
"Mbak, maaf lama menunggu!" ungkap Hanum.
"Kamu sama siapa? Eh, Lisa. Ini kakakmu kan, wah mangling toh. Aku Nazim!" berjabat tangan.
Lisa pamit, hanya meninggalkan Hanum dan Nazim saat ini. Awal mereka yaitu adalah ngeteh bareng, sambil pertanyaan ringan. Sehingga stuck Nazim terkejut ketika pembicaraan tentang Alfa.
"Jadi, dia benar benar datang lagi? apa sih maunya. Gemas aku Han."
"Entahlah mbak, sepertinya dia mau Rico ga punya apa apa. Hanum hanya berharap, kedepannya mas Rico tidak kena mental. Ngertikan maksud Hanum?"
"Mbak ngerti, ga mudah dari kehidupan level sembilan. Terjun bebas ke level satu, mustahil. Kamu harus banyak sabar dan selalu disisi Rico ya Han!"
"ly mbak." senyum Hanum.
Mereka berbicara panjang. Sehingga beberapa saat Hanum mendapat telepon dari Rico. Ia mengangkatnya dan bicara jika dirinya bersama Nazim, dan dekat di gedung studio kak Lisa.
"Mas, kamu udah tiba hari ini. Aku share lokasi ku saat ini ya. Bye, hati hati mas!" menutup panggilan.
"Eheeum! mbak jadi ngiri deh, kamu udah mesra banget. Udah ga jaim lagi kan?" goda Nazim.
"Mbak, apa sih. Bikin malu Hanum aja deh. Lagian mbak emang ga sepi, sendirian terus?"
"Aduh, kalau urusan rumah tangga. Mbak lagi ga mikirin dulu deh. Mau lihat Putri bahagia dulu, kebutuhan schoolnya aja tau sendiri kan." jelas Nazim.
Hal itu membuat mereka banyak bertukar pendapat banyak hal. Serta Nazim meminta Hanum untuk memberitaunya jika dibutuhkan.
"Han, suami kamu sampai tuh. Inget ya, ada apa apa. Jangan sungkan sama mbak!"
"Ya mbak, makasih loh."
"Siang, sayang. Maaf mas membuat kamu menunggu lama."
"Eh, gak kok mas."
"Nah Pas nih, kebetulan aku juga mau jemput my bocil." tambah Nazim.
"Ah, terimakasih sudah menjaga Hanum." ucap Rico.
"Sama sama, semoga kalian bahagia terus ya. Bye, sampai jumpa lain waktu." balas Nazim, meraih tasnya.
Hanum menatap sang suami, Rico mengecup peluk istrinya. Lalu mengajaknya masuk ke dalam mobil.
"Mas, kita mau kemana. Kok arah pulangnya beda?"
"Sayang, mas akan bertemu dengan partner sahabat mas. Mas akan menjual mobil ini padanya, jika kondisi kita sudah stabil. Mas, akan menebusnya lagi."
Pernyataan Rico, membuat Hanum terdiam. Ia mengusap tangan suaminya, lalu mengecup punggung tangan suaminya dengan lembut.
"Mas, apapun aku dukung. Aku akan selalu ada di dekatmu. Percayalah, ini ujian mas menuju satu level naik dari sebelumnya."
"Makasih sayang, tapi saat ini kita mampir ke perlengkapan bayi dulu."
"Mas, untuk apa. Kita bisa berhemat kan, aku punya belanja online dari pasar. Harganya pasti lebih terjangkau."
"Sayang, sebelum semua habis. Mas ingin anak kita, merasakan kebahagiaan. Mas harap kamu tidak menolaknya!"
Mendengar hal itu pun, membuat Hanum menurut. Lalu sampai di dalam toko perlengkapan bayi. Rico yang antusias, Hanum segera ikut lapang, senyum sumringah agar Rico tak merasa kecewa, jika sebenarnya ia tak menyetujui. Belanja saat ini sangat tidak benar, justru pengeluaran semakin membludak.
"Ranjang bayi ini sangat lucu, gimana sayang?"
"Iy mas, lucu dan kokoh terlihat."
"Baiklah, aku mau ini ya!"
Rico menunjuk beberapa perlengkapan mulai pakaian bayi, pakaian sedikit besar hingga satu tahun. Warna netral dan soft, sehingga saat Hanum sampai di kasir. Hanum terkejut akan total belanjaan yang mencapai tujuh puluh juta.
"Mas, apa enggak terlalu boros?"
"Sayang, mas akan titipkan semua perlengkapan di villa Feli. Sampai kita ketemu rumah sewa yang cocok. Setidaknya perlengkapan bayi kita hingga ia berusia satu tahun lebih aman. Jadi kamu ga perlu memikirkannya!"
