
"Hanum sayang, kamu mengenal Fawaz. Kalian saling mengenal?" tanya Maria, membuat mata Hanum membulat dan menatap bawah.
"Tante. Dia teman baik waktu masih sekolah. Beberapa kali kita bertemu juga saat papa di rumah sakit." jelas Hanum.
"Kita sahabat paman, bibi. Jadi kita keluarga, ga sangka ya." tambah Fawaz.
"Tepat sekali. Kami memang mengundang Fawaz karna dia keponakan kami Hanum." ujar Jhoni mertua Hanum.
Keponakan? pantas saja, Fawaz berbicara sangat erat dan tak canggung. Sementara Lisa memperhatikan Fawaz yang dari tadi duduk dan memperkenalkan dirinya saat ini. Ia juga bicara berpisah dari Hanum saat kepindahan ketika sang papa tiada. Ia beelajar di swedia dan tinggal bersama mamanya.
"Swedia? mama. Bukankah itu kediaman mama kita?" lirih Lisa.
"Ya benar, kota apa kamu tinggal Fawaz. Pantas saja, melihat kamu waktu di rumah sakit ga asing. Ternyata kamu yang sering bermain dan mengantar Hanum. Mereka itu ga pernah absen tiap pulang sekolah, selalu bawa ceker ayam lo jeng." senyum Rita pada Maria menambah. Fawaz pun senyum menjawab pertanyaan mama Rita.
Seolah Fawaz dan Hanum berhadapan saling terdiam, ia kembali diingatkan oleh masa itu yang membuatnya benar benar terbawa senyum. Sementara Lisa memperhatikan gerik wajah adiknya itu. Lisa mengagumi Fawaz tapi ia juga pasti tidak mungkin menyukai pria dibawah umurnya. Tapi keadaan Hanum sudah berlebih, kala mertua sedang sibuk mengobrol sementara Hanum dan Fawaz mencuri pandang bak salah tingkah.
"Han, kamu ga panggilin suami kamu?" tanya Lisa seolah jealous.
"Su-suamiku. Owh, Ya! Alfa tadi sedang tidur. Hanum juga baru tau kalau saat makan seperti ini. Dia malah memilih minum, Hanum rasa lebih baik membiarkan dia di atas sampai sadar."
"Ooooowh." Lisa kembali mengambil desert.
"Benar sekali, jika Alfa sedang seperti tadi. Biarkan dia beristirahat, tidak baik kalau Alfa turun. Bisa mengacau nanti, hahaa."
Lisa menyempitkan matanya, dasar mertua tidak peka. Masa aku saja yang tidak asik diajak ngobrol. Jika bukan karna menemani mama, aku lelah tak ingin mampir. Lagi pula dirinya saat ini sedang jomblo. Sehingga saat itu juga, Lisa pamit keteras halaman.
Ia ingin mengaktifkan notif menyala untuk penggemarnya. Setelah makan bersama, hampir selesai. Rita berbicara dengan Maria, Jhoni berbicara sedikit ke ruang kantor bersama Fawaz. Hanum terdiam, ia juga memperhatikan seluruh bingkai foto keluarga di kediaman keluarga Jhonson.
Hanum juga melihat Lisa yang menyalakan notif selebgramnya. Sehingga Hanum ikut melihat aksi sang kakak yang menyapa penggemarnya. Hanum kembali melihat sebuah foto menarik yang ia lihat.
Dua pria jangkung yang benar saja itu adalah mirip Fawaz. Dan satu lagi pria gendut yang terlihat Alfa. Hanum sedikit tertawa, benar saja Alfa memang gendut saat kecil. Berbeda dengan dirinya saat itu sangat ideal. Namun ketika frustasi kehilangan seseorang berharga membuat nafsu makannya bertambah. Jika seseorang stres akan tidak nafsu makan, maka Hanum sebaliknya. Sehingga saat bobot besar ia sadar, sangat sulit dan mati matian untuk proses kembali ke semula.
Hey semua! Lisa lovers. Yuks lihat kegokilan dan kesukaan tempat yang kalian suka. Kalian ada yang tau gak, aku dimana? Lisa menyapa penggemarnya, lalu terlihat mata Hanum kala kakaknya itu memutar mutar lokasi kediaman rumah mertuanya dengan ponsel.
Hanum terkejut kala seseorang tepat berada dibelakangnya.
"Sedang apa?"
"Haah!" teriak Hanum menutup bibirnya.
"Istriku, kamu sudah seharusnya istirahat. Aku menunggumu!" senyum Alfa menyilangkan poni ke arah belakang telinga Hanum.
"Jangan macam macam!" bisik Hanum.
Bisa saja ia mendorong Alfa dengan kasar. Tapi terlihat cctv kediaman mertua Hanum. Belum lagi arah berlawanan, Fawaz dan papa mertuanya datang melihatnya. Tentu saja ini permainan Alfa yang membuat Hanum kalah telak.
