
Hanum menerima paket, dan saat itulah ia baca, begitu merasa terpancing emosi. Ketika mas Rico menutupinya dari Hanum. Sehingga saat ia menoleh, mas Rico sedang menerima panggilan ke arah pintu dengan handuk yang melilit saja.
"Ah! bodoh, tunggu saya di de-pan!" terdiam Rico, ketika melihat Hanum sudah memegang berkas putih.
Rico menjatuhkan ponsel ke atas sofa, lalu mendekat ke arah Hanum. Gelagap gugup membuat Rico tak bisa mengelak.
"Sayang, kamu sedang apa?"
"Mas, jelaskan semuanya padaku. Tagihan ratusan triliun, bagaimana bisa?" syok Hanum.
"Jangan khawatir! mas akan mengalahkannya. Mas hanya sedang mempertahankan Marco pusat. Mas memang berniat tidak memberitaumu dan papa. Karena mas ga mau kamu kepikiran dengan masalah ini." menarik lembut kertas putih di tangan Hanum.
"Mas, bukankah aku istri mas. Aku berhak tau mas, jika itu papa. Ok! aku ga masalah, apa mas tak mempercayai Hanum lagi?" isak tangis Hanum pecah.
"Sayang, jangan menangis. Maafkan mas!" mode memeluk erat Hanum, berusaha menenangkan.
"Maafkan mas, ingin sekali niat memberitaumu. Tapi kamu dalam keadaan hamil, masalah pelik akan mengganggu kandunganmu nanti. Dan mas ga mau itu terjadi, I'm sorry Hanum!"
Rico mencoba menenangkan, lalu ia menjelaskan segala hal di kamar. Setelah berganti pakaian. Hanum masih menatap beberapa tagihan denda dan tuntutan tanah sengketa tanpa ijin yang Hanum tak mengerti banyak soal hukum.
"Mas, jika mengalah saja bagaimana. Kita beli tempat yang baru, dan tak jauh dari pusat Marco."
"Dua kali lipat sayang, harga tanah dan bangunan serta membutuhkan waktu yang cukup lama untuk membuat pusat marco menjadi sama persis. Dan papa sudah mempertahankan itu semua dari nol. Mas punya bukti dan itu bukan tanah sengketa, mas harus cari Adelia sekarang!"
"Mas, kita temui pemilik AJ market. Gimana?" tanya Hanum.
Rico terdiam, jika istrinya tau ini adalah rencana Alfa. Maka bukan lagi ketakutan Hanum disakiti dan kehilangannya. Dan itu Rico tak ingin.
"Loh, bukankah Adelia akan menikah dengan Erwin. Kenapa Erwin tidak tau?"
"Dia menolaknya sayang, setelah keluar dari lapas. Membuang cincin ke wajah Erwin dan kabur."
Mendengar hal itu membuat hati Hanum sedih, ia merasakan betapa sulitnya Rico saat ini. Hanum berdiri menghampiri Rico yang saat ini menatap jendela kamar, yang langsung melihat ke arah kerlip kerlip perkotaan di malam hari.
"Mas, yakinlah. Kita hadapi sama sama. Apapun, keadaan apapun. Aku akan berada di sampingmu. Demi keluarga kita yang utuh, dan bayi kita kelak hadir. Dia pasti akan membawa kita kedalam kebahagiaan tak terkira."
"Sayang, terimakasih. Maafkan mas, kamu benar benar istri sempurna. Mas beruntung, mas berharap dan berdoa. Kita tidak terpisahkan! terimakasih sudah menguatkan mas." kecup peluk Rico pada Hanum.
Sementara Hanum bersandar pada bahu Rico yang tinggi dan lebar, membuat bantal empuk sebagai sandaran kehidupannya.
Jika aku sekalipun akan tinggal di rumah petak, asalkan aku selalu bersamamu mas. Aku bahagia mendapatkan imam sepertimu, aku yang beruntung mendapatkanmu. Kepercayaan Hanum benar benar kuat menjalani kehidupan ini.
"Dan kehidupan mas berwarna denganmu Hanum, kamu sudah banyak suport mas."
"Hanum hanya menjalankan tugas sebagai istri, berusaha menjadi yang terbaik. Dan mendukung mas adalah salah satunya." balas Hanum saling menatap.
Rico sangat bahagia, kini ia segera menutup tirai kamar hanya dengan jentik jari. Saling menatap dan menggendong Hanum, membawa ia ke alam surga dunia dan saling menatap dalam.
"Kita tinggalkan masalah beban berat, karena ada yang berat jika tak melihatmu dan menyentuhmu sayang." lirih Rico.
Hal itu membuat elak tawa Hanum, ia merangkul pundak leher suaminya. Ketika berada di pembaringan big bed.
Tbc.