BAD WIFE

BAD WIFE
HAMIL LAGI



"Jadi isu Nestia itu benar, mereka ketemuan dan kak Lisa minum sesuatu yang udah dikasih sesuatu sama wanita gila itu, tanpa kak Lisa tahu." sesak Hanum, mendengar penjelasan dari polisi.


"Sayang, kita tidak perlu masuk ke dalam hal mistis. Dokter kan bilang, sebelumnya Lisa menyembunyikan sesuatu dari kehamilannya. Mama juga nemuin obat yang Lisa pergok, katanya itu vitamin."


"Mas kenapa jadi belain dia sih, mas suka kan sama wanita itu. Yang udah rusak kebahagiaan Lisa?" ketus Hanum.


"Demi Tuhan, sayang! jangan seperti itu. Ok! mas minta maaf, aku tahu ini berat buat kamu mengenai Lisa, mas juga sama. Mas ga maksud seperti itu, mas hanya mau kita hadapi dengan kepala jernih. Jika kamu percaya hal mistis, kita serahkan sama Tuhan, dia yang berhak membalas bukan kita." jelas Rico, mode memeluk Hanum.


Dengan sigap, Hanum kembali ke kursi di mana ia melihat mas Rico dan Erwin bergegas melanjutkan petunjuk dari polisi, karena Rico dan Erwin dimintai keterangan.


"Mbak Hanum, tolong maafin saya!" teriak Nestia.


"Kamu pikir gampang, udah membuat kakak aku pergi. Juga buat rusak rumah tangganya. Enyahlah! aku dan mamaku ga akan diam buat kamu Nestia." teriak Hanum, dan Rico kembali menenangkan.


Hingga di mana, beberapa orang berseragam coklat datang membawa borgol. Terlihat polisi wanita meringkuk tangan Nestia yang tertutup tudung.


Dan Hanum kembali masuk ke kamar, ia lebih memilih menemui kedua bayinya. Serta bayi Azril yang masih merah, dan menatapnya dengan dalam. Tak lupa mama Rita turut mendampingi cucunya.


"Mah, begitu kecil ya dia. Begitu malangnya dia terlahir. Hanum janji kak! akan rawat anak kakak, sama seperti anak Hanum sendiri. Dia akan jadi adik dari Ghina serta Ghani."


"Iy Han! mama ga sangka, dan mama berharap mendoakan kalian bahagia selalu, tetap bersama panjang umur bahagia." ujar harapan mama Rita.


"Hanum juga doakan kesehatan mama, dan mama selalu bersama Hanum, bahagia terus." Hanum memeluk sang mama.


Sinta pun yang telah datang dari tadi, melihat aksi Hanum yang protes. Ia mengetuk dan mendekat ke arah Hanum dan mama Rita. Semenjak tak ada Lisa, ia jadi dekat dengan Hanum, karena suatu hal yang mereka curigai. Sinta kembali mendekat dan memegang bahu Hanum.


"Han, kenapa sakit lagi?" panik Sinta yang melihat Hanum menekan perut.


"Ga tau kak Sinta, sakit banget. Auuuuuuwh!!" tangannya mencengkram dress mininya. Hingga Sinta tercekat berteriak mencari bantuan.


"Toooolong. Pa Rico, di mana ya? Ma, maksud saya dokter Felicia bukannya ada ya tadi?" teriak Sinta.


"Mereka baru aja pergi, ini pasti karena jahitan Hanum. Perut Hanum kalau banyak pikiran, entah kenapa jadi sakit." jelasnya.


"Kamu duduk dulu disini ya! ka Sinta cariin dr Felicia kebawah."


"Makasih kak."


Sehingga setelah berhasil menemui dr Felicia. Rico cukup terkejut kala ia bicara Hanum kesakitan dan meminta bantuan. Erwin dengan segera mendapat perintah, mengurus beberapa karyawan yang bermasalah dan menuju kantor polisi soal kasus Lisa yang akan manjang di pengadilan.


Sementara Rico, mengekor kala dr Felicia kembali ke ruangan Hanum berada. Rico menutup rapat, hingga di mana tante Felicia meminta Hanum di bawa ke rumah sakit terdekat, tempat ia berjaga.


'Ya Tuhan, Jangan sampai terjadi sesuatu dengan Hanum, !' batin Rico khawatir.


Beberapa saat, dr Felicia lega setelah mengecek Hanum. Hanum kini bersandar di sofa, dengan separuh bantal yang meninggi pada tungku leher, sehingga membuat Hanum sedikit nyaman.


