
"Dimana aku?" tersadar Hanum dengan pusing.
Hanum mengerjapkan kedua matanya, benar benar sangat pusing baginya saat ini. Tidak ada satu hal yang membuat Hanum ingat.
Tiba saja ia menampilkan sebuah layar, Rico di dalam mobil bersama satu pria, seperti sedang bernegosiasi.
"Siapa kamu? kenapa lakukan ini. Kami ga punya musuh, dan kamu yang culik suamiku?" ujar Hanum pada pria tegap, berkulit hitam yang diam saja. Tak menanggapi ocehan Hanum.
Tap! Tap.
Deru langkah ketika lift terbuka lebar, Hanum merasakan ketakutan ketika wujud kaki panjang bercelana bahan licin terlihat. Sayang hanya menampilkan dari pinggang ke ujung kaki, karena rolling door tertutup.
Ruangan Hanum saat ini mirip gudang, sementara ia hanya duduk di dalam mobil jeep, tak lama rolling door itu pun terlihat besar, hal itu juga membuat Hanum berlari ketika salah satu pria itu adalah suaminya.
"Mas Rico." lirih Hanum, ia berdiri dan memanggilnya.
Mas Rico!! nafas Hanum terhenti, ketika sebuah senapan mengenai punggung Hanum.
Door!!
"Hanum." teriak Rico, ia segera meraih tubuh Hanum yang berdiri kaku dan tersenyum.
Ada rasa sesak kesedihan kala Rico melihat istrinya datang, namun tertembak seorang pria berjubah ninja berlari cepat.
"Kau, kenapa istriku.. ?" tunjuk Rico.
"Hanum bangun sayang!" deru nafas Rico berat.
"Rico, aku tidak membunuhnya apalagi menyuruhnya. Penyusup ada di ruangan ini. Kalian semua cari siapa yang menembaknya!" ujar Darren tepat di samping Rico yang duduk tersungkur.
Daren awalnya menyuruh seseorang untuk menjemput Hanum, ia mencoba meminta banyak pertanyaan dan kecocokan bayi Azri yang ada di kandungan Lisa saat itu. Dengan begitu tidak ada salah paham antara Darren dan Hanum kala bertemu, karena ia adalah istri Rico sahabat baiknya dulu di amerika.
"Hanum, kita ke rumah sakit sayang, bertahanlah! mas tidak mau kamu meninggalkan mas dengan seperti ini! mas butuh kamu, mas tak ingin kamu pergi sayang." teriak Rico, tangannya mengepal meski Darren menyetir sedikit cepat menuju rumah sakit.
Darren merasa bersalah karena mempertemukan pasangan suami istri di gudangnya, tanpa tahu ada penyusup musuh yang akan melibatkan namanya.
Hanum ingat lima tahun lalu, acara setelah menikah satu tahun Lisa bersama Fawaz, ia diajak party karena Fawaz saat itu sibuk.
Sehingga hari terakhir pernikahan kedua, Lisa merasa diabaikan oleh suaminya sendiri. Itu karena kesalahpahaman pertemuan Lisa yang mabuk dengan seorang pria asing, tak lain adalah pria yang sedang menyetir saat ini.
Terjadi apa entahlah! yang jelas Hanum sempat memergoki Lisa terhuyung dan dibantu oleh seorang pria didepannya saat ini, dan diantar pulang sampai rumah. Hanum sempat bertanya, tapi Lisa enggan menjawab hingga bersumpah tidak tahu pria yang mengantarnya.
Hanum remang menatap Rico, yang sedang panik mengurai air mata agar Hanum bertahan. Tapi bayangan itu terlintas melihat Lisa lima tahun lalu.
"Maaf ya Mbak, saya tidak bisa menerima Mbak untuk bekerja disini. Saya harap, Mbak bisa mengerti dan bisa mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan jenjang pendidikannya, Mbak." ujar seorang wanita yang merupakan pemilik dari kantor tersebut.
Kantor tersebut sedang membuka lowongan pekerjaan secara besar-besaran. Jadi tak heran, jika Lisa adalah salah satu dari pelamar yang ikut serta dalam interview ini, sementara Hanum mendampingi sang kakak. Saat ia pulang, satu lift dengan pria berambut kuning kecoklatan yang sedang menyetir mobil saat ini.
"Sudahlah kak kita pulang, tidak terlalu penting. Sekalipun menjadi bahan pertimbangan mereka untuk menolak lamaran kerja kakak bukan? atau dia tau kakak adalah selebgram?"
Lisa dan Hanum tak langsung pulang ke tempat tinggalnya. Bahkan dalam beberapa hari terakhir ini, dia banyak menghabiskan waktunya untuk menetap di rumah sakit karena sang papa akan melakukan operasi, sementara sang mama syok asmanya kumat.
Bukan tanpa sebab karena semenjak kedua orang tuanya sakit keras. Lisa yang menggantikan peran kedua orang tuanya untuk menjaga Hanum, yang saat itu sedang rapuh.
Ingatan itu terlintas, Hanum mendengar suara mas Rico yang terus memanggil manggilnya untuk bangun, mata terpejam tapi telinga Hanum seolah masih berfungsi apa yang sedang terjadi.
'Lalu kenapa aku bertemu pria itu lagi, kenapa pria ini menjebak aku bertemu dengan suamiku. Akankah ia ingin menembak suamiku, atau memang aku. Jika benar, semoga penembak itu cepat tertangkap, aku ikhlas pergi asalkan mas Rico selamat.' batin Hanum, lalu memejamkan mata, akan tetapi kembali bayangan putih, ia melihat anak anaknya yang menangis dan berteriak Bunda.
Bunda ...!!
Tbc.
Hanum mau End, mampir yuks! Genre Horor Author.