BAD WIFE

BAD WIFE
KEDUA MISTERI



"Sinta, tunggu disini ya! bermalam aja dulu, Hanum akan kembali ke kamar. Sampai jumpa besok pagi."


"Ok Hanum, tenang aja." ucap sinta tersenyum, lalu kembali membaca diary Lisa


Saat ini Hanum menutup pintu, ia meminta suster merawat sang mama. Lalu mengecek dua bayinya yang kini sedang di asuh oleh dua perawat yang membantunya sehari hari.


"Mama udah baikan sayang?"


"Udah mas, kita masih harus tunda ke rumah kak Lisa. Mas soal market marco gimana? ada masalah ga?"


"Ga ada sayang, semua aman aman aja." senyum Rico yang melingkar dari balik punggung Hanum.


Hanum terdiam, ia menatap jendela yang tertutup rapat, lalu menoleh ke arah suaminya.


"Aku buatin sarapan ya! mas mau pakai kemeja apa hari ini?"


"Heuuumph! ada yang lebih mas inginkan, apakah sudah boleh mas meminta jatah?" lembut Rico.


"Mas, tapi bukannya aku ga mau. Aku masih takut jahitan, gimana aku usap punggung mas. Aku bantu yang tertahan ya?"


Mendengar itu, Rico langsung meremas gundukan Hanum, sehingga air susunya tumpah merembes pada daster. Hanum yang menahan kesakitan, ia merasa tertantang kala Rico sudah menyesapi dan membuka setengah dasternya dengan bergairah.


"Mas, aku masih takut."


"Baiklah, mas tidak akan sekarang sayang. Bantu mas ya!" Hanum mengangguk, ia mulai memegang sebuah mic Rico dengan tatapan terkejut.


***


Esok Harinya.


"Mas, maaf buat kamu cemas!"


"Ya, sayang. Tak apa, siang tadi kenapa tidak jadi pergi dengan Mama . Kamu sakit, kata Mama mas dengar dari Erwin Pms. Benar?"


Hanum terdiam, dengan penuh kecemasan. Ia ingin sekali bicara yang sejujurnya. Hingga di mana ia berbicara dengan hal yang membuat Rico tidak khawatir.


"Mas, aku tidak apa. Aku hanya sakit perut biasa. Aku sempat ke kolam renang, tapi aku pingsan dan aku sempat di tolong."


"Hah, kenapa ga kabari mas. Kamu tidak boleh sendiri lagi ok!"


"Ada mama, mbok dan bibi asuh. Tadi Ghani sama Ghina belajar berenang yang ketiga kalinya, tapi mungkin aku ga fokus mas."


"Lain kali kabari mas, sayang!"


Hanum mengangguk. Ingin rasanya ia bercerita lain. Tapi aksi Rico membuat Hanum terdiam, tangannya gemetar karena ingin menceritakan yang menolong adalah Alfa. Hanum ingin sekali bicara, agar kelak tak ada kesalahpahaman.


Rico meminta Hanum mandi air hangat. Ia telah menyiapkannya, Hanum menurut dan mandi sejenak berendam. Menghangatkan segala seluruh tubuh yang membuatnya stres hari ini luntur.


Kesedihan itu sedikit cemas. Kecemasan itu membuat dirinya tak bisa mengontrol.


"Aku, harus bicara dari mana. Apa aku harus memulai bertanya soal di parkiran vvip. Atau aku di tolong Alfa, lalu mengatakan itu apa mas Rico bisa terima?" benak Hanum.


Hingga di mana Hanum merehatkan sejenak. Setelah beberapa saat selesai, ia kembali mengambil handuk kecil untuk melingkarkan rambutnya yang basah. Tak lupa handuk piyama yang begitu saja telah membalut di tubuhnya.


Saat Hanum membuka pintu, ia berahli ke kamar ruang ganti baju. Setelah mengambil baju yang tergantung. Ia memakai dan berhias sebentar.


Hanum mencium aroma gosong. Kala itu, menuju dapur. Terkejut akan sebuh roti gosong telah menyala di atas kompor.


"Mas. Mas kamu di mana?" cemas Hanum.


Tak biasanya mas Rico pergi meninggalkan sesuatu ketika masih menyala. Hanum mematikan, hingga di mana ia mencari keberadaan suaminya. Ia berteriak, memanggil mama, kedua bayi dan pengasuhnya juga tak ada dirumah.


Namun sebuah ponselnya begitu saja ada. Ia terkejut. Namun sebuah ponselnya begitu saja ada. Ia terkejut foto itu terpampang foto dirinya tadi, dan Alfa. Saat Hanum melihat apa benar itu ponselnya yang hilang.


"Sebuah paket, lalu isinya ponsel dan foto. Apa? Mas ... Mas Rico kamu di mana!!!" teriak Hanum semakin panik dan cemas. Ia berlari kebawah masih mode memakai pakaian rumahan.


