
"Hanum, kamu bisa datang kesini juga?" senyum Lisa.
"Heuuumph." memajukan bibirnya, kala Rico datang setelah Hanum. Ia senyum ke arah Ray yang menyambutnya juga.
"Kok bisa Hanum. Kok bisa sih, Rico kenal Ray?"
"Heuuumph?"
"Maksud kakak, bos kakak. Pak Ray."
"Oh, nanti juga kakak tau." bisik Hanum, ia mengajak Lisa sedikit menjauh.
Kalian berdua bisa tunggu diluar!! ucap Ray.
Tatapan Rico senyum, ia menatap lembut pada istrinya. Lalu Hanum pun mengangguk keluar, mungkin ada hal yang penting. Sehingga dua wanita tak boleh dengar.
'Dasar Ray! tadi dia nyuruh gue nunggu lama sekarang malah ngusir tapi nahan Rico. Otomatis sama aja, lama juga pulang.' batin Lisa menatap jam di tangannya.
Hanum menutup pintu dan Lisa menatap aksi Ray yang sopan, dan mempersilahkan Rico duduk. Sehingga percakapan dua pria di dalam sangatlah tidak bisa di dengar.
"Kak, sebenarnya Hanum tadi abis cek jaitan lahiran, terus mas Rico minta ke kantor kakak. Sebentar lagikan kakak mau resign, jadi mas Rico ambil ahli hak paten pt hak cipta, jadi milik mas Rico. Dan maaf, Fawaz udah nyerahin semua kepemilikannya sama mas Rico. Maaf ya kak."
"Oh, untuk apa minta maaf. Kan memang mas Fawaz yang salah, kamu ga perlu minta maaf Han. Kakak ga apa apa kok."
"Kak, denger dulu penjelasan Hanum. Mas Rico kerjasama bareng, biar kakak nerima iklan yang bekerjasama dengan bos kakak ini, yang di dalam itu, siapa tadi. Pak Rey itu kan. Supaya kakak lebih mudah ga terikat waktu, kaya sekarang ini nih. Pagi sampe malem kerja, lagi hamil lagi."
"Heeh! Ray, bukan Rey. Kakak jadi seneng deh dengernya. Suami kamu udah makin sukses. Kamu bahagia terus ya Han! kalau terjadi sama kakak nanti, kakak nitip mama dan anak kakak, tolong jadiin dia anak kamu."
"Kak, ih apaan sih. Gajelas deh, ngaur terus. Hanum ga suka deh, kakak selalu aja ngomong hal hal menakutkan." sebal Hanum.
"Ya kan, kakak cuma mikirin Han, hidup itu ga ada yang tahu. Bisa bahagia, bisa juga sebaliknya. Kakak hanya takut, menjadi ibu tunggal yang selalu repotin banyak belah pihak. Termasuk rumah tangga kamu ini, kakak malu kalau libatin kamu dan suami kamu. Apa kata orang? kakak sering di antar jemput sama suami kamu juga. Bikin risih."
"Kak, kan ada Hanum. Lagian aku tahu tipekal mas Rico, dan aku tahu kakak kaya gimana. Udah deh! jangan mikirin tanggapan oranglain. Kakak pasti bahagia, Hanum dan mama ga akan jauh jauh lagi dari kakak."
Lisa dan Hanum berjalan pelan, ia menuju loby parkir. Meski begitu, ia tetap menunggu Rico yang masih saja berbicara panjang dengan Ray. Lisa juga memberitahu lokasi ruangannya bekerja. Hanum melihat lihat kantor yang saat ini kakaknya bekerja. Hingga kilat menatap jendela. Hanum merasa ada seseorang yang memperhatikannya.
'Kok itu mirip Fawaz ya? tapi kalau iy, kenapa cuma lihat di ujung aja.' batin Hanum.
"Han, liat apa? Sini! lihat deh, kakak kemarin pas ga ada kerjaan, jam makan siang kakak buat ini."
"Hah, cantik banget. Mantel rajutan kakak itu bagus loh kak. Kenapa ga bikin usaha aja, kakak rekrut karyawan dan buat jualan online. Pasti rame."
"Enggak, kakak udah ngumpulin lima baju dari kain wol. Celana pendek, mantel dan kaos kaki. Ini adalah topi, buat bayi kakak nanti. Kakak titip ini ya sama kamu Han! kakak takut lupaan!"
"Iy kak." senyum Hanum, mereka kembali menuju loby parkiran.
