BAD WIFE

BAD WIFE
SYOK BERTEMU ALFA



Hanum pulang ke kontrakan, setelah mengantar sebuah bingkisan kecil, kue lapis yang ia beli di toko kue terenak.


Hanum memang berencana menemui pak Mark karna ingin berterimakasih, tapi ia juga ingin melihat Rico juga. Belum lagi ia melihat sisi baik pak Rico baik padanya dengan hal kecil, perhatian. Meski terlihat gengsi dan ketus, tetap saja Hanum tak mau di samakan dia adalah sosok seperti Alfa. Apalagi bergantung karna kebaikannya.


Rico masih menatap Hanum, ia menelan salivanya seiring desiran hebat pada darah yang menembus kelakiannya.


Keindahan serta wangi tubuh Hanum, sungguh sayang jika dilewatkan begitu saja. Saat terpleset jatuh bersamaan, tubuhnya menempel pada bagian inti dan rona bibir yang merah jambu.


Apalagi, Rico adalah lelaki normal yang juga butuh kehangatan. Ranjang sepertinya lebih nyaman tapi, apa Hanum mau jika dirinya di lamar?!


"Tidak! Tidak, Fokus Ric! Maafkan aku tidak bisa!" jawab Rico sambil mundur dua langkah untuk menghindari sengatan bibir yang sudah bertegangan tinggi beberapa waktu lalu, sehingga ia kembali ingat.


Raut kekecewaan nampak jelas di wajah Rico. Nampaknya ia tidak menyukai sebuah penolakan, karna sebelumnya ia meminta seseorang menanyakan identitas Hanum, luka hatinya karna seorang pria akan menjadikan dirinya di tolak.


Malam ini, hati Rico terlampau patah dan terkoyak oleh kisah Hanum, wanita yang ia suka tapi pernah menikah. Terlebih masa lalunya seperti srigala liar tanpa malu, berani melakukan hal bejat di depan istrinya dan membully.


"Mungkin dengan melindunginya, memberi pelajaran pada Alfa. Cara ampuh untuk mendapatkan hati Hanum." lirih Rico, tak sadar ia bicara Erwin mendengar.


Rico pun harus menelan pahit, ketika Hanum telah berpamitan pada sang papa, belum lagi ia sedang menerima tamu. Sehingga pandangannya hanya bisa mencuri curi pada gerak Hanum saat bertamu. Alhasil ia meminta supir untuk menemani Hanum pulang.


"Tidak bisa. Aku hanya bisa memberikan waktu satu untuk Hanum!" timpal Rico sambil berbalik dan pergi seolah tidak ada tawar menawar dalam urusan asmara.


"Sepertinya, setelah gagal merayu Hanum, anda harus kembali menuntaskan hasrat besarnya di kamar mandi. Ya, di kamar mandi berteman ilusi." tawa Erwin.


"Diam kau kacung, kau temani papaku! jangan ikut campur dengan khayalanku saat ini!" cetus Rico beranjak dari kursi, sementara Erwin di ikuti dengan gelak tawa.


Lagi lagi Rico jatuh cinta, tapi masih terbawa dengan kegengsiannya yang berlebih. Jika dilihat dari jarak manapun, Rico sudah terlihat suka.


Sementara, Rico benar benar merasa dihantam bertubi tubi di malam itu. Ia merasa mendapat bully ejekan dari asisten sang papa, bisa bisanya ia selalu membuntuti kegiatanku.


"Aaaaarrgh!" Rico mendengus kesal sambil menatap sosok Hanum yang pergi dan hilang dalam kegelapan malam, ia hanya melihat Hanum kini di balik foto, di dalam layar ponselnya.


***


Cafe star.


Hari ke minggu hingga ke bulan, tepatnya lebih dari tiga bulan Hanum lewati dengan sembunyi.


Hanum mau tidak mau ia menemui mbak Nazim, berbekal nekat dan menemuinya. Tentu saja itu membuat kaget Nazim. Berita kehilangan Hanum telah jelas, hingga mereka memeluk dan bercerita hampir seharian.


Nazim meminta Hanum memberi kabar pada Lisa dan sang mama. Melupakan soal Alfa yang seharusnya tak perlu di ungkit. Berdamai keadaan dan melawan jika mereka mengancam.


Hanum merasa dirinya begitu hina. Tidak punya uang memang bisa membuat seseorang merasa dirinya tak ada artinya. Dan akan selalu dipermainkan, kala selalu mendapat bantuan dari Rico, dan kali ini aset denda yang dilayangkan Jhonson belum berani Hanum muncul.


