
"Ini apa pak Ray?"
"Kamu lihat aja, kalau kamu mau marah silahkan. Ruangan saya kedap suara, kamu berteriak dan membanting apapun sama saya. Tidak akan mendengar karyawan lain."
"Pak Ray sengaja kan, mau provokasi rumah tangga saya?" sebal Lisa.
"Lis, kita ngobrol sebagai teman sajalah! hanya kita berdua, aku kenal kamu dari merintis vloger. Hingga kamu tamat kuliah di paris, aku Lis yang selalu ada buat kamu. Kamu putus disakiti oleh mantan kamu, itu memang aku yang kasih tau. Agar kamu sakit hati di awal sebelum menikah. Itu semua karena aku solid sama kamu."
"Maksud kamu apa, dengan seperti ini kamu kasih tau aku, apa ini bukan yang namanya merusak hubungan rumah tangga orang Ray?"
Ray senyum kecut, ia tidak habis pikir Lisa bisa bisanya terulang lagi. Mencintai orang yang salah, jelas ia selalu menyikapi dari dulu jika ia tulus dan masih melajang hingga kini demi melihat Lisa bahagia.
"Aku ga bakal diam, kamu bisa cari tau sendiri. Suami kamu ada hubungan dengan vloger baru, Nestia. Aku ga sengaja liat dia Lis, aku ngomong gini karena aku mau kamu mutusin. Suami dokter kamu tidak setia, aku yang setia jadi partner kamu dari dulu, tapi kamu abaikan aku Lis."
Lisaaaa!!
Lisa terdiam, ia berdiri dan meminta Ray cukup untuk banyak bicara! "Cukup Ray, kamu dari dulu masih aja ya, selalu ikut campur. Tapi maaf aku ga akan percaya sama kamu Ray. Aku percaya sama suami aku, permisi!"
"Lis. Setidaknya kamu cari tahu.. Aaaargggh!" teriak Ray.
Lisa yang kembali ke ruangan kerjanya, matanya berlinang dan tertahan. Sehingga Sinta yang baru saja fotocopy menegurnya.
"Lo kenapa Lis, di pecat sama pak Ray?"
"Enggak, gue yang mau mutusin kerja kayaknya. Gue ga tahan, kenapa sih harus mas Fawaz. Huhuuu."
"Tu-tunggu Lis, maksud lo apa sih. Gue benar ga ngerti nih." kepo Sinta yang duduk.
"Enggak apa apa deh, gue aja yang lagi baper. Dah lah, lanjut kerja. Lo balik lagi ke bangku lo Sin, gue ga pengen di deketin!"
Diih! dasar aneh kamu Lis. Gerutu Sinta, ia akhirnya kembali ke meja kerjanya. Masih sering menatap Lisa yang aneh, sehingga ia menghubungi Hanum.
'Astaga, gue lupa. Hanum kan baru habis lahiran, kalau pas yang baca kepikiran jadi pendarahan, atau mamanya asma kumat. Bisa kena pidana gue?' batin Sinta, ia kembali menarik pesan untuk mengabarkan pada Hanum.
***
DI RUMAH.
Lisa begitu senang, kala mobil Fawaz sudah terlihat. Ia segera menyambut dan mengecup punggung suaminya, dan salam.
"Mas, udah pulang. Oh sini, tas nya aku bawain. Mas Fawaz mau makan apa?"
"Apa aja Lis, aku mau mandi dulu ya."
Lisa yang mengekor Fawaz, ia rasanya tak sabar ingin bicara jika besok ia cuti. Dan ada jadwal usg, ia mengelus perutnya dan menunggu Fawaz selesai mandi.
"Mas, udah aku siapin. Pakai piyama ini ya?"
"Aku mau keluar lagi, kamu ga perlu siapin baju aku. Aku bisa sendiri Lisa."
"Lisa. Mas kamu panggil aku nama, tumben mas?"
"Iy, emangnya mau panggil apa lagi sih. Nama kamu benar Lisa kan?" Fawaz mengancing kemeja.
"Mas. Aku minta maaf sekali lagi! kalau aku salah, tapi kenapa kamu ga punya waktu buat aku sih. Besok aku ada jawal usg.".
"Terus, aku harus gimana. Bukannya itu anak hasil dari Ray, teman vloger kamu itu?"
Cukup mas, kamu udah gila ya mas?! marah Lisa.
Glegar perkataan Fawaz, membuat Lisa tak percaya. Belum lama ini Fawaz terlihat baik baik saja dan manis.
"Mas, sadar ga sih. Setelah pesta pernikahan kita yang kedua, dan mama masih tinggal dengan kita. Semua baik baik aja, aku punya salah apa sama kamu mas?"
