
Rico memutar plang nama, pada meja kerja kebesarannya. Saat ini ia kembali duduk di kebesaran market Marco. Belum lagi ketika berdebu, ia tiup dan menatap sekeliling tidak ada yang berubah. Menatap file pun sama saja, benar Alfa Jhonson ingin memiliki market Marco hanya untuk membuatnya bangkrut.
"Sudah selesai semuanya?" tanya Rico pada Erwin."
"Selesai, seluruh karyawan lama sudah di panggil ulang. Dan beberapa karyawan Alfa, sudah saya berikan surat pemberhentian sementara, saya sudah menjelaskan sampai pengadilan memenangkan dan menyatakan kita kalah. Maka mereka bisa bekerja lagi dibawah pimpinan Alfa."
"Baik, jelaskan juga. Jika ingin bekerja kembali pada wajah bosnya. Market marco, hanya untuk karyawan yang benar benar bekerja. Bukan hanya main main, segera bicara pada karyawan lama kita untuk kembali bekerja, sisanya membersihkan kerapihan seluruh market. Bicara pada mereka, jika mereka akan menerima bonus upah harian selama sidang marco selesai."
"Baik."
Seluruh karyawan lama di panggil, termasuk membubuhi tanda tangan kerja sama ulang, terlihat Dewi dan Vita bahagia karena mereka kembali bekerja. Mereka menatap seisi ruangan big boss, apakah ada Hanum.
"Vita, kabar Hanum gimana ya?"
"Udah deh, Dew. Mending kita pikirin masalah kita, udah syukur kita balik lagi kerja. Lagian Hanum yang dulu, udah pasti nyonya. Ga akan berbaur sama kita kita ini."
"Masa, mending aku tanya sama pak Erwin deh. Kamu mah gitu suka suudzon, kamu kan tau Vit, Hanum tuh udah berjasa banget. Please deh, ga mungkin Hanum sombong meski dia udah jadi bu boss. Liat aja pa Rico."
"Ya, pa Rico emang baik. Tapi nyuruh lewat pak Erwin."
"Vit, pak Rico itu dingin. Tapi cair dan manisnya sama Hanum. Mungkin menjaga perasaannya kali ya. Ish, seneng deh."
"Tau dari mana?" kepo Vita.
Alhasil Dewi mengeluarkan ponselnya. Ia bicara jika ia selalu chating dengan Hanum, lalu ia mengeluarkan sebuah foto sosial media pribadi Hanum. Dewi yang berteman dengan Hanum, membuat Vita iri.
"Uuch, aku baru tau. Kalau pak Rico mau foto dengan jubah kelinci warna pink. Hahahah." gelak tawa Vita, membuat orang di sekelilingnya menatap heran.
Alhasil Erwin mendeheum, hingga tepat mengambil ponsel Dewi dan menaruhnya di saku.
"Siapa yang memperbolehkan membuka ponsel di jam kerja, kamu tau peraturan ini kan?" ungkap Erwin menatap Dewi.
"Ba-baik pak. Tapi, aduh itu layarnya belum keluar lagi."
Belum menjelaskan, Erwin sudah pergi. Vita menoel siku Dewi untuk bisa lapang dan sabar.
"Lo sih, ngakaknya kegedean. Ngeselin lo Vit."
"Sory dew. Gue terhura soalnya, baru kali ini harga diri bos dingin jatuh juga, udah kemaren koleps bangkrut, eh harga dirinya juga sama istrinya. Hahaha, bener ya kalau punya suami mau banget di suruh suruh ama istri, semua suami selalu takut ama istri." nyerocos Vita saat itu.
Hingga mereka lupa aksi suara deheuman seseorang di belakangnya.
"Eheuuum."
Vita dan Dewi menoleh, yang disana sudah ada pak Rico yang menerima sebuah ponsel dari Erwin.
"Pak." serentak Dewi dan Vita menunduk.
"Ponsel kalian, atau ini punya siapa?"
"Dewi pak." cetus Vita senyum melirik Dewi.
"Ma-maaf pak. Itu benar ponsel milik saya,"
Rico mengembalikan, lalu bicara pada Dewi untuk kembali bekerja. Dan menonaktifkan ponselnya di saat bekerja.
