
Beberapa Minggu Kemudian.
Sementara itu, di sisi lain. Hanum pulang, ia berusaha menutupi kesedihannya. Meski Jhoni menahan, agar Hanum tetap tidak berpisah pada putranya. Tapi Hanum merasa tidak masuk akal, jika ia harus bertahan dengan pria yang sulit Hanum mengerti.
"Pah! Hanum sudah jelas katakan. Jika Alfa dan Hanum menikah karna satu alasan. Dan soal black card. Hanum yakin papa sudah tau, siapa wanitanya yang diberikan akses oleh Alfa." jelasnya.
Hanum tiba di kediaman Nazim yang kosong, saat ini ia tempati sementara waktu, ia berdiri di depan pintu sembari menatap ke arah halaman rumah yang cukup bagus untuk di pandang.
Halaman rumahnya penuh dengan bunga bunga yang cantik serta harum. Tak hanya itu, suasana rumahnya pun menjadi sangat sejuk, seperti rumah rumah mewah milik teman temannya.
“Terima kasih, Tuhan ... engkau telah mengabulkan doa ku.” Hanum bersyukur atas rezeki dan kebenaran hatinya untuk mantap membuka semua prilaku Alfa.
Di saat kesulitan seperti ini Hanum mengingat, masih terdiam dibalik jendela kamar. Tepatnya Balkon, Hanum memikirkan untuk tenang kala Alfa akan tiba menemuinya kapan saja, datang dan mengumumkan mereka untuk berpisah. Menjelaskan pada Jhoni perpisahan ini bukan idenya saja.
Belum lagi keterpurukan ekonomi itu berdampak kepada karier Lisa, Hanum juga sudah memohon agar Jhoni tidak melibatkan kakaknya dan mamanya yang ikut bernasib sulit.
Jangankan untuk biaya berobat, untuk makan sehari hari mereka saja, mamanya sampai mengutang sana sini dan menjual beberapa barang barang yang jarang mereka gunakan, seperti laptop serta ponsel miliknya.
Laptop itu adalah pemberian dari mendiang sang papa kepada Hanum. Dan Hanum sering menggunakannya untuk menulis blog. Namun, laptopnya hanya tinggal kenangan karena laptopnya sudah berada di tangan orang lain. Ia lakukan agar Lisa tak menjual laptop miliknya.
“Semoga keterpurukan yang aku alami, tidak terjadi kembali dan semoga keluargaku tidak mengalaminya ....” gumam Hanum, ia sudah kesulitan karna Jhoni Jhonson membuatnya benar benar kembali ke pasir putih. Pantas saja mendiang sang papa berisyarat kehidupan mewahnya berkat keluarga Jhonson.
“Assalamualaikum, Ma ....” Hanum mengetuk pintu sembari memanggil mamanya, tetapi tidak ada satupun jawaban dari dalam.
“Kenapa sunyi sekali?” tanya Hanum
“Apa mereka sedang pergi?”
Hanum menggeser posisi tubuhnya dan berdiri di depan jendela, kemudian ia mengintip keadaan di dalam.
“Sepertinya mereka sedang pergi, lebih baik aku tunggu saja ....”
Hanum duduk di kursi yang berada tidak jauh dari jendela, lalu Hanum merogoh kantongnya dan mengambil ponsel miliknya untuk menghilangkan rasa bosan. Sejujurnya ia berada di kediaman orangtuanya, hal itu karna Hanum ingin membicarakan perihal ia yang ingin berpisah, sebelum mama Rita mendengar dari Jhoni.
“Kenapa aku diam saja, mending aku menulis.” Hanum menggeser layar ponselnya dan mulai menulis.
Hanum fokus dengan menulis blog dari ponselnya yang ia bangun sedemikian rupa, supaya situsnya lebih menarik untuk di baca.
Menulis tidak hanya membutuhkan banyak waktu, tetapi menulis juga membutuhkan kesabaran. Kesabaran dalam merangkai kata, memikirkan isi cerita kisahnya.
Beberapa menit kemudian.
Hanum masih berada di depan rumah karena pintu rumah itu terkunci dan, sepertinya keluarga Hanum sedang pergi. Bahkan Lisa sulit di hubungi, Hanum tidak yakin jika sang mama pergi sendirian.
“Kenapa lama sekali?” tanya Hanum.
“Memangnya mereka pergi ke mana?”
Hanum ingin menghubungi mamanya, tetapi tidak bisa karena ponsel milik mamanya sudah dijual beberapa minggu yang lalu dan Hanum tidak mengetahui kabar selanjutnya karena Hanum memutuskan untuk tinggal di kediaman sahabatnya Nazim.
