BAD WIFE

BAD WIFE
MENYEMBUNYIKAN SEDIH



Lisa yang kini menyapu air mata di kamarnya, ia tetap tersenyum ketika chatting dengan Hanum dan mengetahui kabar sang mama yang kini menetap di surabaya. Terlebih mama mertuanya yang notabane seorang dokter, yaitu dokter Felicia menetap di luar negeri karena mutasi pekerjaan. Sehingga membuat Lisa tinggal di rumah kado pernikahannya.


"Kak, gimana kerjaan baru kakak lancar. Kok aku ga pernah liat kaka aktif nyapa penggemar? Serius akun sosmed kakak udah ga aktif, emang serius yang aku denger kakak ga di perbolehin lagi gabung sama temen vloger kakak?" tanya Hanum, masih dalam sambungan chating di laptopnya.


"Banyak amat sih pertanyaan kamu Han. Enggak sih, Fawaz cuma batasin aja. Tapi kakak lagi suruh orang, temannya mbak Nazim kamu itu loh, dia mau bantu kakak biar akun dan sandinya balik lagi. Kakak juga ga bisa nerima endorse dan heeling lagi dong Han! lagian followers kakak udah banyak. Sayang kalau kakak tinggal gitu aja." sombong Lisa, ia menutupi kesedihannya dengan chatting setiap malam dengan Hanum.


Lisa kembali tersenyum, ketika melihat foto dua bayi kembar keponakannya itu. Di tambah di gendong sang mama yang tersenyum dan bicara jika mama akan datang ketika Lisa mau bulannya.


Lisa mengelus perutnya yang sudah terlihat besar, ada rasa iri kala Hanum diperlakukan bagai ratu, apalagi di saat hamil sang suami benar benar siaga.


"Han, kakak boleh tanya gak?" mode chatting.


"Boleh kak, soal apa? eh sebentar ya kak Lisa, Ghina nangis ini. Aku lagi mompa asi, si mama juga kerepotan sama Ghani. Bentar ya kak soalnya Rico lagi beli pampers!" balas Hanum.


Lisa yang tadinya ingin cerita soal Fawaz dan menanyakan banyak hal, membuat Lisa menonaktifkan laptop. Otomatis saat Hanum kembali chattingnya berakhir.


'Ga jadi deh! kakak ga bisa curhat sama kamu Han, apalagi kalau mama tau. Bisa bisa asma mama kumat, kamu juga lagi masa pemulihan. Kak Lisa ga mau kalian ikut ngerasain apa yang aku rasain saat ini.'


Lisa buru buru mengambil wudhu dan memakai mukena, lalu ia turun ke bawah anak tangga, dengan perlahan karena kehamilannya yang menginjak lima bulan. Melihat bi inah masih saja menyapu ruang tamu.


"Bi, jamaah yuk! Pak Soe mana, suami bibi?"


"Eh, iy non. Non Lisa lanjut ke ruang musholla aja ya. Bibi panggil pak Soe dulu."


Lisa segera mengangguk, ia merasakan sunyi. Hanya berteman dengan para asisten rumahnya, Lisa selalu meminta pak Soe yang menjadi imam. Bagi Lisa, dua orangtua ini sangat membuat Lisa tidak sepi dan selalu mengingat almarhum papa Armand yang selalu memberinya nasihat.


"Sayang, yang sabar ya nak! semoga minggu depan papa udah kembali pulang, Bunda juga ga sabar intip kamu lewat usg dimensi. Kira kira wajah kamu seperti bunda atau papa ya?"mengelus perutnya.


"Non, ayuk!" ucap bi inah.


Ibadah Lisa lancar, ketika kedua asistennya telah pamit. Lisa selalu meminta bi inah sebelum kembali beristirahat, meminta mematikan salah satu lampu, sehingga sedikit remang dan cahaya itu hanya berada di lafadz arah kiblat.


Tidak henti hentinya Lisa mengkoreksi diri, apa kesalahannya kini suaminya sangat berbeda padanya. Lisa memohon petunjuk, mengapa saat ini ia sangat tidak enak dan sulit tidur ketika mas Fawaz makin menjauh dan jarang pulang. Padahal sebelumnya mas Fawaz tidak seperti ini.


Setelah berada dikamar, Lisa segera merapihkan mukena. Lalu ia mengambil sebuah album dan menyalakan kembali laptopnya. Ia segera melihat dirinya bergabung pada group litersi sebuah wadah perkumpulan para istri dan profesi mereka terhadap pasangan dan cara menyikapinya.


