
Hari ini Hanum dan Rico kembali memutuskan mencari rumah baru. Rumah kediaman papa Mark saat ini sedang dibangun menjadi sebuah istana untuk losmen yang akan di sewakan. Karena kediaman papa Mark sangatlah luas, dan jarang di tinggali. Maka Rico akan membuat sebuah bangunan masjid di sampingnya, untuk menjadi investasi.
Hanum dan Rico memutuskan mencari rumah baru, karena kediaman villa Feli tidak mungkin selamanya mereka tinggal disana. Apalagi tante Felicia dan Fawaz kembali ke jerman untuk sebuah pengobatan dan pekerjaan Felicia sebagai dokter yang kembali berubah zona tempat, dalam beberapa dekade.
Dan kali ini mereka tetap tinggal selamanya di jerman sampai waktu yang tidak ditentukan. Apalagi tante Felicia meminta Rico untuk menjual villa Feli untuk biaya pengobatan Fawaz yang terbilang tidak murah. Hal itu membuat Rico mencari rumah baru untuk mereka tinggal dengan anak anaknya.
"Mas, sepertinya rumah tipe besar di daerah pluit ini sangat besar. Tapi kita butuh banyak kamar bukan? apa ada yang sesuai nanti yang kita harapkan?"
"Mencari rumah itu sama hal seperti mencari jodoh, pasangan hidup mas dengan kamu Hanum. Jika kamar kurang beberapa, kita bisa sewa tukang untuk membangunnya. Mas akan cari perumahan di daerah ini dengan tanah lebih, jadi jika kamu suka. Mas akan membelinya, mas ga mau kamu banyak pikiran ya!"
Tak lama mereka sampai di perumahan pluit tanjung. Daerah ibu kota yang cukup padat, tapi ketika Hanum dan Rico dipersilahkan melihat sebuah tipe rumah edisi terbatas. Kavling dengan tipe 3000 meter, hal itu membuat Hanum dan Rico ingin melihatnya.
"Ini satu satunya tipe kavling paling luas pak! hanya ada tiga kavling seribu meter, dan tiga untuk tiga ribu meter. Keamanan disini juga sangat terjamin. Pengawasan ketat dan sangat privasi terjaga." ucap kepala rumah yang memberikan denah.
"Baiklah, saya akan melihatnya dulu. Terlebih saya mencari dekat dengan kantor, dekat sebuah sekolah kelak anak anak saya tidak terlalu jauh."
"Tepat sekali pak, boleh bapak lihat dulu. Saya akan menunjukan beberapa titik spot yang bagus, jika bapak ingin menambah design ulang. Kami punya beberapa kontraktor yang handle dibidangnya. Jika bapak suka dan ingin merubahnya jangan sungkan hubungi saya pak Reto."
Tak lama Hanum terdiam kala sebuah mobil yang sangat ia kenal. Hanum maju dan melihat rumah di sebrangnya itu. Sangat terkejut ketika ia melihat mbak Nazim yang tinggal di daerah ini.
"Seriuskah, itu mbak Nazim?" terkejut bahagia Hanum, karena sudah sangat lama ia tidak bertemu. Terlebih yang ia tahu terakhir ia berada di paris dengan usaha loundrynya. Dan Hanum yang menghampiri terdiam, kala Nazim sedang beradu bicara pada seorang pria.
'Bagaimana bisa, adakah seorang pria yang bisa mengarungi mahligai komitmen untuk seumur hidupnya, menyatukan kasih namun tidak sesuai yang di harapkan?'
Nazim masih terdiam, ia masih tak bisa menjawab. Bibirnya tipis terkatup bergetar, namun tatapan Erwin membuat wajahnya mendongak, dan menatap lebih dalam.
"Aku tidak perlu masa lalumu untuk berkomitmen, tapi maukah kamu untuk bisa menerima dan memberi kesempatan, aku ingin kamu bisa menganggumi dan mengetahui tulusnya aku padamu Nazim?!"
Erwin dari jauh, ia amat menyesal. Jika tau dari awal, perasaan Nazim sangat dalam. Mungkin ia tak akan memutuskan, di tambah dengan sosok pria jangkung yang terpesona akan Nazim. Ia kembali melangkah dan pergi setelah melihat kebersamaan dua pasangan yang membuatnya iri. Nazim pernah menyesal karena ia melihat Erwin meminang Adelia, dan Nazim menghindar serta tau diri.
"Aku tidak tau, tapi apa aku bisa Erwin?" lirih Nazim menatap dalam pada pria yang ia benci.
