BAD WIFE

BAD WIFE
TATAPAN FAWAZ



"Hanum?"


Lisa segera mengangkat telepon dari adiknya itu. Lalu bicara jika dirinya tak jauh dari villa Feli yang letaknya di jakarta timur. Hal itu membuat Hanum terdiam, ia tau jika itu adalah milik keluarga dari Fawaz.


"Kakak sama Fawaz?" tanya Hanum.


Sontag membuat Lisa gelagap, dan menjelaskan jika dirinya bersama sang mama dan dr Felicia. Lisa juga menjelaskan kala saat itu Fawaz mencarinya, juga mengantar dr Felicia mamanya yang ada project iklan bersamanya.


Dengan hati kembali tenang, Hanum meminta Lisa menunggunya. Sekaligus ia ingin menemui Fawaz terkait hal penting.


"Ok. Kaka tunggu ya Han!" Lisa menutup panggilan di ponsel lipatnya. Sejujurnya Lisa tau, jika hati Hanum ada nama Fawaz, dan sebaliknya.


Meski dalam hati Lisa penasaran, apa yang ingin dilakukan Hanum. Bicara hal penting apa sampai Hanum jauh jauh menyusulnya.


Tapi rasa kagum dan sulit melupakan sosok Fawaz membuat Lisa cinta dalam diam. Lisa yakin jika perasaan yang tumbuh saat ini akan kembali pergi dan pudar. Hanya menahan rasa sakit adalah hal terbaik, dan memutar pikiran untuk tidak menikah adalah simbol pendirian Lisa. Hal itu agar adiknya tetap bisa bersama dengan pria impiannya, dan mengalah.


Fawaz masih menunggu Hanum, hal itu membuat pikirannya senang. Dan menunggu Hanum bercerai setelah masa idahnya lewat, maka ia akan melamar Hanum untuk dirinya kelak. Meski sang mama belum tau, wanita yang ia cintai dari dulu adalah Hanum sahabat kecilnya itu.


"Mah! Hanum sedang menuju kesini. Tante gak apa kan, kalau Hanum datang ke sini juga?" ucap Lisa mendekat.


"Loh! ga apa dong. Kalian itu udah kami anggap keluarga. Hanum juga teman baik putra tante. Lagian project akan memakan dua sampai tiga hari. Sekaligus malam terakhir kita harus bakar bakar daging. Ala ala korea gitu deh, makin seru rame rame. Kapan lagi coba, dokter bisa punya waktu kaya gini." jelas Felicia.


"Mama. Malu maluin dokter aja, kaya anak abg aja maunya bakar bakar kaya di film." cetus Fawaz menggoda sang mama.


"Gak apa dong, dokter sombong dikit. Karna kita maunya villa papamu tetep ramai. Maka iklan dari Lisa pasti kebantu, kamu tau kan ratusan juta pengikut Lisa di storynya?"


Lisa terdiam, karna mama Fawaz adalah salah satu pengikutnya di tmeet bergambar burung berwarna biru dan i9 berlogo merah dengan kode timbangan pake gram. Hal itu juga membuat Lisa termalu malu dan menahan tawa.


Felicia tau jika Lisa menyukai putranya, sehingga ia mengajak Rita ke salah satu view lokasi yang menurutnya cocok untuk ngobrol berdua saja.


"Lisa kamu tunggu Margareth di sini ya! sambil tunggu sesi kostum iklan berikutnya. Fawaz temani Lisa ya nak! mama mau ada hal penting sama Rita!"


"Ok mah." balas Fawaz yang senyum sambil menggeserkan mouse pada laptopnya.


Tak lupa mama Rita meminta Lisa menunggunya, sambil menunggu kedatangan Hanum.


Lisa hanya senyum sesekali memandang wajah pangeran bumi di depannya. Karna ia kembali di poles make up tipis tipis oleh sang Mua.


BEBERAPA JAM KEMUDIAN.


