
Sinta masih ingat saat terakhir ia mengantar Lisa pulang, tak sangka hidupnya selama ini sakit dan tak semua orang yang ia sayangi mengetahui, bahkan Lisa benar benar wanita yang dianggap perfect dan idaman. Bahkan Hanum sendiri selalu dibohongi ia bahagia dan baik baik saja.
Lisa turun, sudah ada mama Felicia, mama Rita dan Hanum yang senyum pada Lisa yang pulang saat ini. Hanum menyerahkan bayinya ke stroller dan meminta dua pengasuh menjaga bayinya.
"Kak, kemana aja? kita was was dengan keadaan kakak."
"Maafin kakak ya Han, kalian harus datang jauh jauh hanya karena.."
"Kak, kita keluarga. Kita sebaiknya bicara di dalam!"
"Mama, maafin Lisa ya."
Mama Felicia dan Rita membalas pelukan Lisa. Sinta dan Lisa dipersilahkan masuk, dan tetap tinggal bersamanya saat ini. Mereka lama berbicara panjang, dimulai dari makan bersama. Dan membicarakan hal kerjaan Lisa. Hingga setelah Lisa istirahat dan tenang, mereka baru membicarakan soal Fawaz. Kala Lisa memulai pembicaraan lebih dulu.
Hari berlalu, Lisa dan Hanum serta sang mama, tinggal dalam satu atap bersama tante Felicia di kediamannya. Sementara Rico masih sibuk mengurus usaha marketnya. Belum lagi perusahaan yang ia dirikan bersama Fawaz terbengkalai dan mengalami kerugian fatal. Hal itu membuat Rico pulang malam, dan berangkat lebih pagi dalam keadaan langit masih gelap.
***
MENJELANG ESOKNYA.
Lisa tiba di kantor utama. Ya kantor sebelum di mutasi ke kantor sebelah, semasa kerjasama antara bos lama dan pak Ray.
Ia bertemu Sinta dan telah menunggu, di ruang reseptionis. Dengan senyuman, tawa pecah. Ia segera melambaikan tangan ketika Sinta terlihat.
"Sinta, udah lama nungu gue?" tanya Sinta, menutup kaitan tasnya.
"Mmmmh .. bisa ya. Bisa juga enggak ... Heeee." senyum Lisa.
"Duh ilah, senengkan tinggal bareng sama keluarga. Ya dah, cabut yuuks!" menatap jam di lingkaran tangannya.
"Iy bener, dukungan mama dan ibu mertua, apalagi Hanum. Bikin gue kuat dan banyak masukan yang lebih masuk akal sih, gue terlalu panikan."
"True." senyum Sinta.
Hingga beberapa saat, mereka tiba di cafe Star. Telah lama mereka selalu quality time bersama, membicarakan dari hal kecil sampai peretelan yang sensitif. Sudah pasti Sinta jagonya, Lisa hanya mengimbangi kegokilan Sinta, yang saat ini ia masih bekerja menunggu masa cuti dan menyiapkan kelahiran.
"Besok ke mall, rencana gue mau bali baju bayi."
"Loh, bayi Hanum kan bukannya bakal ga kepake tuh baju bayi. Kenapa ga minta sih Lis?"
"Iy, bahkan Hanum udah sumbang, mama mertua gue juga udah beliin. Hanya saja gue pengen beli yang spesial, hasil rejeki mamanya buat dia kenang."
"Ih, sebel deh. Kok lo ngomongnya bikin takut sih. Udah jangan mikirin bapak sijabang bayi. Anggap saja dia terus tersesat, ga ada gunanya mikirin dia. Yang ada kurus kering badan lo Lisa!"
Lisa mengangguk, hingga dimana mereka sampai dimeja pesanan.
"Silahkan, pesanannya semua sudah. Ada lagi tambahan nona nona?" tanya pelayan.
"Thanks. Sudah semua mbak." balas Lisa.
Sinta mengaduk ngaduk jus sirsak yang tercampur lemon dan daun mint. Hal itu membuat ia menatap lirik berbeda.
"Udah ga usah marah dong, gue ga bisa klo lo sampe marah lama. Sorry ya!" pinta Lisa.
"Yaah. Meski gue larang, tetap aja nih. Lo lakuin kan Lis. Gue mo tanya, sebenarnya apa sih yang mau lo pertahanin dari Fawaz?"
Gue masih bisa nepatin janji kan. Bu Riris bakal sembuh, udah pasti dengan kita datang bersama. Kondisinya jauh lebih baik!
"Owh. Gue belum jenguk lagi, gue denger denger. Bu Riris udah mulai gerakin sebagian anggota tubuh ya? terus mama Felicia bawa dia ke luar kota, buat pengobatan lanjutan. Soalnya Fawaz hentiinkan?"
