BAD WIFE

BAD WIFE
MERENCANAKAN MATANG



Lisa pergi dengan wajah sembab. Hal seperti ini telah berulang kali membuat dirinya lelah dan pusing akan perkataan Fawaz. Bisa bisanya ia tidak ingat pernikahan yang sudah terjalin selama dua tahun.


Lisa melaju dengan taksi menuju tempat yang ia rasa cukup untuk tenang. Hingga menepi di rumah sakit, Lisa berjalan menuju kamar tujuh kosong tujuh vvip. Ruang louis mawar putih. Sebutan dari sebuah rumah sakit untuk keluarga berkelas. Untuk dirinya, sudah pasti tidak akan mampu. Tapi kondisi bu Riris, ibu asuh Fawaz sakit karena kecelakaan bersama sang suami, bagus saja mama Felicia bisa mengcover biayanya.


Hanya saja keluarga Fawaz mendapat segala fasilitas meskipun berlebihan. Sudah genap lima bulan ibu mertua asuh koma. Hal itu membuat Lisa yakin, jika Ibu mertuanya masih di beri kesempatan, mungkin dibalik semua ini. Ibu Riris tau apa yang terjadi, satu hari setelah malam pernikahan, mas Fawaz mulai berubah padanya.


Lisa duduk menatap kaca ruangan pasien. Dengan balutan seragam biru dan penutup kepala serta masker saat menjenguk. Lisa duduk tepat di samping kanan dan mencium tangan bu Riris.


"Ibu Riris. Apa kabar? Lisa datang lagi. Apa ibu tidak terganggu. Maafkan Lisa yang menjenguk di jam malam. Ingin sekali Lisa menginap, tapi Lisa hanya di beri waktu tiga puluh menit." kecup Lisa pada tangan ibu Riris.


Lisa sadar menatap dirinya saat merelung. Ia bersendu memeluk dan menunduk di samping tangan mama mertuanya. Rasa sedih itu membuat ia rapuh, jika saja ibu mertuanya tak kembali membuka mata. Maka sosok panutan orangtua benar benar mati tak ia dapatkan, bahkan ia tidak akan pernah tau apa yang terjadi dengan Fawaz.


Lisa tak merasakan kasih sayang dari orangtua sedari belia, ia baru mengetahui dirinya dan saudara lainnya yang sama. Hal itu membuat Lisa tersambar petir ketika ia disorak, ibu hamil tanpa suami.


"Bu Riris tau ga, apa Fawaz sekeras kepala sekali. Ia sangat tak memperdulikan cinta. Apa dia hanya selalu kerja dan bekerja di pikirannya. Apa Lisa tak cukup pantas dan seimbang untuk jadi istri Fawaz?" senyum Lisa menatap wajah ibu mertua.


Tak sadar Lisa yang menangis tersedu hampir saja tertidur. Jika saja suster tak datang mungkin ia akan menginap malam itu juga.


"Mohon maaf. Nona, jam besuk telah habis."


"Terimakasih Sus. Saya juga akan segera pergi." Lisa menyapu pipinya yang basah.


"Bu Riris. Lisa pamit dulu, besok sampai Lusa. Lisa tidak bisa jenguk mama. Tapi Lisa sudah memastikan bu Riris akan baik baik saja. Suster Lani akan membantu dan menjaga Ibu. Lisa sayang." kecup Lisa pada kening ibu mertuanya juga.


Hingga berat langkah Lisa yang ingin pergi. Ia harus keluar dan berakhir cepat untuk ke suatu tempat. Tanpa sadar, sebuah air mata begitu saja turun diwajah Lisa, tanpa suster tau.


Mama Felicia tau ga ya,? apa Fawaz sekeras kepala sekali. Ia sangat tak memperdulikan cinta. Apa dia hanya selalu kerja dan bekerja di pikirannya. Apa Lisa tak cukup pantas dan seimbang untuk jadi istri? senyum Lisa menatap wajah ibu mertua.


Lisa ingin sekali pergi untuk menenangkan diri beberapa jam. Karena esok ia sudah pasti telah akan pergi Tour yang harus ia selesaikan bersama Sinta dan dua kelompok rekan kerja lainnya.


