
Beberapa jam kemudian, Hanum keluar dan mengganti pakaiannya. Setelah selesai ia keluar dan tak menemukan keberadaan sang suami. Hanum mencari ke ruang kerja, tapi suara bell berbunyi membuat Hanum terdiam dan ingin membukanya.
Hanum berlari kebawah anak tangga, ia membukanya dan menatap Erwin yang datang.
"Ada apa Erwin?"
"Pak Mark, akan keluar kota beberapa hari. Saya hanya memberi pesan saja agar tidak cemas! dan pak Rico sedang mengantar ke bandara."
Hanum terdiam, belum lama ia bercanda dengan suaminya. Hingga lelah dan ia tertidur ketika adegan manis terjadi. Saat membuka mata, mengapa tumben mas Rico pergi tak mengabarkannya.
"Bu Hanum, apa anda baik baik saja?"
"Ya, baiklah terimakasih Erwin."
Hanum terdiam, dan berlama lama lupa untuk makan. Berkali kali ia menghubungi mas Rico, tapi ia hanya memberi pesan.
"Aku mempunyai mereka, tapi seperti sendiri." lirih Hanum bersandar.
Hanum menggeser tirai, dan menatap pohon beringin, sudah berapa hari ia tak mengunjungi sang mama. Hanya sebuah paket. Keberadaan yang sulit, nomor ponsel yang tak aktif. Ingin sekali ia memeluk sang mama disaat seperti ini. Mencurahkan isi hatinya, jika mas Rico dalam keadaan tersulit, tak pernah ia berbagi.
"Mas, ga adil kalau kamu berjuang sendiri. Sementara aku dirumah memikirkan kamu. Aku harus temui Alfa." gumam Hanum, ia segera mengganti pakaiannya.
DUA HARI KEMUDIAN.
Hanum menghubungi seseorang, ia serius mencatat keperluan yang di butuhkan.
"Apa, baiklah Dewi yang kau katakan apakah benar. Baiklah obat yang kau kirim tulis seperti biasa. Vitamin atau susu. Seperti biasa, obat itu kau taruh di balik celah alat makeup, alamat masih sama, kirim ke alamat mama!"
"Baiklah, memang kau ingin pergi kemana Hanum, aku temani kalau kamu sendiri?"
"Aku tidak kemana mana, kamu ga perlu khawatir." balas Hanum, dan mengakhiri teleponnya.
Bel berbunyi, Hanum segera menuju bawah anak tangga. Ia terlihat senang tak sepi, kala mas Rico sudah kembali.
"Mas, pasti capek. Biar aku ambilkan minum dulu!"
"Sayang, maafkan mas. Kemarin mas terlalu membuatmu lelah. Mas tadinya mau antar sampai bandara, akhirnya mas antar papa ke bali. Masih ada keluarga dan rumah atas nama mama. Yang tidak mungkin terlacak, jadi sementara waktu papa tinggal di sana."
"Mas, apa secepat itu kediaman papa, dan kediaman kita juga akan di ambil?"
"Benar sayang, lusa kita tinggalkan tempat ini juga. Kita temui Alfa, biarkan kemauannya seperti itu. Kita bisa tinggal di desa mungkin sementara waktu. Sampai Erwin dan pengacara mas mengurusnya."
"Baiklah, asalkan dengan mas. Hanum akan selalu bahagia."
"Meski tanpa uang sekalipun, kamu mau bersama mas?" tanya Rico.
"Mas, bohong jika tanpa uang hidup akan baik baik saja. Tapi sebelum itu terjadi, aku dan mas, kita sama sama berjuang lagi dari nol. Gimana?"
"Pintar, cukup logis! kita adalah pasangan paling bahagia bukan. Buat semua mantanmu cemburu!"
"Mantan mas mungkin yang banyak, aku tidak punya pacar atau pun mantan." gerutu Hanum, masih mode dalam pelukan Rico dengan erat.
"Mas, ayo mandi! aku siapin makan siang ya."
Rico yang masih menempel pada Hanum, ia segera melepas dan menuju kamar. Tapi saat Hanum meletakkan segala hal, ia menuju dapur dan menghampiri Hanum yang sedang menata lauk dan nasi.
