BAD WIFE

BAD WIFE
MENYEMBUNYIKAN



"Jangan sedih Hanum! itu udah rejeki kamu." Nazim memeluk.


"Mbak! kenapa harus saat ini, bukankah aku ingin memutuskan berpisah. Tapi karna ini, aku harus menundanya bukan? Huhuu." isak tangis Hanum menggema.


Aries yang hanya sebagai pendengar bagai sapi ompong. Ia ikut menyeret air mata, maksudnya menyeka air mata. Di jok mobil paling belakang.


"Gara gara Hanum, air mataku banjir! padahal aku baru kenal, kamu loh." ungkap Aries di balik kursi Nazim dan Hanum yang saling berpelukan.


Makasih ya mbak! udah anterin aku sampai rumah. Aku ga akan lupain kebaikan mbak Nazim. Aku berharap kehamilanku ini benar benar tidak membuat Alfa curiga.


"Apapun itu! mbak hanya kasih solusi terbaik. Tapi jelas dalam hukumnya. Di talak dalam keadaan hamil itu ga sah dan pasti akan tertunda. Mbak rasa Lisa bisa kasih solusi, tapi jangan sampai mama kamu dengar dulu. Mbak ga tega tadi liatnya!"


Nazim memang sempat menengok mama Rita ibu dari Hanum yang masih saja berduka, jelas menatapi kesedihan ditinggal orang terkasih.


Hanum hanya mengangguk, setelah dari rumah sakit. Hanum memang sedikit terkejut ketika hasil pemeriksaan benar adanya tanda kehamilan. Tapi Hanum sesak, karna buah hatinya hadir bukan karna cinta. Tapi karna keterpaksaan dan hadir tak diharapkan.


'Haruskah aku gugurkan?' benak Hanum sedari tadi berfikir tidak jernih. Ia benar benar ingin sekali mengakhiri pernikahannya dengan Alfa Jhonson.


Nazim pamit, Hanum melambai tangan dengan senyum. Lalu terlihat Lisa keluar dan memeluk adiknya itu.


"Han, ada apa sama kamu sebenarnya? pasti terjadi sesuatu sama suami kamu kan?"


"Kakak berlebihan, aku ga apa apa kok. Lagian aku lupa pamit kalau aku berkunjung, ke sidang kasusnya mbak Nazim." alibi Hanum.


Tapi Lisa sedikit tak percaya, ia meminta Hanum menjelaskan tentang sebuah foto. Yang membuat sang adik tak bisa mengelak.


"Kak! aku jelaskan nanti saja ya. Aku minta maaf, tapi aku benar benar capek." senyum Hanum lalu masuk kedalam rumah.


Hanum kini berada dikamar, ia menangis menatap hasil usg. Terlihat benar saja, jika kandungannya sejak beberapa bulan. Ini adalah kehamilannya yang ke sembilan minggu. Hanum menghapus air mata. Ia menyelipkan foto dari dokter Retna tadi, di dalam laci bawah kasur kamarnya. Mengelus perutnya yang masih terlihat rata, mungkin sedikit berisi karna lemak dietnya itu. Tak sadar matanya terpejam karna rasa sedih, membuat Hanum melupakan sejenak masalah hari ini.


***


Ke esokan harinya. Matahari pagi kini terihat, memang sudah terbit sejak mentari dari kumandangnya adzan. Hanum ketika bangun, ia tak pernah kembali tidur dan akan melakukan aktifitas di luar rumah dengan olahraga ringan.


Hingga pukul delapan pagi, Hanum menyorot matanya yang silau, terlihat lampu sein mobil ke arahnya. Dan Hanum tau itu adalah Alfa yang kembali datang dan menemuinya di rumah sang mama.


"Alfa." lirih Hanum.


"Kamu sudah kembali, baguslah! aku mau jemput kamu sekalian."


"Engg .. "


"Eh! Alfa udah datang, Hanum ajak dong suami kamu masuk. Lagian capekan dari luar kota. Kemarin Hanum juga pulang duluan ya?" tanya Lisa pada Alfa yang gatal menggaruk tak mengerti.


Alfa sedikit bingung, apalagi Hanum yang kaku. Hanum sadar, jika Lisa taunya dirinya dan Alfa baik baik saja. Sehingga Hanum masuk ke pekarangan rumah belakang.


"Kau sudah pernah nge-gym belum?" dan bukan menjawab, justru Alfa memberikan pertanyaan baru untuk Hanum.


"Belum!" Hanum menggelengkan kepalanya dan tertawa kecil pada Alfa. Karna saat ini terlihat Lisa datang dan seperti sedang menguntitnya.


"Kalau begitu jangan banyak berspekulasi! Cepat habiskan sarapanmu dan kita segera nge-gym!"


Berat hati Hanum, tapi dia berusaha untuk tersenyum dan mengangguk seperti tadi. Hanum mau mencoba mengikuti perintah Alfa yang kini duduk berhadapan dengannya, di meja makan.


"Kenapa kau diam saja di situ? Aku kan ingin makan!"


"Tadi kau menemaniku makan, sekarang aku menemanimu makan!"


"Padahal tidak usah!" Hanum menggelengkan kepalanya,


"Aku kalau makan berantakan!" ucap Hanum yang gerogi.


"Tapi kan kau istriku!" Alfa lalu diam dengan pandangan yang masih tertaut pada Hanum.


"Kalau Papaku sedang makan dan mamaku tidak makan, dia akan tetap duduk menemani papaku. Kalau mamaku makan dan papaku tidak makan, papaku juga duduk di samping mamaku menemani mamaku!"


Ucapan Alfa yang membuat Hanum mengerjapkan matanya. Seolah ini adalah debaran cinta, dan berharap dirinya menahan diri, agar Alfa tidak merusak kehidupan sang anak.


"Begitukah mama dan papamu?"


Hanum justru malah membalikan pertanyaan yang membuat Alfa, hanya bisa tersenyum tanpa menunjukkan urutan giginya.


'Tapi tidak seperti itu! Kalau papaku makan ya makan saja! Kalau mamaku makan ya makan saja, kadang papaku sedang membaca tabletnya! Kadang mamaku sedang masak di dapur ketika papaku sedang makan! Biasanya mama menyiapkan sesuatu yang belum ada di meja makan! Lalu kalaupun kami sedang makan bersama. Siapapun bisa pergi lebih dulu kalau sudah selesai makan, tidak harus menunggu sampai orang yang sedang makan selesai! Terus papaku juga tidak langsung duduk menemani di meja makan ketika ada mamaku yang sedang makan!' jelas Alfa.


Sementara Hanum bingung sendiri menjelaskannya, sehingga hanya menyeringai tanpa bicara.


"Kalau kau tidak ada lagi yang ingin dibicarakan sebaiknya makanlah makananmu!" ucap Alfa karena dia melihat Hanum seperti kehabisan kata kata.


"Ah iya!"


Hanum tidak banyak berkomentar, setelah tersenyum dia pun membuka makanannya, refleks, Hanum menggerutukan giginya.


"Kenapa hanya diliatin?"


"Lihat ini Alfa!" pinta Hanum menunduk. Sementara Alfa terasa bergetar kala ia kembali dan duduk di samping Hanum.


To Be Continue!!


ADA APA YA?