BAD WIFE

BAD WIFE
MENYALAHKAN



Alfa yang melihat Hanum, ia segera meraih tangan Hanum dan membawanya ke sisi ruangan sepi, jauh dari Jhoni Jhonson. Saat Hanum ingin mendekat, Alfa segera membawanya sebelum sampai menanyakan pada papa mertuanya itu.


"Semua ini pasti karna kamu kan?"


"Apa. Alfa, aku di sini karna ada .., Kenapa kamu nyalahin aku. Aku khawatir dan bertanya kenapa mama?"


"Ga usah belaga bego, kamu kan yang bilang semua pernikahan kita telah kacau?"


"Aku enggak tahu kamu serendah ini menganggap harga diri perempuan, dan selalu aja menyalahkan?" timpal Hanum berani.


"Harga diri perempuan mana dulu nih? Emang kamu punya harga diri?"


Hanum mencengkram ponselnya dengan sangat erat. Sialan sekali suaminya ini.


"Sebutkan saja berapa nominal kerugian kamu, jangan sok meninggi begitu! Tapi setelah kamu bicara semua pada mamaku. Aku akan menyeret kamu sebagai pembunuh Hanum."


"Memangnya kamu sanggup membayarku? kamu yakin aku orangnya. Orang yang membuat mamamu anfal?"


"Kalau worth it ya okay-okay aja. Kalau enggak, masih banyak perempuan cantik di luaran sana yang bisa jadi nyonya Alfa. Jika bukan karna mamaku."


Hanum menggeleng kepala, ia tak bisa berkata lagi. Hanum ga ngerti maksud Alfa, sehingga Alfa mendorong tak sengaja karna emosinya, dan membuat tubuh Hanum jatuh hampir terpental.


Ssrrrt!! Aaaaaach!


"Hanum, kamu gak apa apa?" sontag Fawaz yang tiba saja lewat. Awalnya ia tak menyadari pasangan itu adalah Alfa dan Hanum. Sehingga berkas putih pasein Alfa lempar demi meraih tubuh Hanum, dan berhasil menyangganya.


"Fawaz. Aku lagi lagi berhutang budi sama kamu. Makasih." dingin Hanum, karna ia pikir benar akan jatuh dan!


Fawaz segera memerintahkan suster, membantunya merapihkan berkas. Namun berbeda kala ia telah menyelamatkan Hanum tak tergelincir saat tubuhnya hampir jatuh.


"Kau bisa tidak sekasar ini pada perempuan, Hah?!"


"Kau disini hanya dokter. Tugasmu merawat pasein, bukan menceramahi orang dan ikut campur pada pernikahan orang!" ketus Alfa mengeras.


"Kau tau, jika Hanum sedang..."


"Cukup, Fawaz! Aku yang salah soal ini. Alfa aku minta maaf, sepertinya kamu sedang tidak baik. Amarahmu juga sedang meledak, aku akan kembali nanti." berusaha menahan air mata tidak jatuh.


Huuush! dengan begitu wanita seperti apa yang dipilih mamaku. Dia harus tau, ketika nanti beliau siuman. Gerutu Alfa membalikan badan, dengan bertolak pinggang.


Sementara Hanum hanya menghela nafas, tak bisa lagi berkata kata. Karna pada dasarnya Alfa selalu egois.


Fawaz yang tak ingin memancing keributan lagi. Ia meminta Hanum untuk ke ruang pribadinya untuk pengecekan ulang pada dokter kandungan. Mengingat Fawaz takut Hanum terkena syok dan mengalami kram perut, setelah apa yang dialami. Meski Fawaz bukan ahli kandungan, tapi ia sedikit memahami dari rekan sesama dokter saat sedang berkumpul.


Beberapa saat Hanum masih duduk di pinggir ranjang rumah sakit, mengais ngais harga diri dengan bola mata berkaca saat Fawaz mengangsurkan sebuah kartu. Perempuan beriris coklat gelap itu, mendongak dengan bibir tebalnya ditipiskan skeptis.


"Apa ini Fawaz?"


"Kartu."


"Aku tahu itu kartu kredit, dan ini kartu pelayanan vip maksudku, apa maksud kamu ngasih aku itu Fawaz?"


"Kamu memerlukan ini, jadi ambilah!"


Fawaz meminta Hanum untuk mengecek kandungannya pada dokter Felicia. Dengan kartu tanda istimewa, jam pertemuan kapan saja. Itu akan cukup membantu Hanum, saat Fawaz tak bisa berada di sisinya.