Lisa berhenti di satu tempat paviliun sederhana tak jauh dari kantor. Ia menghubungi bi inah untuk mengirim paket koper yang berada di kamar tamu. Saat itu Lisa telah mempersiapkan dan menaruhnya di kamar tamu untuk bersiap dan berjaga jaga.


Meski prepare yang tak masuk di akal. Ia selalu waspada dan benar saja waktu benar mendukungnya. Pasalnya bi inah bicara jika kamar utama di kunci oleh den Fawaz dan tak meninggalkan kunci cadangan.


Lisa memicingkan senyuman. Menatap langit dan meminum Coctail dingin dan roti bakar, yang memandang langsung ke arah langit perkotaan yang penuh kerlap kerlip. Masih dalam mode menerima kenyataan dirinya akan menjadi ibu tunggal bagi anaknya kelak.


Kamu begitu tega Mas. Setelah mengatakan masih mempertahankan aku di rumah. Karena masih membutuhkan seseorang untuk merawat sang ibu. Apa kamu membutuhkan suster atau istri, atau memang dasarnya kamu mendekatiku karena tak ada celah lain untuk melawan. Kamu jahat menalak aku demi wanita lain, di saat aku membutuhkan kasih sayang dengan anak ini, aku harus kuat bertahan. Jujur hatiku rapuh, aku tak bisa berpegang pada diriku. Terkadang aku ingin berada di atas tangga menatap lautan dan terjun.


Lisa berkali kali, mengusap perutnya dan melantunkan asma Tuhan.


***


BERBEDA DENGAN HANUM.


"Mas, ga mungkin deh kalau Fawaz selingkuh."


"Han, soal ini nanti mas Rico yang selesaikan. Mama kamu butuh ketenangan, Erwin bilang ia sampai dikediaman Lisa, tapi ia melihat Fawaz membawa koper, manalak Lisa dan pergi. Mama Rita melihat Fawaz bersama wanita lain di dalam mobilnya."


"Hah, ya ampun. Ini memang bukan masalah kita mas, tapi kenapa mama yang jauh jauh ingin mengunjungi kak Lisa. Harus berakhir mama di rawat, Hanum ingin ikut mas!" rengeknya.


"Sayang, pemulihan kamu masih butuh beberapa minggu, sabar ya! biar mas Rico yang temani mama kamu di rumah sakit. Mas akan hajar Fawaz jika dia benar benar terbukti menyakiti Lisa. Bagaimanapun, Fawaz masih satu keluarga dekat mas. Jika itu terjadi, papa Mark, Tante Felicia sebagai ibu kandung dan paman dekatnya pasti ga akan diam."


Hanum yang saat itu menimang Ghina bayi perempuannya, ia menatap tajam pada suaminya.


"Mas, kamu tidak sekongkol sama Fawaz kan? atau kamu juga sama punya selingkuhan?"


"Loh, sayang. Mana mungkin, mas tau batas. Untuk apa, mas itu sudah bersyukur dan memiliki istri terbaik hatinya dan segala hal seperti kamu, Mas beruntung Hanum. Mas akan selalu menjaga batas pada wanita, apalagi klien wanita. Jadi jangan berfikir bukan bukan ya! mas akan selalu menjaga kesetiaan bahtera rumah tangga kita tanpa melukai."


Rico memeluk Hanum, ia menenangkan agar istrinya tidak berfikir macam macam. Tidak ingin kesehatan pemulihan Hanum terjadi sesuatu, konon banyak pikiran bisa mengakibatkan baby blues, asi macet dan segala lainnya. Maka dari itu Rico selalu siaga dan selalu berharap siaga di samping Hanum dan mertuanya itu yang perlu ia perhatikan.


"Mas janji ya! bantu Hanum, selidiki Fawaz. Aku minta maaf, bahkan kenal Fawaz kok bisa, kak Lisa itu cantik dan sempurna. Apalagi kak Lisa sedang hamil, tega teganya ia menalak kak Lisa. Rasanya ini sakit mas, kenapa kak Lisa merasakan hal pahit seperti ini." mode peluk.


"Iy sayang, kamu tenang aja ya. Mas sudah suruh Erwin menjaga mama di rumah sakit, mas sudah hubungi tante Felicia di Swedia. Jadi kita akan tunggu kabar baiknya."


Tbc.