"Baiklah, kalian kembali bekerja dengan baik. Jika ada masalah bicara dengan Erwin!" jelas Rico.
Rico melewati seluruh karyawan, meski ia sedikit menahan malu karena sang istri telah memposting fotonya di jejaring sosial media.
"Hanum, lihat sampai rumah. Mas akan beri hukuman kamu nanti malam." lirih Rico menyeringai gemas.
'Ah, melihat romantis Rico, kenapa aku ingin sekali berkeluarga. Sayang, Adelia menolakku, bukankah aku juga harus mencari pasangan. Agar hidupku berwarna.' batin Erwin yang dari tadi menatap Dewi, tapi ia sembunyikan pergi karena jujur ia sedang memikirkan hal lain, meski matanya ke arah Dewi.
"Dew, kok pak Erwin lihat kamu terus dari tadi. Pake acara senyum senyum lagi." bisik Vita, dan Dewi pergi bekerja dengan tersipu malu.
***
Villa Feli
Sementara Hanum, ia berada di villa Feli. Ia datang bersama Lisa. Mereka mengabarkan hasil usg dari dokter. Betapa bahagianya sang mama ketika kedua putrinya telah hamil. Belum lagi mertua Lisa yang bergembira mendengar menantunya hamil, otomatis ia akan mendapatkan cucu pertamanya.
"Mama seneng deh, kalian terus bersama ya. Dalam keadaan apapun!" ucap mama.
"Ya dong mah, itu pasti. Meski Hanum dan Lisa kadang seperti tom and jerry. Tapi kompaknya kami seperti Elsa dan Anna di kartun Frozen." senyum Hanum, memeluk sang mama. Belum lagi Lisa ikutan.
"Mah, tau gak?"
"Tau apa sayang."
"Dr, Feli bilang pas tau Lisa hamil, katanya kalau udah lahiran jangan kb. Banyak anak banyak rejeki katanya."
"Apaan sih kamu dek! kamu tuh, pasti Rico bakalan ga nahan. Dia bakalan minta jatah mulu, otomatis kamulah yang banyak anak nantinya. Gak lah, nunggu besar dulu kakak sih."
Eheuuum!! "Han, Lisa. Kamu bicara soal eheueem eheuuum, di depan mama? janda loh mama. Berteman guling aja?" goda mama membuat Hanum dan Lisa salting dan endingnya tertawa terbahak bahak. Kala sang mama juga ikut tertawa paling keras.
Hahahaha!! mama ada ada aja deh, maafin kami ya mah! serentak Lisa dan Hanum.
"Ya udah, udah siap nih mama. Takut keburu ujan nanti, kita ke makam papa. Sekalian bersihin dan kabarin papa, di alam lain kalau papa lihat kita mengunjunginya. Papa pasti bahagia."
"Ya mah, mama jangan sedih terus ya! Dan maaf kalau nanti Lisa ga bisa ajak jalan jalan lagi, karena Lisa lagi tekdung."
"Kak, ih. Koslet lagi deh kalau ngomong sama mama suka koplak."
"Heeee." nyengir Lisa.
"Udahlah, Lisa memang seperti itu. Bagus Fawaz mau sama kakak kamu Han." gerutu sang mama, membuat Lisa kalah telak membulatkan mata.
"Hahaha, syukurin. Gimana dapat jokes dari mama kakak tersandung." bisik Hanum, membuat Lisa cemberut.
Di perjalanan mereka seperti biasa, dengan supir yang mengantar. Tiba saja sebuah mobil di depannya berhenti. Hal itu membuat mereka kaget, seseorang turun membuat mata sang mama terkaget.
"Sony." lirihnya.
"Mah, mama bicara apa tadi. Manggil siapa?" tanya Hanum.
Mama Rita terdiam, ia juga bicara jika mungkin hanya salah orang.
"Pak, itu ada apa?" tanya mama pada supir.
"Kayaknya mogok, rem mendadak. Maaf ya bu, saya buat kaget!"
"Ya, gak apa apa."
Sementara Hanum dan Lisa ikut turun. Kala sang mama telah keluar dari dalam mobil.
Tbc.
Ayo, kira kira siapa ya yang di temuin si Mama? Author kepo deh. Heehee.