"Bagaimana Tante. Apa Hanum baik baik saja?"


"Ehem! Rico, syukurlah. Hanum hanya stres yang memicu keram pada pertumbuhan janin. Tante rasa, setelah dua puluh menit kedepan. Bawalah Hanum pulang!" senyum dr Felicia, yang ingin tersenyum pada Rico, karena merasa tidak tega, kedua bayi Hanum masih sangat balita, di umur tiga bulan, tapi Hanum telah kembali hamil.


"Apa Hanum hamil, serius tante?"


Rico menyusuri ke ruangan Hanum. Ia mengambil kursi roda dan senyum pada Hanum. Entah apakah Hanum akan bahagia sepertinya, ketika mendengar berita baik ini. Tak lama diruangan itu juga ada Sinta yang menemani Hanum mengobrol soal bayi Lisa.


"Hanum, gue pamit dulu ya. Masih ada kerjaan soalnya." pamit Sinta, yang merasa seperti nyamuk hanya dirinya sendiri. Kala rico datang.


"Iy makasih kak Sinta. Udah temenin Hanum."


Hanum tersenyum, Rico pun menutup rapat dan mengunci pintu khusus di ruangannya. Hingga di mana, Hanum senyum dan menutup wajahnya karena malu. Begitu kilat mas Rico menutup pintu, ketika Sinta sudah pergi dari ruangannya.


"Mas. Ada apa, kok wajah mas keliatan bingung. Aku sakit apa?" tanya Hanum.


"Eeeemmh! ini hanya sedikit kabar baik, tapi mas minta kamu jangan dibawa panik dan beban ya! mas mau kamu happy. Maafkan mas sayang, sudah membuat kamu begini!"


"Mas, kok minta maaf. Emang mas Rico buat masalah apa? oh! soal di rumah ya, maafin Hanum yang nuduh mas soal itu. Hanum udah putusin, serahin semuanya sama pihak berwajib."


"Heuuumph, iya sayang." wajah Rico mendekat.


Hanum hanya tersipu, ia menatap suaminya semakin dekat. Dengan sedikit membungkuk, lalu memandang wajah Hanum yang terlihat berseri.


"Kamu tau, mas khawatir. Mas tak bisa melakukan acuh padamu. Entah mengapa, mas hanya ingin kamu dan bayi kita baik baik saja."


"Bayi, maksud mas?" terkejut ketika Rico mengelus perutnya lagi.


Hanum yang tersenyum mengecil, ia cukup di kejutkan dengan lontaran mas Rico.


"Apa, bayi kita ..?" masih mode merenung namun tetap tersenyum, seolah menampaki wajah ceria yang kembali muram.


"Maafkan mas Hanum, mas merasa bersalah, karena mas yang terlalu.. "


"Mas, ini rejeki. Bukankah mas ingin punya banyak anak dari Hanum. Mungkin Hanum akan terlihat lelah, ketika banyak anak anak menghiasi kamar kita. Maaf jika nanti Hanum akan kerepotan! dan Hanum tidak sempat menemani mas."


"Hey! jangan bilang begitu. Mas akan membantu menemani kamu merawat bayi kita. Mas akan terus berusaha berjuang mencari nafkah, agar mas bisa membuat kamu ratu di rumah. Kamu hanya perlu mengawasi, mas akan minta bantuan Erwin untuk mencari pekerja yang membantu kamu sayang."


"Mas, makasih kamu sangat perhatian." mode memeluk.


Entah kenapa Hanum merasa nyaman ingin memeluk Rico terus menerus, hal itu membuat Hanum tidak mual dan sakit. Sehingga kehamilan yang keduanya ini, cukup terkejut dan membuat pikiran Hanum tidak panik.


"Sayang, apakah ada buah jeruk besar disini?"


"Kenapa mas?" tanya Hanum.


"Entahlah! mas ingin sekali jeruk mini tanpa biji, tapi mas ingin mencari yang sangat besar. Rasa mual kenapa mas merasakan mual dan pusing ya."


Hanum terdiam, ia memencet tombol darurat. Meminta suster memberitahu dokter, apa yang terjadi pada suamimya saat ini.


"Entahlah! mas serasa lemas, pusing dan mual. Sepertinya makan sesuatu asam, bisa membuat mas lebih lega."


"Mas, tunggu ya! Hanum udah panggil dokter."


Tbc