'Eh, udah bergabung aja. Syukurlah! aku bisa baca baca, itung itung memanggil ngantuk.'


Lisa mulai scroll dari atas hingga kebawah, hingga sampailah Lisa melihat sebuah akun dan postingan viral yang tersambung pada sosmed si burung puyuh.


@jampeannestia.Blogercom


Lisa terdiam, ia kembali melihat postingan lain yang membuat matanya terpana. Yakni sebuah foto profil pria dengan wanita, yang mirip dengan suaminya dari samping. Meski wajahnya terlihat dengan blurb warna bayangan kotak remang, tapi Lisa ingat jika kemeja dan arloji itu mirip kado yang ia beri di hari jadi pernikahannya minggu lalu.


"Duh, aku salah ga sih gabung situs kaya gini. Bukannya tenang, malah tambah was was deh. Makin beban aja mikirin mas Fawaz di luar sana." kesal Lisa mendorong laptopnya dengan kasar. Seolah ia menyesal melihatnya saat ini. Lalu Lisa memilih tidur untuk bisa tenang, entah mengapa perutnya terus saja merasakan nyeri.


***


Di Kantor


"Heeeh .. ada apa tuh Sin. Kok pake toa segala pengumuman nya?" tanya Lisa pada Sinta. Tapi ia hanya menggeleng senyum meringis tak tau.


"Jangan tanya Sin. Aku juga ga tau, kamu balik nanya lagi."


Sinta senyum merogoh. Lalu menatap sang atasan berjalan dengan gaya tegas dan tangan yang menyelingkup ke saku celana.


Kalian semua. Terimakasih untuk seluruh karyawan dari level satu hingga level enam. Saya tak bisa menyebutkan satu persatu tentunya. Saya terimakasih atas kerja sama dan lelah kalian yang sudah membangun perbankan ini menjadi lebih baik. Hingga perusahaan kita mendapat rating dari pusat bintang lima, jauh lebih baik menempati posisi perusahaan lain.


Kalau begitu, tanpa basa basi. Silahkan isi form untuk klaim bonus. Satu lagi, akan ada beberapa kandidat naik jabatan dan mutasi untuk cabang baru yang menempati Sekretaris, Bendahara, juga tim Audit. Jadi tetap semangat dan terimakasih untuk hari ini. Mari tetap semangat, sehat selalu dan semangat lagi untuk pencapaian bulan ke bulan berikutnya. Oke untuk semuanya .. Good Luck !! ucap pak Ray, namun masih menatap Lisa terlihat muram.


Sorak menepuk tangan. Saling berjabat tangan tak lupa nasi box dan kue sebagai camilan di bagikan oleh pertugas pantry pada seluruh karyawan.


Semua mata karyawan berbisik bisik. Mereka ingin sekali naik jabatan. Tidak terkecuali Lisa yang tak ingin mengisi form untuk bekerja lebih dari saat ini. Ia hanya berfikir menjadi baik saja sudah cukup untuk ia bekerja. Jujur pekerjaanya saat ini hanya mengisi kesibukan dirinya, kesibukan istri seorang dokter yang sibuk, membuat Lisa cukup menyimpan dengan banyak rutinitas.


"Kok melamun sih Lis. Ga suka ya isi form rewords tahunan?"


"Aaakh .. bukan itu kok. Aku bingung gitu Sin. Kamu kan tau, kalau aku ajuin naik level dalam kerja. Otomatis aku bakal sibuk dan makin jauh sama mas Fawaz. Justru aku lagi usahain akun utamaku pulih, aku bisa kembali sapa dan buat konten lagi." jelas Lisa.


"Jiiiieh ... pengantin yang halu merenung. Ya udah deh itu hak kamu! tapi, aku cuma mau bilang Lis. Jangan pernah putus semangat buat pencapaian kamu yang sekarang aja, kamu tau kan kita susah payah masuk dan bertemu satu cabang. Lagi pula posisi kita saat ini jelas lelah dengan target tapi suasananya nyaman kan. Next kalau akun kamu udah pulih balik, berkabar ya kita join!"


Tak lama pak Ray mendekat ke arah Lisa. Sementara Sinta pamit seolah tahu situasi.


"Lis, bisa bicara sebentar ke ruangan saya?"


Tbc.


Mampir litersi keren Author nih all.