"Kartu pengecekan vip sih boleh. Tapi kartumu ga boleh Fawaz. Apa kata orang nanti?"


"Jadi kamu ..?"


"Paman Jhoni turut andil, karna beliau adik dari papaku yang membesarkan perusahaan milik orangtuaku. Tapi syaratku adalah aku tak ingin menjadi pengusaha. Aku mempunyai cafe dengan orang kepercayaanku. Juga menjadi dokter saat ini. Dan aku tau, Alfa pasti tidak memberikan kartu blacknya kan?"


"Kartu nafkah, dia. Dia hanya lupa, aku tau Alfa pasti seperti itu."


"Ayolah Hanum, jangan tutup mata. Kartu yang harusnya diberikan papa Jhoni untukmu diberikan Irene karna Alfa kan. Lagi pula itu anggap saja nafkah dari Alfa juga. Terimalah! gajiku sudah besar menjadi dokter. Belum lagi cafe ku?"


"Kamu mulai deh sombong." kekeuh Hanum.


Hanum tersenyum, begitulah cerita yang sebenarnya. Pantas saja Hanum ingin tau tapi sungkan untuk bertanya pada Fawaz. Karna Hanum tau rasanya membuka luka kecil yang ia sembunyikan seperti apa, yakni kehilangan orang tersayang memang menyakitkan.


"Fawaz. Aku minta maaf soal Gathring Dance."


"Tidak perlu minta maaf, acara seperti itu seperti acara wedding. Sudah ada dari jaman papaku. Aku tidak menyukai lingkungan seperti itu, menyombongkan diri siapa paling terkaya. Dan siapa wanita untuk berganti dengan mudah. Aku lebih suka seperti ini Han."


"Aku cukup terharu, kamu hebat Fawaz." senyum Hanum, yang mengepalkan vitamin dari Fawaz, mereka saling berhadapan.


Bruughh!! pintu terbuka paksa.


"Fawaz, jangan dekati istri gue!" menarik dan mendorong Fawaz ke sisi.


"Istri, ya. Gue tau. Tapi ga perlu semarah ini. Ingat ini rumah sakit dan ini ruangan siapa? Keributan bisa kena pasal."


"Dan Hanum, lo ngomong apa sama Bokap gue waktu pamitan mau ke kamar saat kartu akses keluar dari rumah. Juga kenapa kalian pelukan seperti ini? Lo sadar enggak sih disini sebagai istri siapa? Lo masih jadi istri gue juga? Double, lo, hah? Lo mau Poliandri.


"Pelukan, aku ga pelukan. Fawaz tadi hanya kasih aku .."


"Bohong! ayo ikut gue."


"Jangan kasar Alfa!" Fawaz serba salah, karna saat ini ia tengah bekerja.


Andai saat ini diluar jam rumah sakit. Mungkin ia sudah menghajar Alfa dan memberi perhitungan. Bahkan bicara dengan Hanum saja sudah tak manusiawi dengan gaya seperti mengintrogasi pencuri.


"Soal kartu akses, aku diberikan mama kamu saat aku bilang mau kerumah sakit. Aku ga ketemu papa Jhoni. Serius Alfa." jelas Hanum.


"Trus, kenapa mamaku bisa tau semuanya? Masih mau mengelak?"


Hanum terdiam, ia benar benar tak habis pikir lagi. Sementara Fawaz sadar dengan posisinya, ia menunduk pamit lebih dulu ke ruangan pasein lain.


"Kalian bicaralah baik baik! ingat ini rumah sakit!" ancam Fawaz.


Hanum dan Alfa keluar dan pergi ke ruangan mama mertuanya. Fawaz hanya menggeleng kepala, berusaha mengerti posisi Hanum saat ini.


Setibanya diruangan icu, Hanum tersentag kaget melihat mama mertuanya koma kembali.


'Apa aku harus bertahan lagi, bahkan aku tidak bicara apapun pada mama mertuaku, kenapa mamaku bisa anfal lagi. Belum lagi tuduhan Alfa tadi?' batin Hanum.


"Hanum pergilah! pulanglah beristirahat, kamu pasti lelah. Ajak Alfa, biarkan papa disini menunggu!" titah Jhoni.


"Tapi pah, ..?"


"Jelaskan, papa bilang apa? Semua salah lo! gue bakal beri perhitungan pasti buat lo nanti Hanum!" bisik kecam Alfa yang menyalahkan semuanya di depan Jhoni.


To Be Continue!!