
Lisa mengajak Hanum ke kedai kelapa, para pria bertubuh atletis, hanya memakai celana boxer. Berkulit sawo matang dan tak jauh beda cukup menarik perhatian wanita. Hanum terdiam, kenapa kakaknya ini malah mengajaknya cuci mata.
"Kak, yakin beli minuman disini?" tanya Hanum.
"Heuuump! kenapa, kamu ga mau. Kedai ini paling rame biasanya, cukup lumayan kalau kita beli, pas lagi sepi. Bisa memandangi sekalian kan?" senyum Lisa, menaikan satu alis.
Hanum hanya menggeleng dan duduk di sebelah Lisa, sementara Lisa memesan dua kelapa dengan senyum seolah sedang tebar pesona.
"Kak, jaga sikap! gimana kalau Fawaz lihat nanti!" bisik Hanum.
"Dia lagi berselancar, ga akan lihat. Han."
"Fawaz, kenapa istri kita tetap diam dan acuh?"
"Ya benar, ini tidak sesuai ekspetasi. Mereka tidak cemburu atau mereka memendamnya. Sudahlah akhiri saja, kita cari dimana mereka!"
Rico pun berlalu melangkah dengan Fawaz. Mereka mengusap kening yang basah dengan handuk kecil. Mereka berjalan ke arah dimana istri mereka duduk. Sudah banyak wanita yang memandangnya dan menggoda. Tapi Rico dan Fawaz mengabaikan.
Jika mereka berdandan ala pria pemain selancar, maka tidak ada yang tau profesi mereka, jika dua pria adalah seorang dokter dan pemilik market Marco terbesar.
Saat ini Hanum dan Lisa memesan kebab mini, ia melahapnya setelah pria itu memberikan dengan tatapan menggoda, Lisa senyum dan menyalami pria itu yang berkenalan.
"Kak, udah yuks!" bisik Hanum memberi kode.
"Bentar Han!"
Saya Lisa, ganteng makasih ya kebabnya enak. Dan kala Lisa melahapnya, ia berbalik arah.
Sluurrrp!! aksi mereka menyuap terhenti.
Lisa dan Hanum membulat sempurna. Ia tersenyum menatap para suami mereka tepat dibelakangnya. Tubuhnya melangkah mundur hingga menepi di balik batang pohon kelapa.
"Jadi begini tingkah kalian jika tak ada suami?" seru Fawaz dan Rico menatap istri mereka.
Rico merengkuh dan memandang Hanum.
"Mas, jangan mendekat tubuhmu basah!"
"Benarkah?" balas Rico.
"Kamu pasti salah paham, tadi aku dan Lisa. A-aku."
"Kenapa tidak melihat aksi kami sayang, kamu malah menggoda penjual makanan disini?" tanya Rico.
"Hah, aku sudah maju tapi wanita disana lebih antusias melihat aksi kalian. Suka kan, dipuji, ditatap, disorak handsome. Sampai sampai tubuh aku terdorong. Untung saja ka Lisa berhasil menangkap aku, sehingga aku tidak jatuh parah."
"Benarkah, mana yang sakit?" tanya kembali Rico.
"Heuumph! sudahlah lanjutkan saja aksi Mas. Tebar saja Roti sobek, kalau perlu jual saja Aura mas itu. Mungkin lebih tinggi dari investasi! bisa bisanya berselancar aku istri mas tidak tahu." gumam Hanum.
"Kenapa jadi kamu yang marah, sayang?" tanya Rico mengekor Hanum yang pergi ke tempat teduh.
Hanum berjalan dan berlalu. Sehingga Rico mengejar sang istri dan tersenyum lebar. Jelas terlihat sang istri amat marah dan kesal terbakar cemburu. Ia pun menatap Fawas dan bersiul.
"Misi, behasil." lirik Rico.
Rico menaikan satu alis menatap pada Fawaz. Sementara Lisa terdiam dengan bingung. Masih mode terkunci tangan Lisa, oleh genggaman tangan Fawaz. Lisa juga berteriak pada Hanum, jika ia akan pergi duluan. Sehingga menyisakan Hanum dan Rico berdua saja.
"Kenapa diam, sayang?" tanya Rico pada Hanum.
"Sudahlah mas, aku bantu bersihkan ya! Mas harus ganti bajunya. Aku ga mau kamu sakit!"
"Perhatian sekali istri mas ini."
