
Hanum tidak menoleh, ketika Fawaz mengejarnya. Ia tetap pergi dan masuk cepat cepat kedalam taksi. Setelah tiba masuk kedalam taksi, meminta supir terus berjalan dengan cepat.
Fawaz yang merasa khawatir, ia segera meraih mobilnya dan berusaha mengejar Hanum. Tapi sayang, kecepatan mobil yang Hanum tumpangi sangat cepat. Belum lagi Fawaz harus bertugas dengan pasein vvip.
Hanum mencoba tenang, ia berusaha lebih tenang agar Alfa tidak lagi membuat hatinya semakin sakit. Hanum tau, jika ini adalah konsekuensinya karna tak menuruti perintah Jhoni. Hanum yakin jika Alfa dalam pengaruh tekanan.
'Alfa! andai kamu berterus terang, kita bisa jadi teman baik jika kita berpisah. Tidak harus menyakiti seperti ini.' deru batin Hanum.
Berbeda dengan Lisa.
Hanum sudah sampai di rumah, ia pamit ke kamar. Meski begitu, Lisa yang khawatir ia segera mendekati Hanum. Meski Hanum masih menangis dalam pelukan Lisa, akhirnya ia segera menceritakan beberapa jam lalu.
Lisa membiarkan Hanum di kamar, setelah meletakkan buah, roti panggang dan susu hangat untuk Hanum di pagi hari. Dan saat yang tepat Lisa sarapan bersama sang mama dengan keadaan berbeda.
"Kamu masih mikirin Hanum?" tanya mama.
"Ini udah keterlaluan mah. Keluarga sekaligus sahabat mama dan papa begitu keji. Mereka melakukan segala cara, apa begini cara mereka memperlakukan kita setelah papa tak ada? Lisa kasian sama Hanum." jelasnya setelah sarapan mereka hampir habis.
"Lisa. Kita tak bisa berbuat apa apa, mama hanya berdoa. Kamu dan Hanum kuat ya. Mama masih punya sebidang tanah untuk kita jual. Itu pasti cukup untuk kebutuhan kita, sambil mencari pekerjaan baru kan? Gimana kalau kita pindah dan jual rumah ini?"
"Itu bukan hal baik, ini satu satunya kenangan kita dengan papa. Termasuk mama."
"Tapi kita juga harus mikirin Hanum, semua salah mama dan papa. Karna perjodohan ini, kalian jadi sulit."
Lisa memegang dan mencium jemari tangan sang mama. Lisa meminta sang mama sehat saja sudah cukup bagi Lisa dan Hanum kuat menjalani kehidupan.
Tak begitu Lama, Hanum keluar dari kamar dengan wajah sembab.
"Kamu mau pergi kemana Han?" tanya Lisa.
"Mah. Kak. Aku mau ke mbak Nazim, sekaligus ada tawaran kerja. Hanum memang ga tau banyak soal pernikahan, apalagi cinta atau mencintai seperti kakak alami. Tapi Hanum hanya minta ka Lisa jaga mama, dan jangan khawatir. Hanum pasti cepat pulang."
"Janji sama kaka! ada apa apa hubungi kakak ya Han!" pinta Lisa, Hanum pun mengangguk.
BEBERAPA JAM KEMUDIAN.
Hanum yang dalam perjalanan, ia melihat mobil Fawaz ke arah rumahnya. Hanum abaikan, karna saat itu ia naik taksi. Dan tujuan hatinya sedang menatap untuk tidak memikirkan cinta.
Hanum sadar, ia yang mendengar mama dan kakak nya akan menjual aset peninggalan eyang satu satunya untuk bertahan hidup. Kini ia bulat untuk bekerja demi menghidupi mereka, sebagai kewajiban dan rasa bersalahnya.
'Jika Hanum menuruti kemauan paman Jhoni. Mungkin Lisa tak akan sulit bekerja. Belum lagi hubungan sang mama dengan mama Maria yang terjalin cukup lama harus hancur, karna perpisahan dirinya dengan Alfa.' batin Hanum.
SESAMPAI DI CAFE.
Hanum yang telah melihat meja Nazim dengan senyuman. Nazim memeluk Hanum, mereka bersapa dan erat makan bersama kali itu. Hingga beberapa puluh menit mereka menceritakan inti yang ingin Hanum tanyakan.
