
Jaga ucapanmu Adelia!! teriak Rico.
Adelia yang merasa sang kakak sudah tak memperhatikannya, ia segera masuk dan melirik sinis pula ke tatapan Hanum. Dan Rico mengajak Hanum masuk.
"Kau sudah lihat wanita di luar Rico?" tanya sang papa.
"Pah, apa maksudnya. Papa bawa dia kemari, untuk apa. Jangan sembarangan, gimana kalau dia itu ada niat tidak baik."
"Betul yang Adelia bilang kan, papa selalu saja seperti itu." gerutunya.
"Diam! Aku sedang bicara dengan papa! Sebaiknya kamu pergi jenguk Lion. Urusan ini biar aku yang tanya dengan jernih." ketus Rico pada Adelia.
Dan Adelia berlari pergi, menyenggol bahu Hanum. Hanum merasa tidak enak, ia akhirnya berjalan ke arah halaman belakang. Lalu melihat dengan jelas apa benar itu irene sosialita itu. Meninggalkan Rico dan Mark sedang berbicara di ruangan private.
"Irene, kamu benar irene kekasih Alfa? Bagaimana kamu bisa sampai sini?" tanya Hanum.
"Kamu pasti senangkan! Melihat aku seperti ini, karier mati dan benar benar mirip gelandangan. Tampilanku tak terurus benar wanita tadi bicara, aku mirip pasien rumah sakit jiwa." jelas Irene menyapu kembali.
"Jangan tutup rambutmu, aku bisa bantu semampuku, apa yang kamu butuhkan! tapi jelaskan kenapa kamu bisa sampai rumah?"
"Hanum, kamu benar benar terus menginjak harga diriku! Dulu kamu merebut Alfa, dan kamu tau aku disekap oleh pria bernama Peter, kamu tau dia kan? Dan karena aku sudah tak dianggap lagi oleh Alfa, aku dibuang dan disiksa lahir batin ku. Kamu pasti merasa puas bukan, hahaa?"
"Kamu salah Irene, aku sudah tidak bersama Alfa. Aku menyerah akan cintanya, tapi berpisah pun Alfa membuat hidupku dan keluargaku tidak aman. Apa kamu tau saat bersamamu, Alfa overdosis obat obatan?"
"Hahaa, jangan mengalihkan Hanum! Sampai kapanpun! Aku akan beri perhitungan padamu kelak." cetus Irene, lalu pergi meninggalkan Hanum.
Hanum terdiam, sebenarnya ia risih jika Irene bekerja pada keluarga Mark. Ia tidak peduli Irene marah dan berpikir bukan bukan, padanya. Yang jelas ia berusaha mendekati Irene untuk ikut saja dengannya pulang, sampai hatinya lunak. Hanum yakin, sejahat jahatnya manusia ia akan sadar, jika lawannya tidak sejahat yang ia pikirkan.
"Kamu tau kan, gimana aku bersama Alfa. Aku bisa bantu, dan lebih baik kamu tinggal di kediamanku! Bagaimanapun disini tidak akan aman. Jangan biarkan keluarga Johnson dan Mark kembali berseteru. Aku mohon padamu Irene!"
"Aku permisi." lirih Irene kembali acuhkan Hanum.
Hanum hendak meninggalkan Irene seorang diri di sana, tapi wanita itu lagi lagi hanya diam tidak menyahuti apa yang dikatakan olehnya.
Sebelum melangkah pergi meninggalkan irene. Hanum sempat memperhatikan penampilan Irene, pakaian yang kotor dan juga rambut yang berantakan, membuatnya mengira kalau Irene adalah seorang tunawisma yang tidak memiliki tempat tinggal.
Tak lama Rico datang, lalu meminta Hanum segera bersiap.
"Thanks Rico." senyumnya.
"Han, bagaimana kalau kamu nanti ikut saja, aku ada pertemuan nanti pulang kerja?" tanya Rico membuat Hanum menatapnya heran dan menaikkan sebelah alisnya.
"Rico, kita baru saja bertemu kamu mau aku ikut lagi?" tawa Hanum.
"Wah, rupanya calon istriku tidak ingin ikut. Baiklah, aku akan ajak Erwin saja, asisten kaku itu haaah.." nafas berat.
"Baiklah, kalau begitu. Aku ikut Rico si bos manja." tawa Hanum.
Akhirnya Rico dan Hanum pergi, menuju rumah yang ditempati oleh Hanum saat ini. Selama 30 menit perjalanan, mereka hanya saling diam, kala mempertanyakan soal keberadaan Irene.
"Kita jangan bahas dia dulu ya! Aku tidak akan suka dia berada dirumah, aku harus usir dia secara halus. Aku tidak ingin ada efek lain kedepannya."
"Benarkah? Jika dia ikut ke rumah ku bagaimana?" tanya Hanum.
Srittth ! Rem mendadak membuat Hanum dan Rico terkejut.
"Han, dia itu pernah jahat padamu. Dan aku takut dia di rumahku, memanfaatkan papa. Aku sudah hubungi Erwin untuk mencarikan kontrakan kecil, lalu memberinya uang agar dia tidak lagi mengganggu kita kedepannya."
Mendengar perkataan Rico, Hanum tersipu. Kekhawatirannya benar benar tepat, kala pria yang akan menjadi suaminya, benar benar membuat hatinya lega.
'Rico, awalnya aku takut tapi saat kamu berkata seperti ini, kenapa aku jadi senang. Adakah celah pria sepertimu yang membuat aku selalu ingin memujimu terus.' batin Hanum senyum.
"Kenapa senyum, tidak jawab? Kamu sedang melamun soal aku ya. Keren kan calon suamimu ini?" goda Rico, membuat pipi Hanum merah tomat.
"Gombal, aku aku ga memujimu. Tapi.., benar benar beruntung karena kamu pria satu banding sepuluh. Terimakasih kamu telah memilihku Rico."
Hahaha, akhirnya aku mendapat pujian dari calon istri! teriak Rico, membuat Hanum malu.
Hingga sampai di rumah, Hanum memeluk sang mama. Rico juga menyalami, dan berbicara pada mama Rita, sambil menunggu Hanum yang bersiap.
Lalu seseorang datang, membuat tatapan Rico menoleh, dengan tangan pria itu yang membawa sesuatu yang ia kenali.