
Hanum merasa bersalah, ia sudah yakin jika Lisa tadi mendengar percakapan dirinya dengan Fawaz. Terlihat wajah sang kakak berbeda. Hanum yakin, jika Lisa sudah jatuh cinta dengan Fawaz.
"Ka, Please! jangan bohongin Hanum. Hanum tau apa yang ada dihati kakak. Jangan buat Hanum merasa bersalah!"
"Han, kamu berpikir apa sih. Udah kita jemput mama sekarang, kayaknya udah selesai Check Up nya!"
"Tapi kaka dengar kan tadi,? jangan bohongi Hanum kak. Hanum merasa hanya punya kakak dan mama. Di keluarga kita selalu tertanam kejujuran kan? meski jujur itu sakit."
"Sakit? kenapa harus sakit sih Han, kamu mikir apa emangnya. Kaka ga dengar kalian ngomong apapun tadi."
Pernyataan Lisa, membuat Hanum yakin jika kakaknya itu mangkir. Menyembunyikan kebenaran. Hanya saja Lisa begitu baik, selalu berkorban untuk dirinya tanpa memikirkan dirinya sendiri.
"Sakit untuk jujur, karna diantara kita saling menyakiti dan mengalah. Andai itu terjadi, Hanum yang akan berkorban kak. Hanum rasa memang Fawaz harus memiliki wanita perfect dan lajang. Bukan seperti Hanum!"
"Bersumpahlah jangan bohongi Hanum Kak!" isak tangis Hanum begitu saja, memegang tangan Lisa dan meletakkannya di kepalanya.
"Kamu ngomong apa sih, ga ada yang suka Fawaz. Kaka hanya memikirkan kamu dengan Alfa. Belum lagi mama belum tau soal kamu hamil anggur, kaka hanya bicara kamu sakit demam aja."
Mendengar pernyataan Lisa, Hanum tersanjung. Tapi mata dan gerik Lisa, terlihat saat bicara berbeda dengan hatinya.
Lisa segera meraih, lalu senyum dan merangkul adiknya itu dengan erat. "Huhhuu! Han, kamu udah dewasa. Kakak bangga sama kamu, sekarang hapus air mata kamu. Kita temui mama!"
"Janji sama Hanum!"
"Soal apa?"
"Hati kakak, di isi nama Fawaz kan?" senyum Hanum pada Lisa.
Lisa tak menjawab, ia tetap menggeleng dan menarik tangan adiknya itu. Senyum Lisa terlihat jelas berkata A tapi berbeda dengan hatinya Ya!
"Kita ngobrolnya nanti aja! kaka juga mau kasih tau kamu sesuatu. Sekarang temui mama, mama kangen sama kamu gadis bontot. Eh kan udah ga single lagi ya." goda Lisa.
"Dasar nih akak." tertawa Hanum.
Hingga membuka pintu, ruang rumah sakit dengan fasilitas nomor satu. Hanum dan Lisa memeluk mama Rita, yang kini selesai mencopot selang infus di tangan. Terlihat suster mendampingi.
Menurut Lisa, jika bukan karna santunan tiap bulan dari kantor sang papa dulu. Mungkin Lisa dan Hanum akan sangat kesusahan untuk hidupnya, sekedar membayar rumah sakit. Jangankan pengobatan, mungkin tagihan rumah saja harus membagi pikiran membantu sang mama.
"Minggu depan mama ga perlu check up deh, Lis. Mama capek."
"Jangan dong! nanti kesehatan mama gimana, soal keuangan nanti Lisa bantu mah. Jangan gitu dong, bikin Lisa sedih aja."
"Memang kartu bantuan dari kantor di putus ya Mah. Eeeh, maaf kalau Hanum lancang?"
"Enggak sayang! tapi pengobatan mama itu terlalu sering. Mama juga udah tua buat apa coba, kalian kalau ga ada mama. Saling menjaga ya!"
"Mama. Jangan bilang gitu dong!" serentak Hanum dan Lisa kompak. Mereka takut di tinggalkan dan merangkul bagai teletabies.
Hanum merasa bersalah, saat ini Lisa jadi beban tulang punggung. Sementara Hanum, ia juga bingung untuk membantunya. Semenjak menikah dengan Alfa. Alfa bahkan tak memberinya nafkah. Kartu black dari papa mertuanya, mungkin masih di Irene.
"Kamu mikirin apa Han? mama liat kamu kaya banyak tekanan?"
"Gak apa kok mah. Hanum jadi pengen kerja deh, terus tinggal bareng sama mama lagi."