“Sudah 15 menit aku menunggu, tetapi mereka tidak kunjung kembali. Apa mereka sudah pindah rumah?” tanya Hanum.
Hanum mencemaskan keluarganya, ia takut jika dirinya tidak akan bisa bertemu kembali dengan keluarganya.
“Semoga aku masih diberikan kesempatan untuk bertemu dengan keluarga aku,” doa Hanum.
Hanum termenung sejenak, ia teringat dengan kenangan kenangan indah yang terjadi beberapa tahun silam.
“Aku merindukan masa masa indah yang kini sudah menjadi, kenangan.”
Hanum tidak ingin menyianyiakan waktu karena waktu berjalan begitu cepat dan waktu yang telah berlalu, tidak dapat diputar kembali.
“Hanum ...” panggil seseorang, membuat Hanum menoleh.
“Hanum?” Lisa terkejut saat melihat adiknya, ia meletakkan ponselnya dan berlari menuju Hanum.
Ketika berada di depan adiknya, Lisa langsung memeluk. Lisa sangat rindu dengan keluarganya, sudah beberapa waktu lebih mereka tidak berjumpa, terlebih saat Hanum menggugat Alfa, bahkan Lisa dan mama Rita sulit bertemu. Di depan gerbang kediaman Jhonson menunggu lama, mereka tak di ijinkan masuk.
“Kakak sangat rindu dengan kamu Hanum,” ucap Lisa.
“Aku juga rindu dengan Kakak, oh Ya. Mama dimana?"
"Mama di rumah eyang. Beliau amat syok, tapi saat ini sudah membaik untuk mama berada di sana."
"Maafin Hanum yang telah membuat kekacauan kak! andai Hanum tak menggugat Alfa, mungkin usaha keluarga kita tidak akan di ambil ahli oleh Jhoni. Bahkan kakak mungkin masih bisa bekerja, tapi karna Hanum,?"
Lisa mempererat pelukannya, sedangkan sang adik hanya tersenyum sembari mengelus punggung Lisa.
“Bagaimana keadaanmu, Han?” tanya wanita tua sembari menghampiri Hanum, wanita tua itu adalah mamanya.
“Alhamdulillah, aku baik-baik saja ...” balas Hanum sembari tersenyum.
Lisa melepaskan pelukannya dari sang adik, lalu menghampiri mamanya dan mencium tangannya.
"Kok mama nyusul, katanya mau tunggu di rumah eyang?" saat itu Lisa terkejut, karna mamanya tiba dan satu taksi kembali melaju pergi.
“Maafkan aku, Ma ...” ucap Hanum sembari menggenggam tangan mamanya.
“Maaf untuk apa, Nak?” tanya mama.
“Maaf karena aku pergi meninggalkan kalian saat kalian sedang terpuruk,” balas Hanum.
Hanum menatap mamanya dengan tatapan sendu, dirinya merasa bersalah karena meninggalkan keluarganya saat mereka sedang terpuruk.
“Tidak papa, Nak.” ucap mama.
“Mama paham, kamu pasti bingung memutuskan dirimu dengan Alfa. Lisa sudah menceritakan semuanya.”
"Benarkah?" peluk kembali Hanum.
“Mama sangat sayang kepada kalian, kalian adalah anugerah pertama yang Tuhan berikan kepada Mama,” tutur mamanya.
“Iya, Mama ...” sahut Hanum dan Lisa bersamaan.
Hanum hanya bisa tersenyum, ia tidak bisa mengungkapkan perasaannya secara langsung. Setiap ingin mengungkapkan rasa sayangnya kepada sang mama, Hanum sedikit merasa malu.
TERAS RUMAH.
"Han, keputusanmu sampai dimana? udah mediasi sama Alfa?"
"Enggak kak. Bahkan Alfa ga mau liat wajah aku, semenjak aku berbicara dengan paman Jhoni. Aku berusaha menemui mama Maria dan Alfa. Tapi dua orang bodyguard meminta aku keluar." jelas Hanum.
"Apa? keterlaluan sekali. Sudah mereka ambil aset papa kita, sekarang Hanum tidak di ijinkan bertemu Alfa. Benar benar gila kan Mah? Keputusan Hanum sudah tepat berpisah dengan Alfa. Keluarga toxic, Lisa akan hubungi dr Fawaz untuk meminta temannya membantu kita. Dia seorang pengacara."
"Tunggu kak!" teriak Hanum, membuat Lisa bertanya tanya.
Sambil tunggu Hanum, yuks jejak dan mampir litersi temen Author.