"Beri aku waktu, dan beri tau aku. Apa yang kamu benci dariku, sehingga kamu terlihat jijik jika bersamaku?"
Pertanyaan Erwin, membuat Nazim terdiam. Ia hanya bisa lemas dan duduk lalu merenung flashback ingatan masa lalunya. Entah dari mana, Nazim tiba saja mengingat masa lalu itu. Nazim memang menaruh rasa pada Erwin, tapi ia takut kegagalan seperti suami pertamanya dahulu, meski ia tahu Erwin tidak jadi menikahi Adelia.
'Dari mana aku bisa membuat dirimu beruntung, entah aku yang beruntung atau aku merasa malu.'
Nazim pergi dan menangis sesenggukan seraya menangkupkan wajahnya di atas kedua lutut yang tertekuk. Ia seolah ingin menyerah sebelum permainan usai. Dia lelah. Bukan karena dia tidak dicintai oleh Erwin. Dia pun sadar akan hal itu. Dia sepenuhnya tahu bahwa cinta Erwin terlihat tulus hanya untuknya.
Ada yang lebih menyakitkan dari pada hal itu, yaitu sikapnya terkadang berubah. Nazim hanyalah seorang wanita yang sudah mempunyai anak dari masa lalunya, jika ada yang serius padanya. Maka ketakutan, kegagalan dan tidak menyayangi anaknya adalah hal menakutkan.
Hanum segera menghampiri Rico, yang terlihat saat itu. Lalu mendekat dan berbisik pada suaminya.
"Mas, lihat di kavling sebelah. Ada mbak Nazim. Mas masih ingatkan sahabat aku. Tadi aku mau hampiri, tapi ada Erwin. Apa Erwin tidak ke kantor hari ini? aku kaget, kok Erwin kenal sama mbak Nazim, aku ga pernah dengar mereka sedekat itu."
"Nazim, ya mas ingat. Tapi mas tidak tahu soal privasi Erwin sayang. Erwin memang sedang santai, dan mas sedang meminta dia bertemu seseorang di daerah tanjung. Nanti kita tanya saja langsung ya. Mas juga ga tahu, kalau Erwin ada di sekitar kavling sini."
Hanum dan Rico ingin sekali menghampiri Erwin dan Nazim. Tapi sayang saat itu mereka kehilangan jejak. Hanum juga tidak begitu tahu, apakah rumah di depan ini kediaman mbak Nazim, yang jelas saat itu Nazim dan Erwin berdebat di pertengahan pagar dua rumah.
"Sayang besok kita cari tahu lagi, mas takut kita salah rumah. Bagaimana jika rumah ini bukan kediaman Nazim."
"Iy mas, Hanum rasa begitu. Kita tanyakan nanti ke Erwin saja." senyum Hanum, yang menggandeng eratan tangan Rico.
KEDIAMAN HANUM.
Sementara itu, Rico kini sudah berada di kamarnya bersama Hanum. Mereka duduk bersama di atas ranjang sembari mengobrol. Bersama dua bayinya dalam ranjang bayi besar. Termasuk Azri dalam dekapan ranjang bayi di sebelahnya yang sedang tertidur pulas.
“Kapan kamu pulang Mas, kalau besok mas Rico jadi ke paris?” tanya Hanum seraya menyandarkan kepalanya di bahu Rico.
"Mas akan pulang secepatnya sayang! mas ingin kamu juga ikut. Tapi kamu dalam keadaan hamil muda, juga bayi kita masih kecil. Mas minta maaf ya!"
"Mas kan pergi bekerja, jadi Hanum tidak mungkin melarang mas. Hanya saja Hanum rindu kalau mas Rico sehari tidak pulang."
"Mas juga sama akan merindukanmu Hanum." kecupnya.
Saat ini, ketiga bayinya sedang tidur dan di awasi oleh mereka. Tak jauh dari ranjang kasur king size.
"Tiga hari kemungkinan mas akan meninggalkanmu, doakan market mas disana berjalan lancar ya." Rico menatap dalam.
"Iy mas, Hanum akan selalu mendoakan mas Rico sehat, keselamatan dan dilancarkan dalam usaha mas untuk keluarga."
Tak lama, saat Hanum dan Rico sudah membaringkan diri bersama. Bayi Ghina menangis, dilanjutkan dengan bayi Ghani, dan Azri yang serentak bagai paduan suara.
Eeeeeaaaa!!
"Oh sayang, kamu bangun semua. Apakah kamu semua tidak rela, jika papa mencuri mama sebentar saja." senyum Rico yang mengambil botol susu, sementara Hanum membantu menghangatkan dua botol susu.
Tbc.