Alhasil Hanum segera memutar pikiran, tidak ingin terus terusan kalah. Ia menyumbingkan senyuman dan mendekat ke wajah Alfa. Seolah pernikahan mereka memang baik baik saja.
"Apa kau sengaja, mengalihkan hubungan kita yang rumit dan berdebat. Mencoba mendapat perhatian jika papamu benar benar tau, jika kita baik baik saja?" bisik Hanum.
"Tentu, kamu tidak akan bisa bercerai dariku Hanum. Sampai tujuanku berhasil." senyum licik kembali Alfa bebrisik, tak lupa mengeluarkan lidah yang menempel ke ceruk leher Hanum yang seputih susu.
Sssssh! kau, benar benar menjijikan. Cetus Hanum berusaha menggeser tubuhnya. Lalu menoleh kala mertuanya dan Fawaz tiba dekat.
"Heuum! papa tau kalian tidak tahan, sebaiknya lakukan dikamar saja!" senyum Jhoni.
"Yah! kami akan melakukannya, demi keinginana papa. Kita pasti akan membuat rumah ini penuh dengan banyak tawa anak kecil pah!"
Al! Hanum sedikit mengecilkan intonasi suaranya. Tak ingin membuat mama mertuanya dan sang mama mendengar ucapan kasarnya. Hanum mengalah, dan terus membuat perhitungan balasan untuk Alfa seorang players. Hal itu terlihat sang mama dibelakang Fawaz ikut menghampiri.
"Sudah larut sayang, Hanum tidurlah. Ajak suami kamu istirahat!"
"Baik mah! Hanum pamit."
Sementara Hanum tak enak hati, melihat Fawaz yang sedikit kaku kala melihat Alfa bersikap baik. Mungkin Fawaz tau siapa Alfa, tapi jika ia tau. Kenapa Fawaz tak mengadukannya, hingga benak Hanum saat ini penuh dengan banyak hal.
Sesampai dilantai dua, jauh dari tatapan keluarga. Alfa menarik tangan Hanum dengan kasar, lalu memperingati Hanum kala tubuhnya bergeser ke dinding. Tentu saja tembok pembatas itu tidak ada cctv. Saat Hanum melihat ke sekeliling. Ia baru yakin dan mendorong tubuh Alfa.
"Lanjutkan saja taktik murahan mu itu Alfa! aku tidak akan terbuai meski kamu menggunakan cara membuat aku jatuh cinta."
"Heeh! benarkah? Apa kau yakin bisa bertahan dariku. Yakin tidak akan jatuh cinta padaku?"
"Tentu saja aku tau, papamu akan mencoret namamu dari list keluarga dan warisan. Juga aku tau, kau sedang membuat hidup kita siapa yang bertahan kan?"
"Good! yang meminta cerai, dia akan kalah!"
"Ga mungkin, Papamu akan mencoret nama kamu setelah melihat video dirimu dengan Irene. Mungkin masih banyak hal lain, jelas aku menantangmu Alfa Jhonson." senyum puas Hanum.
Alfa menipiskan bibirnya geram. Tatapan lelaki itu dipenuhi kobaran api yang membuat Hanum ketakutan. Namun, Hanum tak mau menyerah begitu saja. Dia menepis cekalan Alfa. Kendati cekalan Alfa benar benar kuat dan membuat kulitnya memar.
"Lepasin tangan gue, Alfa!" desis Hanum kelepasan menjerit.
"Lo bakal tersiksa di tangan gue, Hanum!" ancam Alfa melotot, tak mau kalah ketika Hanum berkata bukan lagi memanggilnya halus.
Hanum tidak tahu definisi 'tersiksa' itu seperti apa. Apa dia akan dibunuh? Sedang memikirkan kemungkinan terburuk, tiba tiba Alfa membopong tubuhnya dan masuk ke kamar, juga melemparkan Hanum ke atas ranjang.
"Lo gila!" maki Hanum, menahan sakit di bagian perutnya.
"Gue bakal ingetin lagi kejadian 501, biar otak sialan lo itu ngerekamnya dengan bener!"
Saat Alfa tengah menikmati raut marah Hanum karena kemejanya dirobek, pintu dibuka oleh seseorang. Suara pintu yang berderit membuat Alfa dan Hanum membeku, kemudian menoleh bersama sama.
To Be Continue!!
Next, tunggu kelanjutannya di hari yang sama ya all.
Sambil nunggu ketegangan Hanum, yuks mampir karya litersi temen Author. Silahkan mampir ya All!
Sambil nunggu bab kelanjutannya Hanum Baca juga karya author.
- Story Halwa dan Zalwa
- Pernikahan kedua
- Dady Danzel
- Wanita Seperti Dia