"Jadi kamu bener mau denger kisah Mbak. Han?"
"Its ok! ga masalah, itu hal lumrah kok. Kamu mau tau soal aku sama suami bule mbak?" Hanum mengangguk.
Flashback masa lalu Nazim, saat Hanum mendengarkan.
Nazim merasa deg degan saat akan melihat hasilnya, ternyata di sana tertera dua garis merah. Itu tandanya dia positif hamil. Nazim sangat senang, akhirnya buah hati yang diidam-idamkan selama beberapa tahun akan terwujud. Nazim dengan senang menunggu kedatangan suaminya untuk menyampaikan berita gembira ini. Siapa sangka sang suami malah datang bersama perempuan lain sambil bermesraan.
"Mas, Apa-Apaan ini." ucap Nazim sambil melepaskan tangan wanita itu dari suaminya.
"Apaan aku ini calon istri mas Dori jadi wajar kalau aku begini sama calon suamiku sendiri." tegas Vena.
"Mas...." Lirih Nazim pada Dori suaminya itu.
"Kenapa? Ada yang salah? Sini ikut!" Dori menarik tangan Nazim kasar dan membawanya ke dalam.
Ibu dan adiknya Dori yang mendengar kegaduhan memilih keluar kamar untuk melihat apa yang terjadi. Sekarang di rumah itu, mereka ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Nazim dengar! Mulai saat ini, detik ini, kamu Nazim Selvira kamu aku talak tiga. Dan mulai detik ini aku haramkan tubuh kamu untuk aku sentuh." Ucap Dori lantang.
Perkataan itu sudah menjadi pedang tajam yang menusuk hati Nazim. Wanita mana yang menginginkan penceraian itu terjadi.
"Tapi mas, kenapa? Apa salahku?" Sambil berderai air mata, tetap saja Nazim ingin tahu apa alasan suaminya menceraikan dia. Walaupun dia tahu pasti alasannya adalah wanita yang berada di sampingnya.
"Kamu masih bertanya apa salahmu hah. Kamu itu mandul, kamu gak cantik bahkan kamu itu miskin. Kamu disini hanya menumpang hidup kepada anak saya saja." Timpal Maryam ibu mertua Nazim yang sekarang berubah menjadi mantan mertua.
"Tapi mas, apa karna perempuan ini kamu sampai begini. Mbak seharusnya mbak sadar apa yang di lakukan mbak itu salah. Seandainya mbak di posisi aku! mbak juga akan merasakan apa yang aku rasa mbak. Mbak cantik, Mbak seharusnya mencari lelaki yang belum memiliki istri bukan malah mengambil suami orang?!" tegas Nazim.
"Silahkan pergi dari rumah ini gelandangan, kamu pasti akan kesusahan dan memohon untuk kembali lagi kepada anak saya. Sedangkan kamu kan disini tidak punya siapapun selain Dori. Tapi walaupun kamu nangis darah pun kita tidak akan terima kamu kembali." Kekeh sang mertua Nazim.
Dan saat perbincangan masalah Nazim. Hanum merasakan sesak, sampai hatinya sikap seorang pria merendahkan wanita dengan mudah.
"Ngerti apa yang mbak jelaskan sekarang?"
"Hanum ngerti, bagaimana pun kita memberi kesempatan. Tabiat pria akan kembali ke sifat aslinya atau wataknya. Makasih ya mbak!" ucap Hanum merengkuh tangan Nazim.
Tak lupa Nazim menyemangati Hanum, agar tetap semangat dan kuat menjalani masa proses cerainya dengan Alfa. Dan tetap menjadi pribadi wanita yang bisa mengubah takdirnya dengan keinginan dan impiannya.
Jelas benak Hanum, Nazim di talak dan belum sempat memberi kabar bahagia, jika dia hamil pada suami bulenya itu. Meski endingnya saat ini telah berdamai, dan Nazim luluh memberi tau yang sebenarnya tapi sulit untuk bersama menjadi suami istri. Hanya bisa sebagai orangtua utuh bagi Putri, anak dari Nazim.
"Tidak akan aku biarkan kita bercerai Hanum!" lirih tegas suara pria terdengar sangat gagah.
Membuat mata Hanum menoleh ke arah samping.
~ Bersambung ~