"Akan kemana kamu Mas. Aku percaya kamu masih terobsesi gila pekerjaan. Aku yakin sikapmu tak manis saat ini bukan karena wanita. Tapi karna tumpukan segudang tekanan dalam perusahaan kan?" tapi Fawaz mengabaikan pertanyaan Lisa, ia berlalu pergi. Bahkan makan malam saja belum sempat di cicipi, padahal kwetiau seafood sudah lama Lisa masak.
Lisa yang duduk tersungkur hanya bisa menatap langit langit kamar. Ia kemudian menghela nafas, ia kembali tersenyum ketika bayangan wajah Fawaz masih terlihat jauh di pelupuk matanya.
Semua memang salah aku. Aku lupa, jika kejutanku tak sesuai ekspetasi. Bukankah ini terlalu berlebihan, Haah Lisa, apa yang kamu pikirkan? Apa kamu memikirkan mas Fawaz akan membuat dirimu berada di ranjang dengan mesra setelah makan malam. Sungguh pikiran ironis seperti cerita novel, aku harus bicara sama siapa soal ini.
***
ESOK HARI.
Seiringnya Lisa melewati masa itu. Ia pun bertemu Sinta yang memang kisahnya tak jauh beda. Sinta menyendiri karena dikhianati dan tak ingin membuka hati.
Sinta menatap Lisa dan menggeleng kepala. Ia melihat sekeliling kantor yang masih Terlihat sepi.
"lis. Suami kamu udah itu ya?" bisik Sinta.
"Apaan sih kamu Ta,."
"Udah deh. Ngaku ajaaa .. soalnya tampang kamu melamun kaya gini bikin curigaaa .." teriaknya penuh goda.
"Sssst .. jangan gede gede suara kamu Ta!" menutup mulut Sinta. Masih menatap sekeliling kantor yang masih pagi.
Pasalnya Lisa malu jika sampai terdengar orang lain, karna pembicaraan mereka yang sangat sensitif menurutnya. Padahal ide kejutan semalam tak sesuai ekspetasi karena Fawaz kembali pergi, dan kali ini membawa banyak baju ganti.
"Keras banget sih. Lagian kan kamu dah sah, ngapain malu?" tanya Sinta.
Saat Lisa ingin berkata gemas pada sahabatnya itu. Tiba saja bibirnya terasa sakit dan tergigit.
"Auuuuwh .. Hiiis." meringis.
"Kenapa kamu Lis. Kegigit, duh itu tandanya ada yang kangen mau ketemu tuh. Pasti di omongin."
"Sok tau kamu Ta. Kamu mah kolot percaya hal hal begituan aja." tanya Lisa.
"Ta, kalau kamu punya temen. Terus gelagat temen suami kamu itu mencurigakan, eeehm apa yang bakal kamu lakuin. Boleh ga sih, kalau temen aku itu buntutin suaminya."
"Temen suaminya, eh suami temen kamu. Serius ini bukan kamu kan?"
"Ya enggaklah, serius ini temen aku Sin."
Sinta mendengarkan Lisa bicara soal yang katanya temannya. Sehingga Sinta memberi ide pada Lisa, agar memberitahu temannya itu.
"Ajuin cuti aja, terus lihat ada bawa parfum. Anting, noda lipstik. Dan ikutin seharian suaminya temen kamu itu lah Lis, biar hatinya lega. Yang pasti, ga ada asap kalau suami ga minta jatah sama istrinya lebih dari dua minggu. Kaya kamu ini, lama kan di tinggal pak dokter. Giliran pagi kamu kerja, suami kamu di rumah sebentar. Ga ketemu ketemu tuh jadinya."
Mendengar hal itu, membuat Lisa terdiam. Tangannya gemetar dan berlalu pamit.
"Gue ke toilet dulu ya, pengen pepsi nih."
"Dih, kebiasaan bumil beser." gerutu Sinta, yang kali ini mengunyah kacang.
Sementara Lisa, ia mengunci kamar toilet. Menangis sejadi jadinya, ia lelah dengan tingkah Fawaz akhir akhir ini semakin menjauh. 'Apa ini ujian, yang harus aku lewati. Gimana kalau kabar di luar sana benar adanya. Mas Fawaz punya hubungan dengan pasien vvip?'
Lisa menahan agar tidak banyak menangis, mencoba menguatkan dan janinnya yang sedikit keram.
"Sabar ya nak! bunda pulang cepet. Kita sama sama ke dokter ya hari ini. Bunda juga ga sabar lihat kamu yang mulai aktif." mengusap perutnya.
Tbc.
Mampir juga nih, ke karya temen litersi Author keren. Yuks kepoin sambil nunggu kelanjutannya.