"Iy, mama Feli begitu syok. Gimanapun bu Riris bekas ibu asuh Fawaz. Tega banget mas Fawaz lo lakuin itu. Pake cabut pengobatan segala."
"Ya. Gue seneng banget Sin. Gue harap kondisi bu Riris dan mama Rita semakin baik, dan ga pernah denger kondisi gue sama mas Fawaz yang sebenarnya." tambah Lisa menjelaskan.
Sinta hanya bisa memahami saat ini, ia sulit mencecar dan memaki Lisa untuk saat ini. Karena pendirian Lisa jika A, dia tidak akan mudah menjadi B dalam waktu sekejap. Konflik rumah tangga banyak rintangan, membuat Sinta takut menjalin hubungan.
Setelah itu mereka makan bersama, hal yang membuat penasaran adalah. Raut wajah Lisa yang terdiam berbeda.
"Lisa. Lo yakin penjelasannya itu aja?"
"Heuum. Gimana .. maksud kamu Sint?" tanya balik Lisa.
Lisa hanya malu mengatakan. Ia sudah tau, tak akan bisa berbohong pada Sinta. Begitupun jika Sinta menyembunyikan sesuatu padanya. Lisa lebih tau akan sikap, sifat dan kebiasan mereka masing masing.
Lisa meminta Sinta mendengarkannya soal Ray, yang akan kerja sama iklan bareng setelah Lisa melahirkan.
"Sebenernya gue risih. Menurut gue, parfum Pak Ray. Parfumnya mirip sama .. "
"Yang jelas dong Lis. Lo kok ngomong kecil banget, pake lirik lirik. Kaya di intai aja?"
"Sssst .. lo inget tempo lalu malam kita ke club Anter berkas file ke pak Ver. Inget gak Sinta?"
"Heuuumph .. Owwh. Iya .. iya .. gue inget pas lo tabrakan pelukan itu kan?" suara Sinta mengecil saat di bekap tangan Lisa.
"Pyuuuih. Bau sambel Lis."
"Sory."
Lisa pun berbisik untuk Sinta mengecilkan suaranya. Hingga beberapa saat suasana tenang. Lisa kembali bicara menjelaskan pada Sinta.
"Di kantor sekarang, banyak dari mereka ga suka sama gue. Lo tau kan pernikahan gue sama mas Fawas. Udah surat hijau, hingga mereka bilang aku bakal jadi orang ketiga kalau benar benar suami yang gue cintai ninggalin. Dan saat itu, surat itu ilang. Ternyata pak Ray yang nemuin, dia ngira aku bakal jadi seorang wanita yang menghidupi dirinya sendiri. Gue ga suka dengan sebutan celoteh itu Sin. Apalagi kerjasama iklan sama pak Ray, bikin gue kagok. Banyak karyawan bilang, gue cerai karena selingkuh sama pak Ray. Isu udah banyak nyebar, bikin gue down." jelas Lisa.
"Cuup. sabar Ya Lisa. Gue ngerti klo ada di posisi lo sekarang. Dan gue ngerti kenapa si bos Ray minta pak Ver, ngirim kamu ngelatih ke kantornya jadi sekertaris meski belum fix sekarang. Jadi alibi buat muterin isu, supaya lo ga dicurigai ma karyawan lain."
"Tapi dengan kaya gitu, orang makin percaya karena gue ngehindar kan. Jadi gue harus gimana, apa gue resign cepet aja ya. Tapi biaya hidup gue nanti gimana sama anak gue."
Sinta prihatin, jujur Lisa itu dalam keadaan hamil. Ia bekerja untuk menabung, dan menghidupi dirinya dan anaknya kelak tanpa meminta bantuan keluarga. Apalagi setelah Lisa melahirkan, ia tidak akan mendapat gaji tapi pengeluaran akan terus berlanjut.
Sinta yang bicara tak sengaja melirik Lisa. Ia tersenyum melotot kala itu, hingga Lisa mendekatkan wajahnya.
"Apa ada rahasia yang gue gak tau Sint?" ketus Lisa.
"Aaakh. Heeehee soal itu, gue juga baru denger. Klo ga salah, doi itu lagi cari pasangan. Gue harap lo hati hati ya! kebaikan pak Ray, udah tau kan. Dia selalu ada hati sama loe Lisa, mungkin dia bilang sahabat sebatas bantuan sesama lintingan Vloger. Cuma alibi aja." jelas Sinta, membuat Lisa yang bingung untuk mencari nafkah.
'Andai mas Fawaz ga selingkuh, mungkin aku tidak serumit ini puntang panting, mencari uang untuk aku dan anakku kelak.' batin Lisa.
Tbc.