"Harusnya aku bicara tadi. Agar kejadian seperti ini, mas Rico ga salah paham padaku." batin Hanum, ingin rasanya menangis.


Hanum masih menyusuri jalan. Namun sampai di loby ia masih melihat mobil mas Rico. Hanum berusaha mengetuk pintu mobil, lalu melihat di dalam mobil. Tak ada satupun, hingga di mana ia berusaha kembali naik ke atas.


Hanum kembali berlari ke atas tangga. Lalu dengan nafas terengah engah. Ia melewati tangga dan mencoba berfikir jernih. Apakah semuanya akan baik baik saja.


Hanum membuka pintu yang masih terbuka, ia lupa jika saat keluar. Ia tak menutupnya. Hingga ia meraih ponselnya di atas meja. Hanum mencoba menghubungi mas Rico. Tapi ponselnya terdengar ada di kamar. Hanum kembali berputar di dalam ruangan tapi tak ada tanda jika mas Rico ada di dalam rumah.


"Mas, kamu di mana sih?" Hanum menjambak rambut. Kesal dan masih menangis.


Hanum berusaha tenang, namun ketika ia mencoba menghubungi Erwin. Tak ada satu pun panggilan yang aktif.


Hingga saat pintu terbuka lebar dengan bunyi mengagetkan. Ia menoleh dan berteriak takut


"Aaaakhgh. Mas, ada apa ini. Kenapa tanganmu berdarah?" panik Hanum.


"Erwin. Kenapa dengan mas Rico?" tatapan Erwin hanya diam.


"Maaf bu. Sebaiknya bapak di obati dulu. Karena saya takut, jika kelak infeksi."


Hanum membantu merebahkan, namun sikap Rico membuat Hanum terkejut. Mas Rico yang ia kenal kini dingin tak ingin menatap padanya.


Hanum mencoba berfikir tenang, ia lalu mengambil satu kotak obat. Lalu mengambil alat kompres. Hanum mencoba meraih tangan mas Rico. Namun ... ia cukup terkejut.


"Erwin. Tolong ambilkan air hangat. Aku bisa memperban sendiri. Setelah ini kamu bisa pergi Hanum!"


Hanum terdiam pasi. Ia masih menahan air mata. Sudah pasti, mas Rico melakukan hal sesuatu yang tak ia ketahui. Bahkan ia saja cukup kaget, kala fotonya terpampang ditolong oleh Alfa.


Hanum masih yakin jika Rico sengaja membuat hancur. Karena ia tak ingin kembali dalam alasan apapun.


"Jika aku jadi mas Rico. Menerima paket dan isinya ponsel ku yang hilang. Dan terlihat fotoku dan Alfa. Sudah pasti ia akan marah."


'Aku bodoh harusnya aku berterus terang sebelum mandi. Aku harusnya ga tinggalin mas Rico di luar. Aku terlalu lama mandi, jika aku yang melihatnya duluan. Mungkin tak akan seperti ini."


Perkataan Hanum dalam hati. Membuatnya semakin kacau. Ia cukup sedih kala mas Rico mendiamkannya. Mungkin butuh waktu mas Rico meresapi akan semua yang terjadi.


Hanum menutup pintu. Kala Erwin telah berpamitan. Ingin sekali Hanum mengejar Erwin dan bertanya. Tapi ia tak kuasa dan ingin langsung bertanya pada suaminya itu.


"Mas, setidaknya beri aku penjelasan. Tapi jika tidak, ijinkan aku mengobati memar di belakang punggung mas!"


Rico diam, lalu ia menatap Hanum dengan penuh amarah. Namun seperti tertahan dan Hanum cukup jelas melihat tatapan suaminya itu.


Hingga Hanum menahan rasa sedih itu, dan cukup untuk membuatnya menahan rasa sakit. Ia mengoles dengan sebuah kapas ke punggung mas Rico dengan perlahan.


Obat merah itu telah sempurna. Saat Hanum menutup dan meletakkan obat merah. Ia langsung terkejut kala mas Rico akan berdiri.


"Mas, jika aku salah. Aku minta maaf! aku tidak jujur karena takut kamu berfikir bukan bukan. Kemarin aku di tolong oleh Alfa, dia sudah berubah. Dan murni hanya menolong saja. Banyak saksi mas, hanya itu aku jujur!"


Rico tak kuasa menahan marah terlalu lama, ia mendekat ke arah Hanum. Menatap kedua bola mata istrinya penuh kejujuran.


"Kali ini mas maafkan, tapi kamu harus mendapatkan hukuman. Tanpa menolak lagi!"


"Apa mas, aku mau. Aku minta maaf, aku janji sama mas. Aku ga akan menyembunyikan sesuatu lagi. Dan ..aaaaakh!"


Hanum terkejut kala seluruh pakaian dalamnya sudah terlepas dalam itungan detik.


"Mas, mau apa?" lirihnya.


"Menghukummu!"


Tbc