi, bos muda mengkroscek gudang dengan mata yang segar. Tak pernah bos muda turun tangan setiap pagi mengecek seluruh keadaan swalayan yang kini, semakin bersih karna bos muda selalu dadakan melihat kenyamanan tokonya untuk para custumer.


Aromanya wangi, tapi Hanum lagi lagi memutar ingatan. Jika dirinya melihat Rico, seperti ada diri Alfa yang terlintas. Hal itu karna gaya bicaranya yang seperti merendahkan, tak suka dan Hanum takut, bully an kembali padanya.


Hanum segera cepat bekerja, namun entah kenapa, dirinya terpeleset. Dus itu jatuh, lalu mengenai kepala Rico, sehingga semua mata memandang ke arahnya. Posisi Hanum sudah terjatuh menahan sakit, tapi tatapan mata Hanum pada karyawan lain, berisyarat tak enak.


"Ada apa, kenapa melihatku kalian semua?" Hanum lalu menoleh kebelakang.


~ Bersambung ~


Tunggu dua bab lagi ya all, Happy Reading. Mau puasa nih, maaf lahir bathin ya dari Author penulis Hanum. Makasih atas dukungannya buat Hanum dan Alfa. Jejaknya yuks!