Hanum telah sampai di villa Feli. Karna akses yang Hanum punya tak bisa masuk. Ia melewati arah pintu belakang, karna security mengenalnya, dan kali saja Fawaz berada di sana sehingga Hanum lebih mudah bertemu.


"Hah, sudah lama banget ga ke tempat ini lagi." lirih Hanum.


Menepi di jembatan, satu security menunjuk jalan setelah Hanum memintanya lokasi kediaman Fawaz yang saat ini sedang syuting program iklan. Kebetulan Parno mengenal Hanum beberapa kali pernah bertemu bersama Fawaz.


"Loh, bu Hanum ya. Cari Den Fawaz toh?" sambutnya.


"Of course, I can jedug jedug ke ruangan Den Fawaz." gaya sombongnya Parno yang beradu sok inggris.


Hanum hanya tertawa, lalu berterimakasih. Karna ia melihat sang mama sedang duduk serius bersama dr Felicia.


Satu sampai lima langkah, Hanum terhenti kala pembicaraan itu semakin intens.


"Jadi begitu jeng. Fawaz itu sudah matang, mungkin dengan menikah. Hidupnya berwarna dan lebih sering di rumah. Salah satu putri kamu, gimana kalau kita dekatkan mereka?" tanya Felicia.


"Maksud jeng Feli, saya dukung Lisa dengan putra anda?" terpatah Rita kala syok, jika mama Fawaz menyukai Lisa untuk menjadi menantunya.


"Iya betul. Lisa single, apalagi putra saya. Cocok kan?"


"Begini, setau saya. Maksud saya saya tidak punya kuasa, jika hal serius seperti ini saya setuju saja. Tapi anak anak harus tau dan harus saling menyukai, agar tidak kandas ditengah jalan. Terlebih .." Rita terdiam, kala ia melihat Hanum di belakang dr Felicia.


Hanum? lirih sang mama. Hanum menghapus mata mengembangnya, ia berusaha senyum dan kelilipan dengan mengipas meminta sang mama meniup salah satu matanya.


"Hello tante, Mama. Maaf Hanum lambat, mama mata Hanum kelilipan perih." manja Hanum.


"Sini nak! kamu pasti capek, hati hati anginnya kencang sayang!" ungkap mama Rita.


Hal itu membuat dr. Felicia ikut terkejut, karna tidak ada angin sebesar itu. Lalu apa lagi setelah kemungkinan terbesar mama Rita, jika Hanum masih memyimpan perasaannya pada Fawaz. Tapi ibunda Fawaz sangat menyukai putranya bersama Lisa.


"Han! kamu laper gak? kita gabung sama Lisa dan Fawaz di dalam ya!" ajak dr Felicia.


"Boleh tante. Hanum juga kebetulan Lapeer." bergema, agar tak curiga jika ia sedih saat ini.


"Memalukan kamu Han." tawa sang mama mengusap rambut Hanum.


Tak begitu lama, mereka berada dalam satu ruangan. Hanum berdiri tepat pada posisi Fawaz. Hal itu membuat Lisa menatap di tengah tengah.


Sementara sang mama sibuk meminta seseorang menyiapkan makan malam untuk mereka bersenang senang.


"Hai! Han, Apa kabar?" senyum merekah Fawaz.


"Fawaz. Kabar aku baik, nanti malam temui aku jam delapan ya!" bisik Hanum, ia lalu pergi melangkah ke arah Lisa dengan pelukan hangat.


Mama Rita mendengar perkataan Hanum, tapi ia juga tau jika putri sulungnya menyukai seorang dokter. Hal ini membuat ia duduk lemas dan memikirkan harus Mendukung siapa. Karna dua gadis itu adalah anak anaknya juga.


Fawaz memencet tombol pesan, lalu mengirimkannya tepat ke ponsel Hanum.


Tling! dering pesan pada ponsel Hanum. Lisa juga ikut melihat sekilas, itu adalah simbol hati dari nomor Fawaz untuk Hanum.


"Kok pada diam sih, ada apa ini?" tanya dr Felicia yang tiba saja kembali.


~ **Bersambung** ~