Rico tersenyum. Ia merangkul dan memegang dagu sang istri. Wajah yang merah terlihat. Rico mengusap pipi dan bibir sang istri. Wajahnya tiba saja mendekat membuat Hanum tertegun dan menunduk.
"Kenapa menghindar, sayang?"
"Mas, ini di luar area terbuka. Apa kata orang kita itu melakukannya?"
"Mas, tetap saja."
"Kalau gitu kita lakukan di ruang ganti!"
Rico menarik paksa, lembut tangan Hanum menutupi matanya. Karena di ruang ganti hanya ada pria semua.
"Mas, semuanya laki laki." mode memejamkan mata.
"Biar saja, kita kekasih sah. Kamu kan mau keringin punggung mas." ucap Rico, seolah membuat malu Hanum. Kala tatapan pria yang sempat bersiul pada Hanum, mengatakan dia adalah milik seseorang.
BEBERAPA JAM KEMUDIAN.
Kini mereka makan di tempat restoran terdekat. Rico mengajak Hanum makan steak. Setelah pesanan tiba, Rico memotong daging lezat untuk Hanum dan makan bersama.
Hanum yang menyuap steak dan melahapnya. Tak lama Fawaz datang bersama Lisa ikut bergabung.
"Duh, yang makan. Ga nunggu sih?" sindir Lisa.
"Kelamaan, lagian kalau daging dingin ga enak kan." balas Hanum.
"Sayang, mas ke belakang dulu. Mas ada urusan sama Fawaz."
"Baiklah mas."
Sementara Hanum yang melanjutkan makan, melihat piring Rico juga sudah habis. Terlihat sibuk, Hanum menatap Lisa yang membawa piring pesanannya.
"Kakak juga laper tau, sayang makanan di hotel pelit. Kurang suka, ini tuh dagingnya banyak ya?" Hanum hanya senyum mengangguk.
Jam mulai berjalan satu jam lamanya, makanan Lisa dan Hanum telah habis. Mereka semua benar benar bad mood ketika para suami lama sekali, tak kembali ke meja makan.
"Tuh dia, Rico sama Fawaz kembali kak."
"Hah, kakak rasa, ada yang mereka sembunyikan Han. Mengapa bersamaan mereka selalu lama?"
"Benarkah, apa itu Kak?" tanya kembali Hanum.
Tapi pembicaraan mereka terhenti, ketika Rico dan Fawaz kembali. "Maaf sayang, kamu pasti lama menunggu." ucap Rico mengelus pucuk rambut Hanum.
"Ya, mas. Ga apa."
"Sayang, kita akan ada di kota ini paling cepat tiga hari!" tambah Fawaz menatap Lisa.
"Benarkah, ah. Ya, aku akan mendampingimu." senyum Lisa.
Mendengar kabar itu pun, Lisa senang dan antusias. Karena ia menginap di tepi pantai, sehingga tatapan Hanum berbisik pada sang kakak.
"Kak, apa kita harus selalu ontime. Jika kemanapun suami kita dinas ke berbagai daerah. Meskipun itu tempat yang terpencil sekalipun, kita harus ikut?" bisik Hanum.
"Ya harusnya gitu, itu menurut kakak. Tapi jika tidak juga sih itu ga apa apa, itu pun jika kamu ingin suami kamu tersalurkan pada wanita lain kelak. Kamu tau kan, wanita genit jaman sekarang? apalagi kalau suami kita berpakaian rapih." jelas Lisa.
Eheuum! tatapan dua pria menatap Lisa dan Hanum yang berbisik. Seolah suaminya tepat di depan mereka di acuhkan.
"Jika ada sesuatu yang ingin ditanyakan, tanyakanlah langsung pada suami kalian!" ucap Rico dan Fawaz bersamaan. Lisa dan Hanum hanya cengingis bersamaan.
Sementara Hanum, ia merangkul tangan Rico. Ia meminta Rico untuk ke tempat lebih nyaman. Yakni hanya ada mereka berdua. Seolah memberi ruang Lisa dan Fawaz yang saling beradu mata dan tegang.
"Mas, aku mau jus alpukat."
"Baiklah, mas temani." menggenggam tangan.
Hanum dan Rico berada di kasir, ia melihat cupcake dengan pilihan rasa. Namun saat mereka memilih. Seseorang mengeluarkan black card, dan menyenggol bahu Hanum.
"Ups, maaf." lirih wanita itu, membuat Hanum menaikan satu alis.
Tbc.
.......