
"Jangan sentuh dia, nona Hanum. Ikutlah dengan kami, kami utusan big bos untuk melindungi anda!"
"Kalian siapa sih, beraninya ikut campur urusanku?" teriak Alfa membalikan badan.
"Ikut saja dengan kami pak Alfa! jika anda pria, jangan kasar pada wanita. Bu Hanum, bonus dari kantor sudah bisa bu Hanum pakai, terlebih untuk membiaya pria ini jika patah tulang!" sindirnya membuat Alfa kesal.
Hanum mengerenyit, menatap kedua orang asing itu dengan bingung.
"Apa lagi ini?" gerutu Hanum dalam hatinya.
Harus dia akui, seumur hidupnya, mungkin ini kali pertama Hanum merasa dihormati dan dihargai oleh orang yang berdasi dan bermobil mewah.
Tapi siapakah mereka? Dan apa maksud dari perkataan mereka itu?
"Selamat, Hanum! Anda telah mengharumkan nama dunia!" ujar si lelaki yang satunya lagi sambil menepuk pundak Hanum.
"Aaaaarrgh! Benar benar hari yang aneh!" gerutu Hanum dalam hatinya, ia jadi ingat itu adalah kode dari Rico.
Hanum melihat jam yang melingkar di tangannya. Ia harus pastikan, jika Rico tidak benar benar mengirim uang untuk ia berikan pada Alfa. 'Jadi Rico sudah tau masalah lain ku dengan Alfa?' malu Hanum.
"Aku tidak punya banyak waktu," ujar Alfa seakan tidak berselera. Dia mengira dua lelaki misterius itu salah orang atau sedang mengerjainya.
Kedua lelaki itu tersenyum, menghela napas, seraya menatap rumah yang ditempati Hanum dengan keheranan.
"Bagaimana bisa orang sesukses dan sekaya Hanum bisa tinggal di rumah sejelek dan sesempit ini? terlebih aku sudah merampas sekuat aset milik keluarga Hanum." Pikir Alfa.
Tapi kedua lelaki itu sambil menatap langit langit rumah yang terlihat lapuk dan keropos. Bagaimana bisa bosmya sangat memanjakan wanita manis dan memberinya satu misi yang tak boleh gagal dan terlihat jika dia adalah utusan Rico.
Salah satu dari kedua lelaki itu melangkah satu langkah ke hadapan Alfa. Ia lantas kembali menepuk pundak Alfa.
"Anda akan menjadi miliarder, menjadi sultan baru di negeri ini! tapi sesungguhnya bos kami adalah Hanum, dia ratu sultan yang akan memotong cincang tubuh anda jika berani menyentuh dan kasar lagi, pak Alfa!"
"Miliarder? Sultan baru?" Pekik Alfa sambil menatap tajam kedua lelaki itu secara bergantian.
"Maaf! Saya sedang banyak masalah hari ini, jadi kalian jangan main main! kalian salah orang, urusan saya dengan Hanum wanita jelek ini tidak ada urusannya dengan kalian!" lanjut Alfa seolah menemukan tempat untuk menumpahkan amarahnya.
"Kami tidak main main. Dua juta US Dollar atau setara dengan 300 miliar rupiah sudah menanti bu Hanum," ujar lelaki berkumis tebal yang diketahui bernama Seno.
"300 Miliar? Wooow! Berapa gepok itu? Aaah, ini tidak mungkin!" gumam Alfa dalam hatinya. Ia tak percaya, Hanum hilang kecelakaan tapi bekerja seperti karyawan biasa, tapi memiliki uang setumpuk gudang.
Alfa menolak untuk percaya dengan perkataan kedua lelaki itu.
"Omong kosong apa ini? Hanum itu terlihat ojol miskin, salah sasaran jika kalian hendak menipuku!" bentak Alfa dengan wajah memerah.
Karna beberapa kali, Alfa mengintai Hanum bekerja dengan sepeda motor. Ia mengira Hanum bekerja sebagai kebersihan dan nyambi ngojek. Jadi selama satu bulan lebih, ia sudah yakin jika tidak ada tanda tanda Hanum ratu miliarder.
Kedua lelaki itu tercengang, keningnya mengerut saat mendengar ucapan Alfa.
"Akan kami jelaskan. Jadi-"
"DIAAAAAM!" Aku tidak punya banyak waktu untuk semua omong kosong ini!" potong Alfa sambil berdiri dan mengusir kedua pria itu, usaha untuk menarik Hanum gagal karna kedatangan mereka.