"Mas kok turun lagi?"
"Maaas."
Hanum tersipu menutup wajahnya, kala Rico sudah membawa Hanum dan menggendong ala bridal style.
Sewaktu malam, Hanum yang berpangku pada Rico, ia saling memeluk dan berrbicara panjang. Di mulai dari Hanum yang tak kuat jika di tinggal terlalu lama, di mulai Hanum yang takut jika suatu saat mas Rico akan berpaling dan tidak mencintainya lagi.
"Mas, kalau aku berubah gendut lagi. Jelek, apa mas akan berpaling?"
"Tidak sayang, mas akan membuat kamu tetap menjadi ratu. Apapun itu, kamu adalah nafas mas. Hanya pria bodoh yang berani menyakiti wanita sepertimu."
"Tapi umumnya wanita habis melahirkan akan berubah total."
"Biar mas berjuang, untuk mencukupi segala kebutuhan kamu dan anak anak kita. Mas akan berusaha mensuport kamu, sudah banyak herbal dan olahraga setelah melahirkan yang aman. Itu setelah nifas, percayalah! jangan pikirkan hal buruk. Mas dan kita akan selalu bersama."
"Baiklah, Hanum akan memegang janji mas Rico."
Lalu Hanum terkejut ketika sebuah koper yang telah rapih Rico siapkan. Hanum bergeser, dan membukanya. Tak lama Hanum membulat bibir huruf O, lalu menatap suaminya dan meminta penjelasan.
"Mas, apa ini?"
"Besok pagi, kita ke majalengka. Sekaligus malam terakhir kita di rumah ini. Pulang berfoto kita akan melihat rumah baru kita. Sebelumnya mas minta maaf, mas harus merelakan semua aset yang kita punya sayang. Mas gagal membuatmu bahagia dengan kemewahan."
"Mas, ga semua wanita suka kemewahan. Kesetiaan mas, kita bisa mulai lagi usaha lain kan? hidup suasana baru."
"Good Wife. Terimakasih Hanum istri ku." kecup Rico pada kening Hanum.
***
Sementara di sisi lain, Alfa menuju apartemen Rico. Ia berusaha mengejar Rico pergi, tujuannya adalah tidak sesuai kesepakatan. Ia tetap ingin menggertak Hanum, untuk meninggalkan Rico saat itu juga.
"Sial! tidak sesuai rencana. Harusnya bukan hanya aset, Hanum yang aku inginkan juga. Wanita itu makin merajalela bahagia dengan Rico." gumam Alfa.
Alfa melajukan mobilnya begitu cepat pergi dari Hotel West meninggalkan Adelia sendirian.
Dan sepanjang jalan, Alfa pun terus mengumpat dengan kesal.
"Sialan! Ada apa dengan anak itu? Biasanya dia bersikap seperti anak kecil yang begitu iseng dan suka mengeluh, tapi mendadak hari ini dia bersikap seperti seorang wanita dewasa yang menyebalkan! Merengek seperti itu agar aku berlama di hotel bersamanya!"
"Haah! Untuk apa aku melakukannya? Apa dia pikir aku ini suka mencampuri urusan orang lain? Apalagi urusan wanita itu! Sial bahkan aku hanya memanfaatkan biologisku saja. Sekaligus membuat Rico hancur adalah tujuanku."
Alfa kembali menatap ponselnya, terlihat Adelia sedang menghubunginya. Tapi tidak di angkat karena malas. Alfa saat ini ingin mengejar Rico, dan masih ingin membuntuti kediaman rumah baru yang mereka tinggal nanti.
"Rico dan Hanum. Kamu tidak akan bahagia, selama aku masih ada. Hahaha." gelak tawa Alfa.
Namun rem mobil terhenti, ketika seekor kucing di tengah jalan. Membuat Alfa menekan klakson dan kesal membanting stir.
"Arrrgh!" gila, gara gara ini aku pasti terlambat.
Alfa turun, memindahkan seekor kucing. Lalu kesal menendang ban mobilnya. Ketika yang ia lihat, adalah kempes ban mobil di bagian depan dan belakang.
Aaaaarggh!! teriak Alfa kesal.
Tbc.