Hanum merasa hancur dan porak poranda di malam itu. Hari ulang tahun pernikahannya yang diharapkan manis, malah berakhir tragis seperti ini, andai saja Alfa tak pernah membekas dihatinya. Mungkin saat Rico terang terangan menyukai, ia pasti akan menerima.


Ya, Hanum tak munafik, ia memang butuh kehangatan, sama seperti pasangan umumnya. Akan tetapi jiwa Hanum kuat, tak tergoda oleh teman kerja yang bernama Dewi dan Vita yang selalu kirim foto bahkan video aneh.


Dengan lunglai Hanum pun memasuki kamarnya, serta mengemasi pakaiannya.


Dan ... tidak sengaja Hanum membuka sebuah map pada tumpukan berkas penting. Matanya menatap sebuah kartu ATM yang memang sudah lama tidak ia gunakan lagi.


Kartu ATM yang dulu memang ia gunakan untuk pencairan royalty dari bukunya yang tidak laku dan tidak menghasilkan uang itu.


Entah mengapa, Hanum menjadi sedikit penasaran dan ingin mengecek isi saldo pada ATM itu.


"Apa benar pak Rico sudah mentransfer puluhan juta ke rekening ini?" benak Hanum.


Hanum tertunduk sambil menyandarkan tubuhnya di dinding teras rumah, ia teringat kala dirinya menolak pemberian Rico kala dirinya benar benar membutuhkan. Belum lagi saat di cafe, Alfa melihat dirinya dan mengejarnya.


Hanum terkaget dan mendongak ke arah lelaki itu. Kala pria itu dengan santai berjalan cepat meraih tangannya, sebelum ia masuk kedalam rumah.


"Lo mau kabur? Udah berkemas barang kayak gitu! Udah deh bayar utang, lo! Sekarang!" Alfa menendang kaki Hanum untuk yang kedua kalinya.


"Aku nggak akan kabur. Aku kan janji akan membayar dendanya!" jelas Hanum sambil meringis dan menggosok kakinya yang terasa sedikit sakit oleh tendangan Alfa.


"Ah, gua gak mau tahu. Pokoknya bayar sekarang, lo udah ga bisa kabur Han, udah gue duga lo sama Rico, di mobil pesta itu lo kan?" desak Alfa sambil melihat tas dan kardus di samping Hanum.


"Sekarang uangnya belum ada, aku cuma punya satu juta dua ratus ribu buat bayar kontrakan. Alfa!"


Tanpa belas kasihan, Alfa merebut uang itu, yang ditunjukan oleh Hanum.


"Jangan semua, Alfa! Aku butuh makan dan bensin motorku juga udah mau habis." Pinta Hanum sambil menatap wajah Alfa dengan lemas.


"Bodo amat! Itu urusan kamu Han! Dan ingat! ... besok aku tunggu sisanya, anggap aja pertemuan kita ini, terus datang untuk menagih janjimu yang sok. Kalau besok nggak bayar, kita harus kembali Han! ikuti permintaan gue!" Alfa merebut kunci motor kesayangan Hanum.


Jelas itu adalah aset kantor, yang di berikan pak Mark padanya.


"Kunci motor lu gua tahan. Biar lu gak kabur!" lanjut Alfa.


"Jangan, Alfa! Aku mohon! bagaimana aku bisa cari duit dan bayar sisanya kalau kunci motornya kamu ambil!" Ujar Hanum sambil menarik tangan Alfa.


Alfa yang merasa kesal langsung berbalik diiringi sebuah tendangan yang kali ini tepat mengenai wajah Hanum.


BLUUUGH!


Hanum terlempar hingga membentur dinding Basecamp. Ia meringis dan berusaha bangkit dengan menahan rasa sakit dan nyeri pada tubuh dan hatinya.


Hari yang benar benar naas untuk Hanum Saraswati. Namun tiba tiba saja, tatapan Hanum tertuju pada sebuah mesin ATM yang berada di seberang Basecamp.


Sekelebat ia teringat akan perkataan kedua lelaki yang menyuruhnya untuk mengecek saldo ATM lamanya.


"Apa benar ada uang puluhan miliar di rekening lamaku ini? Aku tidak percaya, tapi aku harus membuktikannya!" desis Hanum, agar ia bebas dari ancaman Alfa.


To Be Continue!!