BAD WIFE

BAD WIFE
BISNIS YANG RUNYAM



Persaingan bisnis, membuat Rico semakin gila dan hampir frustasi. Tapi ia berusaha tenang dan meminta Erwin untuk tidak memberitaukan pada Mark, sekaligus Hanum.


"Bagaimana dengan perjanjian tanahnya pak?"


"Bagaimana pun caranya, kita harus beli tanah ini. Pusat Marco kenapa bisa jadi tanah sengketa?"


"Tapi maaf! bu Adelia yang menandatangani, saat itu. Jika itu sudah bukan lagi sengketa. Dan pemilik aslinya sudah menjual pada pihak asing. Dari data semua yang saya dapat, AJ market adalah pemiliknya. Maka pusat Marco akan dibongkar."


"Tidak bisa seperti itu! AJ, saya baru dengar. Coba kamu cari tau, siapa pemiliknya. Kita nego, karena kita sudah punya banyak bukti. Kenapa mereka menaikan harga sewa lagi, jelas jelas sepuluh tahun lalu papa membelinya lunas." ungkap Rico.


Rico memang terlihat suram, karena di kantor ia sangat penat. Ia harus merinci segala hutang dan tagihan buyer saat ini. Belum lagi asetnya, tidak mungkin ia harus jual dan berikan begitu saja. Tak ingin Mark tau, apalagi Hanum yang sedang hamil terganggu pikiran. Pusat Marco sangat ramai, hanya orang picik yang tak ingin bisnisnya lebih maju.


Jika aset semua miliknya dan sang papa terjual, untuk membeli tempat baru. Maka kemungkinan masih tidak cukup, terkecuali merelakan pusat Marco dan beberapa titik pusat perbelanjaan yang ramai dan strategis.


"Hanum tidak boleh tau, ia pasti akan lebih banyak memikirkan hal buruk." gumam Rico, tak ingin kesehatan Hanum dan bayinya terjadi sesuatu.


Sesampai di rumah.


Hanum terlihat bingung, ketika Rico sudah pulang lebih awal. Biasanya ia akan berada di kantor seharian penuh.


"Mas, udah pulang?" tanya Hanum.


"Aku rindu kamu sayang." senyum Rico.


"Sayang, beristirahatlah jika tak enak badan. aku akan menghubungi dokter lagi kerumah!"


"Ya suamiku sayang, tak apa ini tak serius. Hanya tidur sebentar mungkin hilang. Aku liat di maternity orang hamil akan mudah lelah seperti ini!"


"Sayang, love you. Mas akan pergi lagi, mas akan cepat pulang!"


"Tumben mas, apa ada masalah serius di kantor?"


"Tidak sayang, mas akan cepat kembali. Jangan lupa susu, serta buah sudah mas siapkan! jika kamu butuh sesuatu hubungi mas, ya! kabari mas, sayang!"


"Iy mas, hati hati!" mencium punggung tangan Rico.


"Love you Hanum." senyum Rico. Tangan kokoh Rico menyentuh pipi Hanum.


Rico pun pergi, terlihat bibi Dina datang bersama Lion. Kebetulan mereka menjenguk dan mendapat kabar bahagia Hanum hamil. Hanya papa mertua yang belum tiba saat ini.


Satu jam berlalu, Hanum telah mengejapkan untuk bersandar. Tak lupa bibi Dena menemani Hanum saat ini.


"Makasih ya bi, Hanum jadi repotin bibi Dena dan Lion. Hey! ganteng, sini deket aunty!"


"Aunty, apakah mau punya bayi?" senyum Lion.


"Heuumph! kemungkinan, Lion mau main sama tante?"


"Iy, kalau tante Hanum udah sehat. Kita main bola ya?" terkeukeh Lion gembira.


Sehingga kala itu Hanum bercerita panjang, bermain yang ringan bersama bibi Dena dan Lion. Serta bibi Dena menceritakan bagaimana kondisi Adelia saat ini. Hanum pun mendengarkan dan memberi masukan pada bibi Dena.


***


Berbeda hal dengan Irene.


Sekian jam Irene menunggu pemeriksaan. Ia diantar oleh Peter ke rumah sakit. Gejala yang Irene alami membuatnya harus kembali tiga hari kemudian untuk hasil tes lab. Ia pun di beri vitamin oleh dokter agar menurunkan gejala lemas pusingnya. Sehingga Irene berinisiatif menukar vitamin dan resep obat dokter dengan botol suplement yang biasa ia minum agar Peter tak curiga. Tak lupa ia membuang secarik kertas resep dokter dan nota dari rumah sakit ke tempat sampah di area parkir.


Begitu sampai di rumah, ia menatap wajahnya semakin pucat. Irene memoles wajahnya agar terlihat fresh dan berusaha tegar kuat menahan rasa sakit, meski vitamin dari dokter mampu menyangga, ia tak merasakan sakit. Tapi dosisnya mampu membuatnya bertahan terlihat sehat. Irene membuang jauh pikiran yang tak di inginkan, Irene yang telah berganti pakaian menghampiri dan duduk bersandar pada dipan kasur, bagaimanapun caranya ia ingin sekali menemui Rico dan Hanum.


Irene memeluk sang adik, ia menciumi jemari jentik tangan kokoh adik laki lakinya, yang semakin besar. Menatapnya dan memberi ucapan manis serta mencurahkan kasih sayangnya.


"Kak, Er ingin kaka sehat telus!"


"Sayang, kakak akan selalu sehat dan melihatmu tumbuh besar sayang, tapi kakak harus memastikan kamu berada di tangan yang tepat. Di rumah ini tidak aman!"


"No, kaka jangan bohong sama Er. Tapi Er, tau kakak sedang Cembunyikannya, Er kehilangan papa dan mama. Cuma ada kakak! Ceritalah. Er janji tak akan bicara dengan siapa pun dan rahasia kita!"


Dengan sedikit cadel. Irene menyesal tak melihat adiknya tumbuh bersamanya, dan kini setelah bersama. Elmo mengembalikan Er padanya, hidup bersama Peter, adalah sebuah musibah bagi Irene.


"Er, sayang. Kakak memang sakit. Tapi hanya kelelahan saja, sebentar lagi pasti sembuh."


Irene menulis secarik kertas, ia berharap Hanum atau pun Rico bisa menolongnya, Irene mengirim beberapa surat melalui pos yang di kirim diam diam oleh Er. Ia berharap Hanum dan Rico bisa membacanya dengan cepat.


"Dosaku memang terlalu banyak sama kamu Hanum, aku berharap kamu bisa menolongku!"


Tak lama, ketukan pintu membuat Irene merengkut dengan sang adik.


Tbc.