
"Suara wanita, tapi mas ga tau sayang."
"Mas, suaranya mirip Irene. Jika benar, kenapa dia bisa tau mas. Ada apa?" tanya Hanum.
Hanum mendengarkan suara terkesan genit, namun kode meminta bantuan. Delapan belas, cari aku! saya akan membayarnya dengan apapun! itulah pesan suara yang terdengar.
"Bukan sayang, ini bukan Irene. Tapi suara Belinda. Mas akan cari nomornya lewat group. Apa ada masalah?"
Hanum yang mengira itu suara Irene, ia menghela nafas dan menyibak selimut. Banyak keraguan dan kepenatan membuat Hanum merasa menggila. Bagaimana tidak, honeymoon mereka hancur karena seseorang datang tidak tepat. Aksi santai di pantai, berakhir berantakan juga karena perdebatan.
'Honeymoon macam apa, ada bisnis ada juga wanita masa lalu." deru nafas Hanum, yang berdiri meraih kursi meja hias.
Hanum menyisir rambutnya, ia segera memakai piyama dan wewangian. Lalu menatap Rico yang telah berganti pakaian rapih.
"Mas mau pergi, temui Belinda tadi. Semalam ini?" ketus Hanum.
"No! mas ingin bertemu Fawaz. Ini penting sayang,
"Bukannya Fawaz, udah pergi ya mas?"
"Mereka kan tiga hari. Kita besok pagi pulang, mas cuma mau kabarin soal Belinda. Belinda itu suka sama Fawaz. Tapi memang terlihat akrab karena dia teman satu kampus. Papanya sahabat papaku sayang, jadi kamu ga usah mikir aneh aneh ya!" jelas Rico.
Rico mengecup kening Hanum, ia segera menyibak selimut berusaha tidur. Sesaat Hanum melihat suaminya pergi sudah hampir satu jam, ia masih saja tidak tenang. Menoleh ke kiri, ke kanan tetap saja matanya tak bisa terpejam.
Hingga pesan suara, membuat Hanum terdiam dan berusaha tenang. Bermaksud mempercayai Rico dan tidak berlebihan dalam cemburu.
"Rasanya begini ya, kalau kita cemburu pada seseorang. Sakit, ga karuan. Tapi jadi ingat papa, waktu itu papa pernah cerita dan alami mungkin seperti aku rasakan saat ini." gumam Hanum.
Rico memberi pesan suara, ia juga mencoba video call pada Hanum. Sehingga aktifitasnya saat ini, ada dan bertemu Belinda di ruang private room, dengan beberapa klien. Membuat Hanum menatap dan mendengarkan melalui sambungan ponsel. Setelah jelas Rico memang benar tak berbohong, Hanum mulai mengantuk dan tertidur, masih mode ponselnya menyala.
Rico yang menyadari istrinya telah tertidur, ia masih on ponsel. Dan menaruhnya di saku jas. Bu Marta, Fawaz dan Belinda yang hadir turut serta mendengarkan masalah bisnis mereka yang sedang turun.
Setelah dari lombok, Hanum yang telah sampai di bandara soeta. Ia berniat mengunjungi makan sang papa. Rico masih mode menggandeng Hanum, masih berusaha menenangkan Hanum saat ini yang sedih teringat sang papa.
Dengan balutan serba hitam dan selendang menutupi rambut. Tak lupa kacamata hitam agar menutupi sinar matahari cahaya terik. Hanum dan Rico telah sampai di pemakaman. Mereka melangkah dan menaruh dua bucket tepat di kiri makam sang papa, serta makam sang nenek di sebelah kanan. Hanum berdoa dan Rindu akan kebersamaan semasa hidup.
"Papa, Hanum datang bersama suami Hanum. Andai papa saat ini ada, pasti kita lebih bahagia."
Rico mengusap air mata Hanum dengan sapu tangannya, sementara tangan satu lagi memegang payung, agar Hanum tak kena panas.
Hanum pun terdiam, ia meneteskan bulir air mata. Ia mengingat beberapa tahun silam.
Sakit jantung yang sudah lama papa alami, yang membuat keluarganya hancur, kehilangan sosok pelindung lebih awal.
"Jika papa sudah bahagia, maka Hanum juga bahagia. Papa tau, waktu Hanum menikah dengan pria yang Hanum cintai saat ini. Paman Frans yang menjadi wali. Adik ayah satu satunya, yang menjaga kita semua. Termasuk mama." jelas Hanum, masih mode menangis.
"Papa tau gak? sekarang keluarga papa, Hanum boyong untuk tinggal bersama mama. Kak Lisa juga sudah menikah. Lebih cepat beberapa minggu setelah itu Hanum. Ini suami Hanum, namanya Rico. Kalau papa ada, pasti papa mengenalnya. Dia baik, buat Hanum terpesona." senyum Hanum.
"Sayang, mas akan jadi pelindung kamu dan keluargamu juga! jangan nangis lagi, papa di sana pasti ga mau lihat kamu kaya gini. Aku paham apa yang kamu rasain saat ini, sama hal seperti mas yang lebih dulu kehilangan mama. Mas rasa, papamu dan mamaku bertemu di sana. Mereka juga merestui dan ikut bahagia!" jelas Rico membuat Hanum tenang.
Hanum yang berdiri melangkah, pandangannya sedikit kabur dan pusing. Ia melihat sang suami terlihat samar, dan sedikit lemah.
Hanum tertatih dan sedikit bersandar di pohon besar yang rindang, ia berusaha agar ia tetap bisa melanjutkan berjalan, tanpa Rico sadar.
Namun ketika itu pun, Hanum tak dapat menahan tubuhnya seperti tak bertulang ingin jatuh. Rico dengan kilat menggapai tubuh Hanum dan menyangga agar tidak jatuh.
"Sayang, kamu kenapa?" panik Rico.
Tbc.