BAD WIFE

BAD WIFE
KEGAGALAN



Di berbeda tempat, seorang wanita berhasil keluar dari pasungan. Ia berhasil keluar dari apartemen yang membuat dirinya hancur, harga diri dan kariernya punah begitu saja.


Irene mengingat jelas apa yang terjadi kala Peter, membuat dirinya kacau. Ia sudah tak tahan, dan kala lengah pria itu membuat dirinya terluka batin, maka ia berhasil keluar dari kediaman terkutuk baginya.


"Alfa, kamu bahkan sudah tahu siapa yang telah membuat hidupku begini, tapi kamu terlalu sadis membiarkan aku berada dalam keluarga angkat Johnson. Saat kita bertemu, ku harap kamu harus menjelaskan dan membayar sakit hatiku." gemuruh Irene.


Saat irene kabur dalam jarak lima kilometer, ia menemukan mobil losbak dari toko bunga cantik. Mobil losbak itu terlihat banyak bunga hias yang mungkin akan dikirimkan pada suatu acara bahagia atau saat belasungkawa. Tapi terlihat indah, sepertinya bunga yang akan dikirimkan ucapan suatu kebahagiaan.


Irene segera naik, dan mengumpat dibalik penutup bunga, ia bersandar dan menggigit jarinya agar tak diketahui ada nafas ketakutan.


Irene meringis saat merasakan tangannya terasa ngilu saat udara dingin menusuk sampai ketulang. Kala mobil itu berhasil pergi membawanya entah kemana, irene berusaha tenang dan meminta pertolongan pada siapapun untuk menebus hidupnya, satu yang ia ingin lakukan adalah membalas perbuatan Alfa yang tega padanya.


Irene memejamkan mata, untuk mengenyahkan rasa sakit di tangannya. Akan tetapi, hatinya jauh lebih sakit saat merasakannya karena itu hanya mengingatkan dirinya pada masa lalu, saat penyekapan yang menjijikan.


Saat masih menutup mata, sebuah mobil sport mewah berhenti tepat di samping mobil losbak, mengejutkan wanita itu karena suaranya yang cukup bising. Irene menoleh, ternyata posisinya saat ini, ia tertidur dan sudah sampai di sebuah rumah yang terlihat begitu ramai.


Empat orang pria keluar dari dalam mobil dan menghampiri losbak.


"Ckckck ... coba lihat siapa yang ada di sini, bunga cantik ini pasti pak Rico menyukainya?" ucap salah seorang dari keempat pria yang baru menghampiri.


Irene melihat pria yang sedang berbicara di hadapannya. Sambil mengelilingi sekitar perumahan, dan cepat cepat ia turun saat pria mengangkat hiasan bunga ke dalam rumah.


"Rico, apa dia pria yang sama. Apa dia bisa membantuku kelak..?" lirih Irene.


Irene menutup matanya, ia turun dan berbalik pada tiang sambil memperhatikan keramaian satu rumah itu. Setelah bunga turun dari mobil losbak dan tepat menghiasi seluruh pelataran pemilik rumah.


Namun ada seorang pria yang sangat mirip dengan Peter, sehingga ia mengingat hal buruk sebelum ia mencungkil dengan sebilah benda tajam, untuk ia bisa melarikan diri.


'Kau akan mendapatkan banyak uang jika melayaniku. Kau tidak perlu menenteng popularitas sesaat, kesana kemari yang hanya cukup membeli nasi yang tidak membuat kenyang.'


"Maaf, aku harus pergi, akan kuadukan kau pada priaku, Alfa Johnson!"


"Hahahaha, bahkan dialah yang telah mengirim kamu padaku. Jadilah budakku!" tawa pria itu, menusuk kaki dan mengunci tangannya.


Raut wajah Peter berubah, pria itu menatap irene tajam. "Kau adalah milikku sekarang, kau harus ikut kemauanku!"


Dan saat ini, Irene menutup kuping dan meraih jari jemarinya menatap sekeliling rumah yang ramai itu. Ia akan memohon pada siapapun yang ia temui untuk membalaskan sakit hatinya pada keluarga Johnson.


Sementara Mark, ia senyum bahagia dan melihat seputaran bucket serta hiasan bunga yang telah dikirimkan begitu cantik. Tapi raut dan kedua matanya meredup kala melihat seorang wanita mengendap ngendap menatap ke arah rumah besannya itu.


"Hey! siapa kamu?" teriak Mark, menyadarkan lamunan Irene.


"Kalian lihat, siapa wanita yang mengintip itu. Apakah dia mata mata?" teriak Mark, kepada pelayan.


Hal itu membuat tatapan kedua bodyguard mengejar wanita yang lari, saat ketauan mengintip. Serta Adelia yang memahami sang papa seperti sedang bermasalah, ia segera menghampiri dan menanyakannya


"Ada apa pah?"


"Tidak! papa hanya melihat hal janggal saja, ayo masuklah!"


"Jika benar ada sesuatu, itu pasti pertanda alam tidak menyetujui lamaran Rico dan Hanum kan, benar begitu pasti Pah." jelas Adelia dengan manik penuh harap.


"Omong kosong apalagi kamu Adelia, jika kamu masih tidak setuju pada pilihan kakak mu, maka enyahlah dari tempat ini!" sentag Mark menatap tajam.