
Hanum lagi lagi menatap pesan, Alfa sudah menunggunya di tempat tak jauh dari indomarco. Hanum yang bersiap siap, ia segera memesan ojek online. Sementara setelah sampai diruangan bawah, terlihat mama dan Lisa menyambut senyum.
"Hai, anak mama udah bangun. Gimana kamu nanti jadi nyusul kan?"
"Ya mah, Hanum pasti bakal cepat menyusul ke acara Lisa dan Fawaz. Hanum pasti akan datang, karena kerjaan Hanum hari ini benar benar harus selesai hari ini juga."
"Sesibuk apa sih Han, kamu mintalah sama Rico kerjaan kamu jangan banyak." cetus Lisa.
"Ga bisa gitu dong kak, Hanum kan kerja, masa nawar." jelas Hanum, dan satu tangan lagi yang mengambil sepotong roti.
"Tapi, kamu itu kan wanita spesialnya. Masa ia dibiarin kerja capek banget." protes Lisa.
"Ya udah! hati hati Han. Terus kamu nanti nyusul acara nanti malam sama Rico kan?" tanya mama.
Hanum senyum, lalu mengecup pipi kanan dan kiri sang mama dengan pamit. Hanum berusaha mengalihkan untuk tidak menjawab.
"Han, mama tanya belum kamu jawab?" teriak Lisa.
"Semoga mah. Bye mama .. Bye kakak."
Lisa hanya mengoceh sebal, bukan lagi kesal delapan puluh derajat. Tapi memang sikap Hanum sudah seperti itu dari pabriknya. Sosok Hanum mirip dengan sang papa, bahkan wajahnya saja sangat mirip, dibanding Lisa yang dominan mirip sang mama.
Hanum sudah sampai di tempat kerja, seperti biasa ia menaruh barang diloker. Tak lupa membawa dua benda yang ia siapkan sewaktu waktu Alfa memberikan kode perintah.
Hingga dimana Hanum mengirim pesan pada Alfa. Setelah selesai ia menukar flashdisk. Hanum meminta Alfa bertemu dengannya di rooftop cafe star. Alfa yang sedikit bingung, ia tertawa renyah dan mengiyakan lewat pesan suara.
Hanum kembali bekerja seperti biasanya, dan satu hal yang membuat Dewi menghampiri Hanum saat itu.
"Hanum, ini data dari bu Adelia. Kamu disuruh ke ruangannya!" ucap Dewi.
Hanum mengambil satu berkas, dan satu dus kecil dari tangan Dewi. "Thanks Dewi, kebetulan sekali aku juga mau report bahan kosong. Kebetulan komputer oleng, jadi pak Rico minta aku kirim secara manual." jelas Hanum sebagai alibi.
"Wah panjang umur dong, ya udah aku balik lagi kerja ya Han. Kamu hati hati, awas dilirik pak Erwin." goda Dewi pada Hanum saat itu.
Hanum hanya tertawa, mungkin karna belum banyak yang tau kedekatan ia dengan bos muda dan kaki tangannya. Tapi Hanum segera berjalan tepat ke lantai tujuh gedung sebelah.
Took! Took.
"Permisi bu, bu Adelia ini berkas dan barang yang diminta." ucap Hanum.
"Kamu, taro aja di meja ujung. Kalau sudah boleh keluar." ketus.
Hanum segera menaruh, lalu kembali pamit. Dan dengan tatapan tak biasa, ia menatap ruangan yang terlihat sepi. Hanum lihat jam dinding. Meeting masih membutuhkan dua jam lagi. Hanum segera diam diam masuk ke ruang rapat penting. Ia mencari laptop yang Rico biasa gunakan.
Dalam meja oval terdapat delapan laptop. Bahkan didepan ruangan. Yang mungkin para bos duduk berada di tengah tengah, Hanum segera menyalakan dan mengecek laptop mana yang akan Rico pakai rapat hari ini.
Tanpa ragu, ia segera menyalin data dan menukar flashdisk dalam waktu yang tersendat cukup lama.
"Astaga, tiga puluh menit. Keburu datang gak ya?" gugup Hanum.
Dalam waktu menunggu lama, dengan waktu tiga puluh detik lagi. Benar saja beberapa orang sudah akan masuk kedalam ruangan meeting. Hanum segera mengumpat dibawah meja bangku yang Rico biasa gunakan. Mungkin jika dalam ruang rapat, ia tidak akan terlihat karna posisinya paling depan.
"Ya ampun, gara gara Alfa aku terjebak dibawah meja Rico. Alfa sialan, semoga yang rapat benar benar Rico. Jika pak Mark atau Erwin yang gantikan, aku benar benar mati, bingung menjelaskannya." gerutu Hanum.
Hanum berhasil mencabut flashdisk, dan benar saja semua telah berkumpul. Dan Hanum terjebak dikolong meja. Suara serak basah terdengar jelas kala Rico menyambut semua yang hadir.
Baiklah semuanya. Selamat siang para rekan klien vvip yang terhormat. Juga tak lupa pada Tuhan yang telah memberikan nikmat dan juga kesehatan sehingga kita dapat berkumpul bersama, pada kesempatan meeting kali ini mari kita mulai dengan berdoa menurut kepercayaan masing masing.
Rico duduk, ia kembali hening kala benar serius berdoa. Namun langkah kakinya terasa janggal ketika ia mendorong kedepan kolong. Rico yang sedikit menunjukan wajahnya ke kolong, ia jelas melihat wajah Hanum yang ditutupi satu jengkal tangan dan diapit kedua kaki menekuk sejajar dengan wajah.
Kala posisi Hanum duduk melipat kedua kakinya dengan lutut, dan menutupi wajahnya. Rico segera merekat dan dengkul dirinya bersentuhan dengan kaki Hanum, tapi wajah Hanum seolah sulit bernafas karna bagian inti Rico tercetak jelas di depan wajahnya.
"Dasar Rico, sudah tau dan melihatku malah merapatkan. Dia pikir aku apa, dasar Rico jelek, aku akan buat kamu minta maaf. Bukannya melonggar agar aku bisa bernafas malah merapatkannya?" gerutu Hanum yang masih menatap bagian tengah celana Rico.
Rico yang terlihat gersang, ia menatap wajahnya ke arah Erwin. Memiringkan dasinya dan meminta Erwin untuk melakukan sesuatu.
~ **Bersambung** ~