Tidak lama, Rico datang. Ia berjabat tangan dengan Ray! hal itu Lisa dan Hanum perhatikan kala di depan pintu mobilnya. Ray terlihat biasa saja, sedikit profesional. Tapi Lisa tenang, dan mengharapkan Ray, tidak lagi mengejar dan menanyakannya. Jika hubungannya dan dirinya adalah hal yang sama. Yakni, rekan kerja, teman satu lintingan dan sahabat baik yang saat ini menjaga jarak karena status Lisa.
Kali ini Hanum duduk paling depan, di samping Rico. Sementara Lisa dibelakang duduk ditengah tengah, ia akhirnya memojok menatap arah jalan. Ketika Rico telah menjalankan pedal rem, mobilnya.
"Kak, maaf ya! ga apakan kalau Hanum di depan? atau mas, aku pindah ke belakang aja sama Lisa?"
"Boleh sayang. Apapun itu." senyum Rico.
"Ga usah Han! kalian lanjut aja, kakak juga mengantuk. Mau tidur, mangkannya ini menyandar di pojokan. Hehehe." alibi Lisa, yang canggung saat ini.
"Ok, baiklah. Kakak pasti capek itu, mas kak Lisa harus cepat cepat istirahat di rumah. Hanum kasian sama kak Lisa. Pagi sampai malem, mana kerjaannya numpuk lagi." gerutu Hanum, yang masih melirik Lisa, sudah mendengkur.
"Iy sayang. Sabar ya!"
Lisa sedikit membuka mata, kala Hanum dan Rico serius. Tak terasa air matanya menetes, ia sangat iri kala melihat suami Rico yang sangat perhatian. Andai Lisa merasakan itu dari Fawaz. Melihat rumah tangga adiknya sangat intim, membuat Lisa berharap kesedihannya segera berlalu.
'Nak, kelak kamu pasti akan selalu bahagia. Meski bunda nanti tidak tahu, apakah bunda bisa melihatmu tumbuh besar nanti. Percayalah nak! bunda selalu ada dihatimu dan disetiap langkah doa menyertaimu!' batin Lisa, yang mengelus perutnya.
***
Sesampainya Lisa dikamar, ia meraih satu box yang tersimpan. Ingin sekali ia membuang foto pernikahannya dengan Fawaz. Tapi ia masih meraba segala hal pernikahannya dulu, dan masih sangat terasa pernikahannya baru kemarin. Lisa mengingat pernikahannya dengan Fawaz.
Lisa di balik celah jendela menatap dengan memegang sebuah foto pernikahannya. Ada hal yang harus ia kenang tapi bukan sebuah perjalanan cinta mereka. Melainkan sepenggal kisah wanita yang jatuh cinta ternodai.
Lisa bersimpuh dalam waktu, jam yang berputar dalam lingkaran. Membuat dirinya harus menekuni kegiatan agar semakin sibuk.
Tidak ada lagi kata Mas. Tidak ada lagi kata satu patah ucapan, pulanglah! ataupun baik baik saja! jaga dirimu dan hati hatilah Yank!
Lisa masih menangis dalam tatapan kosong. Menatap foto pernikahannya yang semakin tidak berguna. Ia harus mencoba melupakan dan mencoba membuang perasaan itu jauh sejauh mungkin. Agar tidak ada lagi hati yang semakin sesak dan sakit saat bertemu.
"Mas. Ucapan janjimu, ternyata hanya belaka. Mengapa siasat yang kamu berikan padaku sekejam ini?"
Lisa masih mengingat dirinya di perlakukan manis oleh Fawaz. Lisa di peluk dan di bisikan kata romantis dan membuat hidupnya paling bahagia, ia tersenyum dan menyetujui hubungan mereka menjadi lebih dari teman.
Lisa tau keseharian Fawaz yang sibuk sebagai dokter, dan mempunyai beberapa usaha lain. Namun saat menatapnya tak sibuk. Ia menghampiri dengan senyuman dan memegang tangannya untuk melihat dunia.
"Kemarilah Lisa. Taukah kamu, jika aku sering duduk atau berdiri di ruangan atap?"
Lisa menggeleng kepala. Ia mengekor saat Fawaz menggenggamnya. Lalu menepi di bangunan mansion paling atas. Atap tak berpenghuni, hanya sebuah teras memanjang dan Luas. Lalu bisa melihat ke bawah dan sekitarnya.
Saat ini Lisa masih saja, mengingat hal hal manis kebersamaannya dengan Fawaz. Hingga ia menatap seseorang di gerbang yang berdiri ke arah kamarnya. Tepat saat Lisa menatapnya juga dalam jarak lima kilo.
'Mas Fawaz, kamu masih saja menatapku dari jauh.' batin Lisa, ia segera menutup jendela kamarnya dan meletakkan foto pernikahannya ke sembarang.
Tbc.