"Ga bisa dong Han! harus ada persetujuan suami kamu. Mama ada kakak mu yang jaga. Jadi jangan Khawatir ya!" Mama Rita menepuk pipi Hanum.
"Lisa jadi ga mau nikah deh, mama kaya gini terus sakit sakitan."
"Lisa, kalau udah ada jodoh kamu harus nikah. Ga usah pikirin mama."
"Enggak! Lisa mau nikah, kalau pria itu bisa menunjang kebutuhan Lisa, mama dan segala pengobatan. Juga ga boleh larang Lisa yang bawa mama kemanapun Lisa tinggal kelak udah nikah."
"Kak Lisa, Materialistis."
"Biarin, jujur kaka tau." balas Lisa.
"Ok! Hanum teraktir ya Mah. Ya gak kak,?"
Duuh! sombong, mentang mentang punya banyak uang dari suami. Bagi bagi kaka ya, buat beli camera. Kaka mau belajar konten youtube! goda Lisa, sehingga mereka bertiga tampak akrab bagai sahabat yang kembali bertemu.
***
MC ENTERTAIMENT.
Ke esokan harinya cafe gold, di tempat Lisa bekerja.
"Sinta, thanks banget ya. Gue seneng deh, lo dateng jauh jauh. Gue ga nyangka klo lo bakal jenguk datengin gue." rangkul Lisa.
"Gue kan sahabat yang akan selalu ada buat lo Lis. Lagian baru dapat cuti nih, maunya mah pas kamu sama manager baru kamu itu loh perginya Lis. Gimana perkembangan kamu sama dia, kan dia baik kayaknya?"
Lisa dan Sinta bekerja satu gedung, hanya beda divisi.
"Eheeum! jangan harap deh, udah punya bini dia. Ga minat gue ama laki orang." sindir Lisa.
Sinta terdiam, lalu Lisa menoleh yang di pikir adalah bos Lisa.
"Lah, dapat intruksi deheuman. Lis, kok doi lo bisa di sini?" heran Sinta.
"Ssst. Udah jangan bahas, pusing kalau di pikirin juga. Balik kantor aja yuks! inget dia udah punya bini. Ga minat gue Sin." pinta Lisa menarik tangan Sinta.
Sinta berdiri, lalu hormat pada pria yang pernah jadi atasannya itu." Permisi pak, saya temani Lisa dulu." pamitnya.
Sementara Rehan masih menatap Lisa yang pergi, pertemuannya di acara gathering Dance. Membuat Rehan mengenal Lisa yang baik dan anggun. Tapi sayang, ingin mendekatinya tapi Lisa sudah lebih tau jika ia telah beristri.
"Lo beneran kenyang Lis?" tanya Sinta.
"Udah ah, kita ke kantor. Pak Rehan kan cuman manager di perusahaan MC kan, dia jadi manager karna bu Alea istrinya."
"What? serius lo dah tau duluan Lisa. Hebat banget sih sahabat gue ini." puji Sinta mengekor masuk kedalam lift.
"Semua berawal dari undangan gathering adik ipar gue. Lo tau kan Alfa Jhonson. Dan ceo kita di M Entertaiment kita ini, pak David yang notabane dia itu sohib Alfa. Sumpah, kelakuannya ga jauh beda pasti. Ga minat gue, cuma mau kerja bener aja."
"Lisa lisa, lo masih kesemsem ama pak dokter ya?" goda Sinta.
Hal itu membuat Lisa menginjak kaki Lisa dengan sengaja. Lalu dengan kode mata mengedip, agar Sinta tak melanjutkan pembicaraannya lagi.
"Kenapa sih, kaya liat hantu deh. Atit tau, kaki aku Lis, sakiit." manja Sinta.
"Sssst! jangan diterusin ya. Bahas yang lain aja!" bisik Lisa.
Sinta pun terdiam, lalu menoleh ke arah depannya. Yang saat ini terlihat beberapa orang berdiri juga.
"Siapa dia Lis,?"
To Be Continue!!
Sambil nunggu Hanum. Yuks mampir litersi temen Author.
Judul : MAFIA STORY Kemabalinya Anak Tak Berguna
Author : Warnyi
Brurb:
Fitnah telah membuatnya terusir dari rumah dan keluarganya, hingga suatu kejadian mempertemukannya dengan seorang pemimpin mafia terbesar dan menjadikannya sebagai penggantinya.
Agra kembali setelah meraih kesuksesan, dengan tujuan ingin membalas dendam. Diwarnai dengan kisah percintaan dengan gadis masa kecilnya. Akankah Agra bisa membalaskan dendamnya dan mengalahkan para musuhnya?
Yuks! kepoin novel ala mafia yang seru.