Hanum senyum, menutup matanya ketika tangan kokoh Rico menyentuh pipinya. Sehingga rasa khawatir ia hilangkan saat ini. Lalu kembali terkejut ketika Rico bicara sesuatu.
"Mas, untuk apa?"
"Surprise, seminggu ini mas ingin buat kamu bahagia sayang. Mas takut setelah semua diambil, mas ga akan pernah membuat kamu bahagia dengan calon anak kita kelak." lirih Rico, membuat Hanum senyum dilema.
'Mas, asalkan tanpa kemewahan sekalipun. Aku sudah cukup bahagia, tapi jika aku menolak. Maka aku akan mengecewakan hatimu. Aku tidak suka kamu membuang uang seperti ini, di saat usahamu sedang goyah.' batin Hanum.
Hanum dan Rico kembali pulang, dalam perjalanan ia merasa sedikit ragu. Ketika melihat mobil sebelah yang sejajar dengannya. Hanum yang menoleh, ia merasa itu adalah dua pria asing yang belum lama menabrak mobil Lisa tadi pagi.
Rico yang merasa istrinya di lihat, ia segera menoleh tajam pada tatapan dua pria yang melihat ke arah Hanum. Meski Hanum diam pasi, menatap lurus arah jalan.
Dengan kilat, Rico menaikan kaca hingga menutupnya rapat. Lalu Hanum menoleh ketika wajah Rico menegang ingin marah. Hanum senyum pada tatapan wajah serius Rico.
"Kenapa senyum, tidak ada yang lucu." sebal Rico.
Hal itu membuat manis gaya Rico yang cool dan perhatian. Hanum senyum masih menatap jalan lurus, kala mobil kembali melaju. Masih mode melirik Rico yang terlihat kesal.
DI RUMAH
"Mas, aku siapkan air hangat untuk mandi ya?"
"Heuumph."
Hanum yang meletakkan seluruh barang barang, ia segera menyiapkan handuk untuk suaminya.
Braaaagh!!
Sebuah telepon rumah, Rico lempar begitu saja, membuat Hanum terdiam kaku.
"Mas, ada apa, apa aku membuat salah sama kamu?" tanya Hanum.
Rico menunjukan sebuah foto pada Hanum, lalu ia tersadar dua pria asing di sebelahnya yang menatap Hanum tadi, adalah orang yang sama.
"Katakan, seharian ini kamu darimana. Kenapa tidak datang kekantor mas?"
Rico menghampiri, mengelus rambut yang jatuh menutupi mata sang istri. Masih menggenggam sebuah handuk untuknya.
"Bukankah mas sibuk, ada tamu penting. Bukankah klien datang. Mas kan ke paris mengunjungi bu Martha juga Belinda kan?"
"Itu murni kerjasama, tapi ini kenapa ada dua pria yang tadi natap kamu, kenapa kamu kaku dan ga bilang kamu kenal mereka?"
"A-aku. Aku ga kenal mereka mas." jelas Hanum, lalu ia terdiam bingung.
"Sayang, kenapa diam?"
"Aku, tadi ikut penyuluhan sama ka Lisa, trus ketemu Nazim. Ka Lisa mau ada potret iklan, gedung tadi mas."
Braagh!! pintu kamar mandi di tutup.
Rico membalikan tubuhnya. Belum Hanum selesai berkata, ia ingin menjelaskan datang ke kantor namun terhalang, tapi sudah buyar akan kemarahan sang suami. Ia merasa sedih, ini pertama kalinya ia melihat suaminya semarah ini, dan tak semanis padanya.
Rico yang telah meninggalkan Hanum dan masuk ke kamar mandi. Dengan kilat Hanum segera mengetuk pintunya.
"Mas, kamu salah paham. Dua orang tadi aku benar ga kenal, ka Lisa bisa jadi saksi kok. Dia nabrak mobil belakang ka Lisa. Mungkin kamu salah paham, soalnya dia ngejar kita hanya untuk tanggung jawab, tapi kami tolak." jelas Hanum masih mode teriak.
Kreek! pintu terbuka.
"Benarkah? itu penjelasan terjujurmu?" tanya Rico dengan aksi tanpa busana.
"Heuuumph! benar mas."
Tak lama Hanum di tarik lembut, membuat tangan Hanum menutup kedua matanya.
"Mas mau apa?"
"Menghukum mu sayang, benar atau tidak. Kamu harus meredakan emosi mas saat ini. Meluruskan adik kecil agar tertidur." jelas Rico tertawa menatap Hanum, yang kini sudah berada di dalam bathub bersama.
Tbc.