Kedua lelaki itu terhenyak, mereka tidak menyangka dengan reaksi yang diperlihatkan oleh Alfa Jhonson.
Namun, kedua lelaki itu tidak ingin banyak berdebat, setelah melihat suasana hati Alfa yang memang terlihat kacau dan berantakan di malam itu.
"Baiklah, bu Hanum tapi datanglah ke kantor Dunia Grup sebelum lewat tanggal 10 bulan ini. Karena jika terlambat, bisa saja 300 miliar itu dialihkan kepada orang lain. Dan ini kartu nama saya. Ada nomor telpon dan alamat kantor kami di sana." Ujar Seno sambil keluar dari diikuti oleh rekannya.
"Oh ya, sempatkan juga untuk mengecek rekening Bank Central Diamond lama Anda!" Lanjut Seno sambil membuka pintu mobilnya sebelum mobil mewah itu melaju dan meninggalkan Hanum yang masih terpaku di pinggir daun pintu.
'Apa ini perusahaan pak Rico. Dan lagi lagi dia yang baik begini, tapi jika aku terima. Aku tidak ingin memberi harapan pada Rico. Tapi dengan uang itu, jelas aku bisa lepas dari jeratan Alfa. Serta bisa kembali bertemu Lisa dan Mama. Jika aku bertemu Jhoni Jhonson.' batin Hanum, meremas kartu nama, lalu ia selipkan di kantong celana levis.
Alfa kembali mendengus sambil menatap mobil mewah itu berlalu. Alfa merasa muak jika harus memikirkan kekonyolan itu di saat hatinya masih sakit dan perih oleh penghianatan Hanum yang menolak, ia bisa lepas dari kecelakaan tapi bisa beruntung dekat dengan seorang pria. Meski ia belum yakin jika bantuan itu dari keluarga Rico.
'Hanum pasti mengecoh, aku tau betul paman Mark dan Rico, mana mungkin ia akan membantu Hanum wanita buruk ku ini. Pasti Hanum punya dady sugar?' benak Alfa menatap tajam ke arah Hanum.
"Han, cepat bayar besok pagi! aku akan datang kembali!" ujar Alfa pergi dari hadapan Hanum.
"Huh! Macam macam saja modus penipuan zaman sekarang. Mereka nggak tahu kalau aku terlalu miskin untuk mereka tipu." Rutuk Alfa sambil berjalan lunglai pergi menjauh dari Hanum.
TOOOOK! TOOOOK! TOOOOK!
Belum sempat Hanum masuk kedalam rumah kontrakan. Suara ketukan pintu tiba tiba terdengar diketuk dengan kasar.
Dengan kesal, Hanum bergegas menuju pintu depan untuk segera memastikannya.
Setelah pintu terbuka, Hanum kembali tercengang saat melihat seorang wanita yang bertubuh indah semampai, tengah berdiri menatapnya penuh hasrat.
Pakaiannya terlihat minimalis, rok mini transparan dipadu kaos oblong kuning ketat yang tidak berlengan.
Wangi bunga melati yang menggugah hasrat pun menyeruak.
Bibir wanita itu merah merekah, semakin menggoda kala wanita itu sesekali menggigit bibirnya sendiri dengan manja.
"Eh, Mbak Sari! maaf aku minta waktu dua minggu untuk membayar kontrakan rumah ini, Mbak!" sambut Hanum dengan cepat meski terbata.
Mbak Sari sang pemilik rumah kontrakan itu malah tersenyum tipis seolah tidak peduli dengan ucapan Hanum.
Tanpa menjawab, Mbak Sari memasuki rumah meski belum dipersilahkan, ia berjalan melenggak lenggok bagai model spanyol yang berjalan di atas catwalk.
"Mbak Hanum lucu deh, aku kesini karna ga punya nomor mbak Hanum. Saya kesini karna mau kasih tau, lunas sampai satu tahun kedepan."
"Apa? Lunas sampai tahun depan?"
"Ya, benar mbah Hanum. Sari ga akan tagih mbah Hanum gedor gedor ampe subuh deh. Udah Sari cuma mau bilang itu aja. Bye!"
Hanum tak berkutik, ia lemas dengan apa yang ia alami hari ini benar benar membuat ia pening.
To Be Continue!!