BAD WIFE

BAD WIFE
PERSIAPAN LISA



"Bagaimana sudah ada info dari dr Tera?" tanya Fawaz.


"Belum, Ay! aku udah konsultasi. Tetap aja kekhawatiran aku dengan gelap dan lift membuat aku ketakutan." jelas Lisa.


Hanum yang sedang mengambil air minum, ia segera meraih dan ikut menyapa kedua pasangan yang sebentar lagi akan menikah, di ruang tamu.


"Duh! udah ayank ayank segala. Bukannya mau dipingit ya? masih aja ketemuan." sindir Hanum.


"Apaan sih kamu Han! gajelas deh." Lisa meraih bantal sofa yang dilemparkan ke bujur Hanum.


"Auuw! sakit kak, hehee." tawa Hanum.


"Han, udah dong. Kamu ini kayak ga ngerasain kangen kangenan aja. Biarin aja, toh dua hari lagi mereka bakal sulit bertemu." jelas Mama, ikut bergabung dengan sepiring cake.


"Tunggu, emang kenapa ga ketemu. Bukannya udah biasa kalau dipingit ga ketemu ya?"


Mama mengajak Hanum duduk disofa, dan ikut mengobrol diantara kedua anaknya dan calon menantunya itu. Lalu sedikit memberi wejangan.


"Kamu ga tau, Fawaz itu mau ke ternate. Dia mau ada pasien vvip. Anaknya walikota sakit, cuma dr Fawaz katanya yang sanggup." jelas mama senyum.


"Bener cuma pasien, bukan yang lain Faw?"


Fawaz meremas jari, dengan mengeluarkan jari agar Hanum tidak merubah mood Lisa menjadi bad mood.


"Pasien lah, Han. Aneh aja lo." cetus Fawaz.


"Dih, ngegas ni laki."


"Dek! udah deh, kamu demen banget godain kakak sih. Huhuu." sedih Lisa.


"Bercanda kak! ya ampun, mau pengantin aja kok cengeng. Fawaz ga ada tampang selingkuh, kalau berani dia begitu. Tinggal bikin aja konten story kakak, karier dr Fawaz di rumah sakit al zeera penuh kecurangan, termasuk mencurangi hati istrinya. Pasti meredup. Terus tinggal minta denda semua asetnya buat kaka. Itung itung ganti kerugian."


"Han!" ucap mama meminta Hanum diam, tak menggoda lagi.


"Astagfirullah! sabarkan hambamu ini. Sadis bener ancaman adik ipar. Lisa, jangan percaya omongan Hanum. Pondasi rumah tangga itu adalah saling percaya. Ok!"


"Heuuum! aku cuma sedih, nanti mama sama siapa. Yank?"


'Ueeek, rada enek ya liat Lisa manggil ayank.' gemuruh batin Hanum.


Peluk Lisa, dan Hanum tertegun ikut menatap bingung. Hanum juga ikut memeluk sang mama, sehingga Fawaz duduk tercengang sendiri.


"Lis! menikah atau enggak, kamu tetap ketemu mama kamu lah! bahkan aku seneng kalau mama ikut kita." jelas Fawaz.


Hal itu membuat tatapan Hanum ikut menoleh, kala Lisa senyum ingin memuji pasangannya. Tapi buru buru Hanum patahkan.


"Ciyee! perhatian banget Fawaz ini. Awas ya kalau cuma diawal doang, manis manis ujungnya sepet pait." ledek Hanum sambil tertawa.


Pluuugh! melempar bantal sofa dan merengek Lisa.


"Auuw sakit kak, mainnya timpuk timpuk aja nih."


"Mah! Hanum ledekin aku lagi." manja Lisa pada sang mama.


"Han, udah jangan goda terus. Nanti kalau giliran kamu mau nikah cengeng kaya Lisa. Mama cuekin ya." ancam mama.


Tak lama suara dering telepon rumah membuat Hanum menoleh. Hanum pamit, meninggalkan ruang tamu. Sementara mama dan Lisa masih mengobrol bersama Fawaz.


"Hallo, Iy. Siapa ini?" tanya Hanum.


"Hallo, Haloooooow. Heeh," teriak Hanum menaruh kembali telepon rumah dengan keras.


"Kenapa Han?" tanya mama menghampiri.


"Ga tau, orang iseng kayaknya. Masa udah empat kali ada orang nelepon tapi dijawab ga ngomong. Ngeselin kan."


"Karma tuh, mangkanya jangan ledekin kakak terus." cetus Lisa.


"Dih, pede. Kakak nih lebay, cengeng."


Hanuuum! teriak Lisa, hingga Hanum pamit berlari ke kamarnya. Tak lupa mencium pipi sang mama. Mama pun, hanya menggeleng kepala dan menatap senyum pada Fawaz.


"Maafkan tingkah mereka ya Fawaz. Jangan kaget, meski mereka lebih sering seperti tom and jerry. Tapi mereka aslinya penyayang, dan saling peduli."


"Ya tante, Fawaz mengerti. Sekalian, Fawaz izin ajak Lisa keluar sebentar."


"Ya, jangan sore sore ya! ingat, kalau mau manten, ga boleh sering keluar. Hari ini tante ijinin!"


"Ya, baik tante. Fawaz hanya sekitar mall sini aja, tante mau nitip apa?"


"Ga usah, tante minta kalian cepat pulang. Terus istirahat yang cukup, jangan sampai hari hak kalian drop."


Permintaan mama Rita, membuat Fawaz tertegun. Hingga dimana, mereka pamit dan menyisakan sang mama serta Hanum yang kembali ke anak tangga.


"Dek. Jagain mama sebentar!" ketus Lisa menatap Hanum.


"Siap, bos nyodok."


"Hanum." menatap tajam sang mama.


"Ya kan bener, kak Lisa mau jadi nyonya dokter. Disingkat. Mama sayang." tawa Hanum garing, membuat mama geleng kepala.


Hanum segera meraih ponselnya, lalu dengan perasaan tidak enak. Ia bicara sesuatu pada sang mama saat Lisa dan Fawaz telah pergi.


"Mah, Hanum boleh minta pendapat gak?"


"Boleh, soal apa nak?"


Dengan terdiam, Hanum meremas jari. Ia takut memulai pertanyaannya pada sang mama. Lalu mama pun menyadari Hanum dengan menepuk tepat di depan wajah putrinya itu.


"Hey cantik! mau bicara apa, ga jadi nih?" lirih mama.


Tbc.


Mampir karya Author baru lahir ya!